16. Mural Sayap Malaikat

254 39 17
                                        

JUJUR saja Ageng masih tak mengerti kenapa atmosfer di sekitar Askara dan Topan tiba-tiba berubah mencekam. Ageng juga tidak tahu apa yang sebelumnya dibisikkan kedua laki-laki itu.

Untungnya Topan segera pergi dan suasana pun perlahan kembali normal, kendati belum menghilangkan perasaan kurang nyaman di benak Ageng. Bahkan mulutnya mendadak tak berselera menyantap makan siang lagi sepanjang kurun waktu yang hanya terkikis oleh hening.

"Maaf ...." Askara buka suara.

"Maaf untuk apa?" tanya Ageng menatap laki-laki yang justru menekurkan kepalanya itu.

Askara tidak langsung menjawab. Setidaknya butuh waktu lebih dari tiga puluh detik sampai ia memutuskan, "Kita pulang."

"Tapi kita baru aja—" Ageng mengurungkan kelanjutan kalimatnya yang lantas ia ganti dengan helaan napas lirih.

Tanpa dikatakan, ia tahu kalau Askara juga menghadapi banyak rasa canggung oleh situasi mereka saat ini. Masalah memang sudah datang sejak pagi. Dari mulai Irena hingga pertemuan dengan Topan yang membuat Askara menjadi dua kali lipat lebih pendiam.

Ingin sekali Ageng bertanya tentang apa yang sudah terjadi, baik karena Irena maupun Topan. Akan tetapi, ia ragu jika hal itu bukan ukuran kapasitasnya untuk ikut campur. Akhirnya Ageng pun hanya turut diam laksana orang asing di depan Askara.

"Apa ini karena teman saya tadi? Apa dia terlalu maksa Mas Askara? Topan memang agak rese, tapi dia bukan orang punya niatan macam-macam. Biar saya tegur dia nanti kalau Mas Askara merasa terganggu," ujar Ageng diplomatis.

Kepala Askara menggeleng dua kali. "Bukan karena itu." Lagi, Askara menjeda demi mengangkat wajahnya yang kali ini tidak ingin menghindari kontak mata dengan Ageng. "Saya ... saya takut kamu merasa bosan jalan bersama saya."

Sekejap rona memerah di pipi Ageng serasa memiliki cerobong yang siap mengepulkan asap putih ke udara hanya dengan mendengar Askara sampai merasa bersalah padanya. Kalau begini, lama-lama kursi resto dudukan Ageng pun seperti bakal berubah menjadi tungku menyala yang membuatnya geliat-geliut salah tingkah.

Bungkamnya mulut Ageng membuat Askara terjangkiti perasaan salah tingkah yang sama. Benar-benar mati kutu. Askara ingin merutuki dirinya sendiri yang seolah kesusahan mesti berbicara apa lagi agar terbebas dari situasi aneh ini. Mustahil ia jadi kagok berbicara karena efek empat tahun lamanya menggembok rapat-rapat sosialisasi terhadap dunia luar. Atau perasaan ini hanya khusus pada siapa lawan komunikasinya sekarang?

"Iya, saya memang merasa bosan." Tercetusnya suara Ageng nyaris membuat wajah Askara memucat jika laki-laki itu tidak mendengar kalimat lanjutannya. "Saya merasa bosan kalau belum mengelilingi seluruh tempat ini."

Askara tercengang. Ageng menyengir lebar.

Ya, jangan sebut namanya Ageng Candramaya jika tidak tahu cara bersenang-senang. Ageng tidak akan lupa bahwa ia bisa berlibur di tempat ini berkat ajakan Askara. Di antara waktu yang ingin dihabiskan laki-laki itu, pilihannya telah jatuh pada Ageng. Sedangkan beberapa saat lalu Ageng justru mencuekinya. Jadi, mulai sekarang biarkan Ageng yang akan membuat Askara tidak akan melupakan momen liburan mereka ini.

"Simbok semakin yakin kamulah orang yang dikirim Gusti Allah untuk Den Askara. Kamu orang yang bisa membuat Den Askara tersenyum lagi."

Seperti kata-kata Mbok Jum tempo lalu, ada Ageng Candramaya sekarang yang akan membuka sepenuhnya gembok jeruji kesepian di hati Wengi Askara supaya laki-laki itu kembali bebas menikmati dunia luar.

"Kalau nggak mendengar dari Topan, saya mungkin nggak tahu kalau Mas Askara pemilik tempat ini," sambung Ageng sembari berdiri dari kursi dan menampilkan senyuman paling lebarnya. "Berarti sekarang saya adalah tamunya, kan? Dan tamu adalah raja. Sekarang raja punya satu permintaan. Ayo, jadi pemandu wisata saya."

SecretCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang