Tak beberapa lama, akhirnya aku bisa keluar dari kemacetan.
Aku tak langsung pulang, aku sedang ingin bersantai.
Aku membawa mobilku kewisata perbukitan. Tak banyak pengunjung karena hari ini hari senin. Hari kerja. Hanya beberapa pengunjung anak muda yang bersama pasangannya. Dan ku sendirian. Begitulah
Aku duduk sendirian di atas bukit beralaskan rumput hijau yang sudah di pangkas sehingga tingginya sama rata. Menikmati suasana senja sendirian.
Perlahan matahari itu mulai samar-samar dari pandangan, menghilang di bawah garis cakrawala di sebelah barat.
"Hai" sapa seorang pria, terlihat jauh lebih tua dariku. Mungkin sudah berumur kepala dua.
Ingat! Aku masih berumur 18 tahun.
"Boleh saya duduk di sini?"
Untuk sejenak aku berfikir. Aku sedang ingin sendiri, tapi menolak orang itu.. Tidak bisa. Pada akhirnya aku mengangguk setuju.
"Kau sendirian?"
Alisku bertaut, melirik ke arahnya. Sinis. Aku tak tahu kenapa ia malah bertanya hal itu. Jelas-jelas saat itu aku sendirian.
"Maksudku.. Semua orang sedang bersama pasangannya. Kenapa kau tidak?"
"Lalu anda juga, kenapa sendirian?" tanya ku menyela
Ia tersenyum, "Saya baru saja putus dengannya" jawabnya.
Ada rasa bersalah di benakku, apa pertanyaanku terlalu..
"Tidak apa, sudah seharusnya saya mengakhirinya" katanya. "Lalu, kau bagaimana?"
"Saya?" tanyaku, menunjuk diriku sendiri, dan dia mengangguk. "Saya gapunya pasangan ataupun putus dengan seseorang"
"Tapi pasti punya seseorang di sini" ucapnya, menaruh tangan kanannya di depan dadanya, "Di hatimu"
Aku tertawa. "Gua bahkan ga tahu dia benar-benar di hati Gua. Atau gua cuma nyaman sama dia"
Dia diam, entah sejak kapan ia mengamatiku.
"Gua pikir.. Gua tau segalanya, gua pikir gua bisa menjaganya. Tapi ternyata—"
"Dia mengecewakanmu, benar?"
Aku diam, memandang kearah matahari yang semakin di ujung garisnya
Aku mendengarnya mendengus pelan, menekuk kedua lututnya. "Saya berfikir, kebenaran tertentu bisa menghancurkan semuanya dalam sekejab. Tapi saya juga tahu kebenaran itu juga pasti akan terungkap suatu saat. Yang bisa kita lakukan hanya satu, bersiap untuk kebenaran itu. Juga bersiap untuk kecewa"
Ia berdiri, menepuk-nepuk pundakku hingga dua kali "Meskipun orang yang kau sukai itu mengecewakan atau menyakitimu, kau tetap bisa memaafkan orang itu. Seperti itulah menyukai seseorang" ujarnya berlalu pergi
°°°Hiraeth°°°
2023, 25 Agust
Sudah pukul 22:17 malam, aku baru pulang setelah melakukan beberapa hal untuk persiapan masuk kampus.
Aku berjalan ke arah dapur, membuka lemari pendingin mengambil air dingin dari freezer. Menuangkan ke dalam gelas kaca bening.
Minum air dingin di larut malam itu enak.
Mataku tertuju pada tiga botol kapsul kecil yang masih tergeletak diatas meja makan. Sudah seminggu tak pernah ku sentuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth [on Going]
RandomKisah seorang pemuda yang "cacat?" bertemu dengan gadis tunanetra yang menjadi sasaran bully disekolahnya. Yang masih menjadi teka-teki penyebab kebutaan gadis itu. Akankah sang pemuda bernama leo berhasil membongkar teka-teki ini, dan menyelamatkan...
![Hiraeth [on Going]](https://img.wattpad.com/cover/271694217-64-k162979.jpg)