26. Comeback

45 7 0
                                        

PUKUL 14:10. Sebaiknya Askara berangkat sekarang. Ia memasukkan ponsel ke saku depan celana, lalu meraih trusty cane untuk membantunya berjalan usai tanpa bantuan kursi roda lagi.

Baru saja Askara hendak menarik hendel pintu kamar bersamaan selayang pandangnya menjurus sesuatu yang ganjil di antara barang-barang yang ada di atas meja konsol dekat pintu. Urung sejenak keluar kamar, sebuah buku novel telah berpindah dari book end ke tangan Askara sekarang ini.

Askara tidak pernah ingat menaruh buku novel itu sebelumnya. Cuma satu yang ia yakin, novel karya Cahaya Rembulan itu sangat suka dibaca ibunya semasa hidup. Pertanyaan Askara, kenapa versi cetak novel tersebut bisa ada di kamar bekas ibunya ini?

Askara tahu betul ketika dulu ibunya berlangganan membaca karya tulis tersebut, Cahaya Rembulan masih memublikasikannya dalam versi digital. Askara tidak mungkin salah, karena waktu itu ia sampai harus membuat akun alter hanya untuk mengerjai sang penulis yang membuat ibunya lebih peduli pada bacaan roman picisan tersebut ketimbang dirinya.

Aksi kekanakan Askara dalam mencari-cari kesalahan penulis receh itu sangatlah mudah. Jempol tangannya tak henti menyerang kotak masuk Cahaya Rembulan dengan membeberkan kekurangan novelnya dari A sampai Z. Ditambah cara penyampaian Askara yang terkesan mengandung berkarung-karung cabai rawit, membuat siapa pun yang membaca kritikannya berpotensi kena mental seketika. Semakin Cahaya Rembulan terpancing menanggapi komentarnya, semakin Askara bersemangat mengegas ketikan jarinya.

cahayarembulan
Kalau nggak suka, nggak usah baca!

cahayamalam
Kalau nggak siap dikritik, ya, nggak usah sok jadi penulis!

Setelah komentar panas terakhirnya itu, selang sebentar kemudian Cahaya Rembulan menuliskan status hiatusnya dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Perasaan bersalah mulai datang menghantui Askara. Niat awalnya yang sekadar iseng malah berbuah kelewatan. Ia juga menyesal telah menamakan akun alter itu dengan Cahaya Malam yang mewakili mimpi besarnya dalam karya seni untuk sebaliknya justru menjatuhkan mimpi orang lain.

Askara sudah mencoba melayangkan pesan pribadi permintaan maafnya, tetapi belum kunjung dibalas. Malam sesaat sebelum dirinya tertimpa kecelakaan mobil itu, Askara kembali mengulang permintaan maafnya, kendati ia tidak yakin kapan pesannya akan terbalas.

Empat tahun berlalu seperti sebuah karma, Askara menghabiskan masa-masa hidupnya pasca kecelakaan itu dalam ruang depresi yang merenggut habis titik cahaya impian serta orang-orang terkasihnya. Askara diam-diam menengok kabar Cahaya Rembulan yang telah sukses menerbitkan trilogi novelnya di saat Askara sendiri tetap terpuruk dengan rasa tidak percaya dirinya memegang kuas dan palet lagi. Cahaya Rembulan yang semakin bersinar, sementara Cahaya Malam tenggelam dalam redup.

Askara masih bertanya-tanya, kenapa semua serial novel Cahaya Rembulan itu bisa ada di vilanya? Tidak masuk akal jika ibunya yang membeli, sementara novel-novel itu diterbitkan pada tahun-tahun setelah ibunya meninggal. Lalu, siapa orang yang menaruhnya di sini? Vila kontena ini hanya diketahui oleh dirinya, ibunya, Pak Ginanjar, Mbok Jum, dan ... Ageng.

Benar, Askara ingat pernah membawa Ageng ke vila ini. Apalagi di kamar ini juga Ageng pernah berganti baju. Namun, ia yakin Ageng tidak ada kaitannya dengan keberadaan buku novel itu. Jadi, pasti ada orang lain lagi yang mengetahui betul cara memasuki vila. Siapa?

Bagaimanapun vila ini selalu dijaga oleh Pak Ginanjar. Mungkin Askara harus menanyakannya pada Pak Ginanjar nanti.

Beranjak keluar, Askara mencari-cari Mbok Jum yang ternyata berada di dapur. Tak ketinggalan, ada juga Raki si kucing banyak akal yang masih kepo mencolek-colek sisa tetesan air dari kran bak cuci piring.

"Mbok Jum mau masak? Saya, kan, udah bilang kalau Mbok Jum nggak perlu capek-capek begini," tegur Askara.

"Ndak apa-apa, Den. Simbok senang begini. Malahan kalau simbok ndak ngerjain apa-apa, rasanya seperti ada yang kurang. Simbok mau masakin makan malam. Tumis buncis sama perkedel jagung kesukaan Den Askara," sahut Mbok Jum yang tengah telaten memipil jagung.

Sungguh perhatian Mbok Jum tidak berubah dari dulu. Senyum Askara merekah. Ia senang masih bisa berada di dekat Mbok Jum, sehingga dirinya juga ingin selalu menemani masa-masa tua wanita berhati hangat itu.

"Oh, ya, ini Den Askara mau pergi menemui pembeli itu sekarang?" tanya Mbok Jum yang melihat Askara sudah kemas dengan setelan kemeja ciangi warna zaitun serta celana panjang beige.

"Iya, Mbok."

"Perginya diantar Pak Ginanjar, kan?"

"Saya naik taksi aja."

"Lho, kenapa? Pak Ginanjar ada halangan sampai ndak bisa antar?"

"Bukan begitu. Simbok tahu sendiri Pak Ginanjar juga punya pekerjaan di Sambara Stable. Gimanapun sekarang tempat itu udah di luar wewenang saya, jadi ...."

"Tapi, tugas utama Pak Ginanjar yang diamatkan Bu Erika adalah menjaga vila ini. Jadi, mau kapan pun itu Den Askara membutuhkan sopir di sini, berarti tugas prioritas Pak Ginanjar ada sama Den Askara. Lagi pula simbok bakal lebih tenang kalau Den Askara diantar sama Pak Ginanjar." Mbok Jum menegaskan melalui tatapan tidak ingin dibantah.

Percuma berdalih alternatif lain, Askara pun memaklumi untuk tidak menciptakan lebih banyak kekhawatiran di mata mengeriput itu. "Ya, udah, saya hubungi Pak Ginanjar biar jemput ke sini."

Mbok Jum mengusap-usap lembut bahu Askara. "Den, simbok senang sekali karya lukisan Den Askara bisa ditaruh lagi di pameran. Disukai banyak orang sampai syukur alhamdulillah ada yang menawar lukisan Den Askara dengan harga tinggi. Bu Erika pasti juga senang ruangan lukisnya bisa dipakai sama Den Askara."

"Semua juga berkat doa Mbok Jum. Makasih, ya, Mbok Jum."

Ya, rasanya hampir terlalu muskil bagi Askara memulai segalanya kembali saat harus menanggung rahasia kelam keluarganya yang ditebus mahal dengan kebencian Bagas. Namun, semenjak bertekad bangkit, ia telah berjanji tidak akan membuang-buang waktu berharga dalam hidupnya lagi dengan melakukan tindakan bodoh dan sia-sia.

Askara tahu jalan yang terbentang di hadapannya masih panjang. Pekan lalu tiga lukisan lanskapnya berhasil lolos proses kurasi. Lalu hari ini salah satu dari pembeli lukisannya tertarik mengajak pertemuan secara pribadi. Anehnya, pembeli itu meminta dirahasiakan namanya sampai menemui Askara langsung di lokasi yang sudah ditentukan.

Kafe Seruni.

Sebelumnya telah dikonfirmasikan bahwa Askara hanya perlu menuju meja nomor lima pada kafe bernuansa outdoor yang sudah dipesan untuk mereka. Di sanalah ia mendapati seorang laki-laki yang duduk membelakanginya pada salah satu kursi scandinavian kafe tersebut.

Rupanya pembeli awanama yang menawar karya lukisannya dengan harga paling fantastis itu datang lebih awal daripada dugaan Askara. Tanda tanya di kepala Askara akan segera terjawab begitu ia mendekati laki-laki yang tampak sebaya dengannya tersebut.

Jarak yang satu per satu terkikis, memicingkan mata Askara untuk semakin yakin mengenali punggung itu. "Alan?"

Laki-laki yang baru saja dipanggil namanya itu perlahan berbalik dan berdiri menyambut kedatangan Askara dengan bibir mengukir senyum setumpuk kerinduan. "Akhirnya aku menemukanmu juga, Askara."

SecretCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang