The Relationshit✅

3.7K 359 1
                                        


Jennie Kim adalah seorang gadis cantik dengan pesona luar biasa, namun berhati sedingin salju musim dingin. Wajahnya seakan memiliki daya pikat berbahaya, seperti zat adiktif yang membuat siapa pun sulit melepaskan pandang.

Sore itu, ia tengah bersantai di sofa balkon kamarnya, menenangkan diri setelah seharian bergelut dengan huruf dan angka di kantor. Matanya terpejam, menikmati hembusan angin dan keheningan yang langka. Namun ketenangan itu terusik oleh sepasang tangan yang tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang. Aroma vanila menyeruak, akrab di indera penciumannya.

"Ada apa, Lisa-ya?" tanyanya malas, masih enggan membuka mata.

"I miss you, Eonnie," jawab sang adik, suaranya imut menggoda.

Jennie membuka matanya dan menatap Lisa dengan ekspresi jijik. "Yak! Apa-apaan suara menjijikkan itu, Lili!" gerutunya, lalu memukul kening adiknya ringan.

"Aduh! Sakit, Eonnie!" protes Lisa sambil mengelus kening. Ia menyilangkan tangan di dada, bibirnya mengerucut lucu. "Hmm! Lili nggak suka! Nini jahat! Kenapa kepala Lili dipukul? Sakit~"

"jangan lebay... Lalisa Kim!" seru Jennie kesal, melemparkan sandal ke arah adiknya. Sayangnya, lemparannya meleset.

"Hahaha, nggak kena!" balas Lisa sambil tertawa puas.

Jennie mendengus jengkel dan beranjak pergi, kembali ke kamarnya. Namun Lisa dengan senyum jahil masih mengikutinya. Saat masuk, dilihatnya sang kakak sudah kembali duduk di meja kerja, sibuk menatap laptopnya. Lisa mendekat, memeluknya dari belakang, dan membenamkan wajah di lekuk leher sang kakak, mencium aroma citrus yang menenangkan.

"Eon, kamu nggak lelah? Berhenti dulu, ya? Makan malam sudah siap. Appa juga sudah pulang," bujuk Lisa lembut.

Jennie hanya mengelus tangan Lisa yang melingkar di pinggangnya. "Appa pulang?" tanyanya pelan.

Lisa mengangguk, lalu menghela napas lega saat sang kakak mulai merapikan laptopnya. Ia melepaskan pelukan, menunggu Jennie berdiri. Saat sang kakak menatapnya, Lisa kembali tersenyum lebar.

"Yak! Kenapa kau senyum gitu!" keluh Jennie, merasa terganggu.

"Anniyo~ Lili sayang Nini," sahut Lisa dengan aegyo yang membuat Jennie memutar bola matanya sebal.

Meski sering bertengkar, dua kakak beradik itu selalu mencair saat bersama. Bukan hanya karena ikatan darah, tetapi karena keduanya saling menjadi sandaran, saling menguatkan. Bukankah itu bentuk persaudaraan yang sempurna?

-------------------------------------------------------------------

Keluarga Kim duduk menikmati makan malam dalam diam. Tak ada percakapan, hanya denting alat makan yang terdengar. Hingga akhirnya, Kim Jiyong, sang ayah, berdehem pelan.

"Jennie-ya, Lisa-ya. Appa ingin mengatakan sesuatu," ucapnya serius.

Lisa meletakkan sendok. "Ada apa, Appa?"

Jiyong menarik napas panjang, menimbang kata.

"Appa akan menikah lagi."

PRANG!

Suara piring pecah membahana. Lisa menatap ayahnya dengan mata terbakar emosi. "Are you kidding me, Appa? What the heck is that?!"

"Appa serius, Lisa," sahut Jiyong tenang namun tegas.

"Jadi... Eomma sudah tergantikan di hati Appa?" Lisa berdiri, napasnya memburu.

"Appa tidak butuh persetujuan kalian. Appa tetap menikah minggu depan."

BRAK!
Tinju Lisa menghantam meja makan.

"Kenapa tidak bicara dulu pada kami? Kenapa seenaknya memutuskan?!"

"Appa tidak peduli, Lisa-ya. Pernikahan ini akan tetap berlangsung."

PRANG!

Jennie, yang sejak tadi diam, menarik taplak meja dengan kasar. Piring dan gelas pecah berserakan, bahkan serpihan kaca melukai lengannya. Namun wajahnya tetap datar, mata dingin menatap ayahnya.

"Berisik," ucapnya tajam, lalu pergi dari ruang makan.

Lisa memegangi kepalanya frustrasi. "Panggil Dr. Jung, Appa!" katanya panik, lalu berlari menyusul Jennie.

Jiyong hanya bisa memandangi ruang makan yang kini porak-poranda. Saat Lisa menoleh sebentar padanya dari ambang pintu, ia mendengar umpatan pelan, "Sial..." sebelum gadis itu kembali berjalan cepat.

Kamar Jennie

Lisa berdiri di depan pintu kamar sang kakak. Ia menarik napas panjang, jemarinya menggenggam erat knop pintu. Suara gaduh terdengar dari dalam.

PRANG!

Sebuah guci pecah tepat di samping kepala Lisa saat ia membuka pintu. Ia sempat terkejut, namun tetap melangkah masuk dengan tatapan sendu.

"Pergi!" teriak Jennie dari sudut kamar, tubuhnya meringkuk, memeluk kedua kakinya.

Lisa menyentuh pipinya. Ada darah. Ia tak peduli.

"Nini..." panggilnya pelan, mendekat.

"Ku bilang pergi! Jangan sakiti aku... aku... ARGGH!" Jennie mencengkeram rambutnya sendiri, kepalanya terasa sangat sakit.

Lisa segera memeluknya erat. "Nini... sadarlah. Ini aku, Lili. Kau aman. Aku di sini..." bisiknya sambil menahan tangis.

Jennie meronta, namun pelukan Lisa semakin kuat. Napasnya berat, namun perlahan tenang saat Lisa mulai bernyanyi. Suaranya lembut, meski sedikit bergetar. Namun Jennie mendengarkannya, dan membalas pelukan itu.

FLASHBACK ON

Di balkon menghadap Sungai Han, Jennie mengelus rambut Lisa.

"Lili..."

"Hmmm?"

"Kalau nanti aku kambuh... nyanyikan lagu untukku."

"Tidak mau! Aku nggak suka menyanyi!"

"Tapi suaramu menenangkan... aku ingin mendengarnya."

FLASHBACK OFF

Jennie membuka mata, menatap adiknya. "Lili... pipimu... berdarah..."

Lisa hanya tersenyum sendu.

"Nona Lisa." Dr. Jung muncul di ambang pintu. Lisa mengangguk dan membiarkannya memeriksa Jennie.

Jennie Kim menderita PTSD, gangguan yang membuatnya kehilangan kendali, menghancurkan barang, bahkan bisa mencelakai orang lain-bahkan orang yang dicintainya.

Lisa keluar dari kamar, menekan kening yang berdenyut. Pipinya semakin perih.

"Lisa-ya." Jiyong mendekat dengan raut khawatir melihat luka di wajah putrinya.

Namun Lisa hanya menatapnya tajam-penuh amarah dan kecewa. Lalu berjalan pergi, meninggalkan sang Appa yang hanya bisa terdiam dengan tatapan kosong.

The BrightestTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang