MEMULAI segalanya lagi dari awal tentu bukanlah sesuatu yang mudah. Akan tetapi, jika Askara tidak memulainya lagi dari sekarang, maka untuk selamanya ia hanya akan menjadi seorang pecundang.
Sudah cukup selama ini Askara terkungkung dalam jeruji tak kasamata. Menjalani empat tahun kehidupannya seperti mayat hidup yang hanya sibuk memikirkan kapan ajal akan datang menjemput.
Askara sudah berjanji akan bangkit, meskipun ia harus mengawalinya dengan susah payah merangkak. Maka, di sinilah Askara akan memulainya kembali.
Gedung D unit rehabilitasi medik Rumah Sakit Universitas Lentera Diwangtara.
Sesuai jadwal yang diterimanya, Askara sudah bisa melakukan fisioterapinya hari ini. Sesi anamnesis, pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan penunjang telah diikuti Askara bersama konsulen rehabilitasi mediknya.
Seorang terapis memberikan stimulus manual melalui pijatan jaringan lunak bagian tubuh yang akan membantunya untuk lebih rileks, termasuk melancarkan sirkulasi darah serta melemaskan otot maupun sendi.
Metode alat bantu intervensi fisioterapi berupa traksi spinal yang bekerja secara mekanik juga difungsikan untuk meningkatkan mobilisasi. Askara senantiasa mendengarkan orientasi yang disampaikan terapis berbaju scrub itu mengenai tujuan pelaksanaan serta manfaat penggunaan traksi.
Askara menyelesaikan terapi fisiknya hari itu dengan cukup baik. Di luar ruangan, rupanya Profesor Lesmono sudah menyambutnya seiring luapan rindu luar biasa.
Selanjutnya, Askara mengikuti ajakan mengobrol Profesor Lesmono. Kafetaria dekat taman rumah sakit itu menjadi tempat singgah mereka menikmati brunch. Mereka memilih area outdoor di mana pemandangan sungai kecil artifisial tepat mengalir di bawah decking yang mereka pijak.
Sungai kecil itu berhulu pada pancuran air bambu shishi odoshi khas Jepang sekaligus merupakan ikon nama taman yang konon mengukir sejarah cinta sang dokter jantung pendiri rumah sakit pendidikan itu bersama wanita berdarah Negeri Sakura. Sebutlah Taman Haruka sebagaimana diambil dari nama wanita Jepang tersebut.
Dari celah langkan kayu di samping mejanya, Askara masih mengagumi keasrian tumbuhan lotus yang terapung di permukaan sungai. Tak ketinggalan kawanan ikan koi dengan corak warni-warni khasnya saling meliuk lampai, seolah sedang bermain kejar-kejaran di bawah dedaunan lotus.
"Om senang kamu mau mengikuti fisioterapimu lagi." Profesor Lesmono tak menutupi senyuman lebarnya.
Sebaliknya, Askara hanya membalas dengan senyuman tipis. Pandangannya beralih pada secangkir teh kamomil yang masih mengepulkan uap. Sejenak aromanya yang menenangkan turut melingkupi penghiduan Askara dengan kehangatan.
"Tapi, sayang sekali kakakmu tidak ikut datang. Sejak tiba di sini, om belum sempat berkunjung ke rumah kalian."
Kali ini Askara mengangkat kepala ke arah pria berkumis chevron yang tengah menyesap tehnya tersebut. "Om Lesmono udah janji, kan, nggak akan kasih tahu Mas Bagas soal ini?"
Profesor Lesmono mendesah sambil mengangguk-angggukan kepalanya yang kini hanya ditumbuhi sebagian rambut. "Ya, om masih ingat. Om juga paham alasanmu. Bagaimanapun Bagas harus memikul tanggung jawab berat setelah kepergian Dipta. Om salut karena dia punya dedikasi tinggi untuk terus memajukan perusahaan peninggalan ayah kalian," gumam konsulen bedah saraf tersebut.
Pria yang juga berbalut snelli putih itu lalu berkata lagi dengan nada gurauannya, "Yah, tapi, siapa sangka kalau sebentar lagi Bagas akan menikah dengan Irena. Om pikir justru kamu dan Irena yang selama ini kelihatan dekat. Kalian teman satu sekolah sejak SD sampai SMA. Ke mana pun kalian selalu bersama. Beda sekali dengan Bagas yang lebih suka diam di kamar dan selalu serius belajar."
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret
Romance[ON GOING] New Adult | Religi | Romantic Drama Ageng Candramaya, seorang penulis novel platform digital yang karyanya telah dibaca jutaan kali. Kehilangan ide untuk cerita terbaru, membuat Ageng menerima tawaran berlibur dari sepupunya dengan harapa...
