14. Topeng Sandiwara

311 47 9
                                        

MENELUSURI kembali penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki, Ageng yakin setelan outfit yang dikenakannya tidak terlalu buruk untuk tema jalan-jalan nanti.

Celana panjang denim, cek.

Kemeja tactical motif kotak-kotak merah biru, cek.

Rompi koboi, cek.

Sementara untuk alas kaki, ia memilih sepatu combat yang sempat dibelinya saat hiking ke Bromo tahun lalu bersama anak-anak Flamingo.

Ageng masih menunggu Askara di dekat kolam air mancur taman topiari. Kalau dipikir-pikir, Ageng baru sadar bahwa taman ala Eropa Kuno yang memiliki konsep geometris serta identik dengan seni pangkas menyerupai beragam bentuk objek itu adalah tempat mereka pertama bertemu. Saat itu Ageng membantu Askara menyingkirkan batu yang menghalangi kursi rodanya. Begitu pun saat Ageng mengajarkan Askara membuat ayatori bintang. Lalu sekarang Ageng memilih taman topiari untuk menunggu pergi janjian dengan Askara.

Saat ini sebuah sensasi dalam tubuh Ageng merasa tak sabar menanti kedatangan laki-laki itu. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan satu bilik khusus berisi detak jantungnya yang sedang palpitasi hebat sekadar untuk membayangkan Askara sudah ada di depan matanya. Oh, ia bingung apakah harus tersenyum dulu atau tanpa basa-basi langsung say hello sambil berlambaian tangan.

Ageng mengecek lagi pesan singkat yang tadi dikirimkannya pada Askara. Seketika matanya mengerjap. Pesannya sudah dibaca hampir setengah jam lalu, tetapi sampai sekarang Askara belum juga terlihat batang hidungnya.

Apa keterlambatan Askara ada kaitannya dengan mini cooper kuning yang sempat Ageng lihat terparkir di selasar depan rumah? Ageng yakin sekali jenis mobil unik dengan warna yang cukup mencolok itu tidak pernah ada dalam garasi Keluarga Wardaya sebelumnya.

Sayangnya, Ageng juga tidak bisa bertanya pada Pak Madun. Satpam itu tidak terlihat di pos jaganya. Jadi, Ageng hanya bisa menarik kesimpulan bahwa sedang ada tamu yang sekiranya datang ke rumah ini. Satu kesimpulan lagi, tidak mungkin itu tamunya Bagas kalau tuan rumah yang saat ini ada di dalam hanyalah Askara.

Ageng ragu harus tetap menunggu saja di taman topiari atau masuk untuk mencari tahu. Pintu samping dapur selalu dibuka. Sepertinya tak masalah jika Ageng masuk.

"Lho, Mas Ageng ngapain di dapur? Cari Dek Nur, ya? Sik-sik, bukannya Mas Ageng lagi libur, toh? Terus baju Mas Ageng itu ...." Tak sanggup meneruskan perkataannya, mulut Menur hanya dibiarkan menganga lebar. Matanya tak berkedip mengamati penampilan menawan sosok sopir muda itu. Bagai terjun bebas ke dunia anime, puncak kepalanya serasa turut dihujani ratusan stiker hati merah jambu.

"Nur ... Menur ...." Ageng sampai-sampai harus menjentikkan jarinya demi menyadarkan Menur yang mesem-mesem tidak jelas.

"Eh, iya, Mas Ageng ke sini ada perlu apa, toh?"

"Saya cari Mas Askara. Apa dia masih di kamarnya?"

Hujan stiker hati merah jambu seketika lenyap tersapu oleh pertanyaan itu. "Oh, jadi Mas Ageng cariin Mas Askara, toh."

Ageng mengangguk tanpa menghiraukan ekspresi potek Menur.

"Jangan sekarang, deh, Mas Ageng. Soalnya di dalam masih ada Mbak Irena. Dek Nur aja tadi sampai diusir pas lewat depan koridor kamarnya Mas Askara. Padahal, kan, Dek Nur mau bersih-bersih kamarnya," ujar Menur masam.

Kening Ageng mengerut samar. "Sebentar, Mbak Irena itu maksudnya tunangannya Pak Bagas, kan?"

"Yo, sopo meneh? Lha, yo, moso' tunangannya Mas Ageng? Terus nanti Dek Nur sama siapa, dong?"

SecretCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang