"apa seorang penghianat pantas disebut sahabat?"
-chelsea-
"dari tuhan"
Plakk
Pukulan dari arah belakang memukul kepala Gilang.
"bisa nggak sih lu waras sehari aja, pantas jomblo mulu" Ryan mengambil tempat disamping Gilang dengan nampan ditangannya
"mendingan gua dari pada noh" menunjuk dengan dagunya kearah Devano, "si fakboy"
"Sandra pasti udah tenang disana.. Dan nggak bakal ganggu lo lagi" bisik Dafa pelan, mungkin hanya aku yang mendengarnya.
*
Sehabis dari kafe milik orang tua Dafa, kami berlanjut kerumahku. Ini bukan kemauan ku tapi mereka memaksa dan Gilanglah dalangnya.
"enak ya tinggal sendiri, pulang jam berapa pun kagak dicariin" kata Dafa lesu. Dikenal sebagai anak penurut
"napa kak Lea perginya cepet amat.. Baru juga mau nembak" decak Gilang
"idih.. Amit amit kak Lea sama lu" aku memekik jijik
"anj*y" umpat Gilang
Kami menghabiskan waktu diruang keluarga sambil menonton film horor tak lupa camilan. Kami bersantai seakan-akan besok libur. Padahal besok senin_-
Tak peduli, kami berencana absen
Adegan diatas tidak untuk ditiru ヘ( ̄▽ ̄*)ノ
°Hiraeth°
"jadi lo disini" suara seorang gadis terdengar sinis, gadis yang terkenal dengan penindasan yang sering ia lakukan. Chelsea
Sementara Aneska yang tengah duduk di salah satu bangku taman belakang sekolah, memekik pelan kaget. Seketika Aneska diam tak berkutik ketakutan. Entah apa yang akan dilakukan selanjutnya Chelsea padanya lagi.
"kenapa diam?" tanya Chelsea ikut duduk di samping Aneska dengan tangan menyilang di depan dada.
Aneska masih diam tak merespon
"udah lama ya nggak duduk disini" lirih Chelsea pelan, "terakhir kali duduk disini kira-kira kapan ya?"
Tak mau bermasalah, Aneska segera berdiri mengeluarkan benda dari sakunya. Benda yang tadinya terlipat pendek kemudian memanjang menjadi tongkat. Aneska mengarahkan tongkatnya ketanah hendak pergi, namun..
"mau kemana?" Chelsea menyergah aneska yang hendak pergi. Menarik rambut Aneska hingga membuatnya mendonggak keatas. Meringis ketakutan. Tersenyum sarkas, "lo bisu apa tuli?"
"DUDUK" teriak Chelsea kasar, mendorong aneska kasar kembali duduk ditempatnya semula.
Aneska hanya bisa menurut, ketakut.
"gua harus bilang apa lagi?" Chelsea berjongkok tepat dihadapan aneska. Menatap kedua mata hitam legam milik aneska, meskipun ia tau mereka tak akan bisa bertatapan.
"JAWAB?!!"
Aneska tersentak kaget, "ah.. Ma-"
"gue harus bilang apa lagi sih agar lo mau pindah dari sekolah ini? Tau nggak gue bosen!!" decak Chelsea mengusap dahinya frustasi
"maaf" lirih Aneska menunduk. Kedua tangannya menyatu saling menggenggam ketakutan, kedua matanya yang sedari tadi berkaca-kaca, kini mengeluarkan air dari salah satu sudut matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth [on Going]
CasualeKisah seorang pemuda yang "cacat?" bertemu dengan gadis tunanetra yang menjadi sasaran bully disekolahnya. Yang masih menjadi teka-teki penyebab kebutaan gadis itu. Akankah sang pemuda bernama leo berhasil membongkar teka-teki ini, dan menyelamatkan...
![Hiraeth [on Going]](https://img.wattpad.com/cover/271694217-64-k162979.jpg)