"Gua ga tau" jawab Gilang berlalu pergi begitu saja.
Sekarang rasanya aku semakin yakin mereka menyembunyikan sesuatu dariku.
°•°•°•
"Leo... Gua duluan ya, gua ada les 15 menit lagi" pamit Rio berlalu pergi dengan cepat.
Seperti kalian tahu tentu Rio itu ketua kelas, tentunya bukan hanya modal ketenaran karena ia kapten tim sempak bola sekolah kami. Tapi ia juga cukup pandai bahkan jadwal sehari-harinya saja sangat padat seperti orang dewasa.
Masa depannya sudah terlihat cerah ●_●
Hari ini aku akan pulang. Ah! Bukan, akan akan pergi jalan-jalan sendiri. Untuk memenangkan pikiran.
Hingga aku sampai pada taman tempatku bermain sewaktu kecil.
Ada banyak perubahanan dari taman itu. Mulai dari bangku taman yang dulunya hanya terbuat dari besi biasa kini berubah jadi bangku yang super modern yang di bawah bangkunya ada mesin mendinginkan atau menghangatkan minuman juga ada tempat charger ponsel dll.
Kalian bayangkan saja sendiri betapa modern nya. Mungkin beberapa tahun kedepan bangku ini akan semakin modern.
Aku berlari ke arah satu pohon yang sudah berumur sangat tua. Aku kembali mengingat kenangan kecil saat kami (Devano, Dafa, Gilang, Sandra dan Erlangga) bermain bersama berlari-lari hingga hari mulai gelap dan Kak Satria yang datang untuk memarahi kami karena telat pulang.
Sesaat aku memutari area pohon yang batangnya cukup besar, sebesar mobil mungkin.
Hingga aku kembali menemuinya ditempat yang tak pernah kuduga.
Ia berdiri menatap lekat kearah pohon. Pandangannya tak berpaling sedikit pun.
Aku ikut berdiri memandanginya dari kejauhan. Hingga beberapa menit akhirnya ia berbalik dengan bantuan tongkatnya berjalan menjauhi pohon.
Punggungnya yang semakin terlihat samar-samar membuatku khawatir, tak mau berfikir lebih panjang aku mengikutinya.
Mengikutinya hingga ia berhenti tepat diambang pintu gerbang taman. Ia tak sendiri, beberapa penjaganyanya juga ikut. Dan aku sudah menebak itu.
Aku berbalik untuk kembali ke arah pohon tapi tiba-tiba sebuah tangan kecil nan lembut menghentikan langkahku.
Aku tersentak pelan ketika tangan kecil itu masuk kedalam genggamanku.
Aku kembali berbalik dan melihat gadis kecil yang jauh lebih pendek dariku mengharuskan ku menunduk untuk melihatnya. Dapat kulihat tangannya mengenggam erat tanganku. Tangan mungilnya yang ukurannya sangat berbeda jauh dari tanganku.
Aku menatap kearah sekitar. Kulihat para pengawal aneska yang masih berdiri dari kejauhan mengawasi kami. Sedikit risih tapi sudahlah..
"Aneska" panggilku membuatnya mendonggak dengan cepat.
Bola matanya berputar kesana kemarin seolah mencari keberadaanku. Tak tahu kenapa tapi rasanya sedikit sesak karena dia tidak bisa menatap kewajahku walaupun aku menatapnya dengan lekat.
Tangannya mengulur menangkup wajahku dengan tangan kecilnya sembari tersenyum hangat. Dapat kulihat matanya yang berkaca-kaca membuatku ikut merasakan sebuah rasa sakit walau tak tahu alasannya.
Aku tak tahu seberapa gelap dunianya yang pastinya sangat gelap.
Dia yang masih bisa tersenyum hangat meski kutahu dunianya sangatlah gelap. Aku tak tahu kenapa orang-orang begitu membencinya hanya karena ia seoranh tunanetra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth [on Going]
AléatoireKisah seorang pemuda yang "cacat?" bertemu dengan gadis tunanetra yang menjadi sasaran bully disekolahnya. Yang masih menjadi teka-teki penyebab kebutaan gadis itu. Akankah sang pemuda bernama leo berhasil membongkar teka-teki ini, dan menyelamatkan...
![Hiraeth [on Going]](https://img.wattpad.com/cover/271694217-64-k162979.jpg)