17

2 0 0
                                        


"Leo, numpang toilet ya!"

Entah kenapa aku malah mengijinkan masuk.

Itu reflek, aku tak bisa menyangkalnya lagi. 

Sekarang, aku larut dalam kemabukan. Mereka menuangkan banyak minuman ke dalam gelasku, aku tak menolaknya. Tapi aku juga tak memintanya, hanya saja aku minum saat aku haus.

Apa aku salah?


––––––––––––––––––––––––––––––––––––
Ya, laki-laki selalu salah.  Kata para wanita ツ
 ––––––––––––––––––––––––––––––––––––


Aku terbaring di atas sofa tak sanggup lagi, bahkan untuk duduk pun rasanya berat. Efek mabuk. 

"Leo.. Gelas lu masih setengah, habiskan lagi!" kata seseorang, aku tak tahu siapa. Wajahnya tak terlihat jelas lagi dimana ku. 

Aku menggeleng, menolak 

"Leo! Gua dluan!" suara Chelsea 

Mataku sudah tertutup, tapi tak perlu melihatnya pun aku tahu itu Chelsea. Si perempuan yang selalu berbuat semaunya.

Satu persatu orang keluar. Hingga tersisa Erlangga yang masih sibuk minum minuman sisa dari botol-botol di meja. Dia cukup kuat berbanding terbalik denganku yang lemah dengan alcohol.

Dia meneguk satu persatu botol yang ada di depannya hingga habis tak bersisa. Benar-benar habis. 

"Apaan?" suara Erlangga terdengar berat, mendapatiku yang sedari tadi meliriknya dari ujung sofa.

Tap tap tap

Erlangga berjalan kearahku dengan langkah gontai akibat pengaruh alkohol dan satu botol minuman berisi setengah di tangan kirinya. 

Traakk!!

Kakinya menyenggol meja hingga satu gelas jatuh dan pecah. 

"Leo..  Lihat! Gelasnya pecah, coba satukan! Tidak bisa bukan?" ujar Erlangga "Sama halnya.. dia sudah merebut teman kecilku, dia membawanya pergi jauh sampai tak bisa lagi untuk kutemui. Dan aku tidak akan bisa memaafkannya." lanjutnya 

"Dunia Ini sudah berubah, tak ada seorang pun yang bisa kau percaya" suara beratnya terdengar pelan. Ia membungkuk memunguti satu persatu pecahan gelas pecah. 

Perlahan semuanya terasa gelap, gelap sekali. 

"Dunia tak berubah, kau yang memilih menutup mata dan tidak mencari kebenaran"

***

"Halo dafa"

"Oh?  Hai... Yang lain kemana?"

Devano menggelengkan kepalanya, menarik salah satu kursi lalu duduk.

Dafa menyuruh salah satu pekerja kafenya untuk membuat dua minuman dengan bahasa isyarat khasnya. Dan pekerja kafe segera paham tanpa di jelaskan 

Sreek 

Dafa dengan cepat mengerti keadaan yang terjadi. Dari pada berbicara tidak perlu, Dafa memilih duduk disamping Devano sambil menikmati pemandangan jalan, melihat kendaraan yang berlalu lalang, tak habis-habis. 

"Lu mau makan ga?" tanya Dafa, meletakkan minuman di depan Devano lalu memeluk nampan kosong itu di dadanya.

Devano mengulumkan bibirnya, mempertimbangkan tawaran Dafa. Sejenak berfikir. Dan akhirnya menggeleng untuk menolak. Ia sedang tidak nafsu makan. 

Hiraeth [on Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang