Bebek berenang mungkin terlihat tenang,
namun siapa sangka kakinya terus bergerak cepat untuk menjaganya agar tidak tenggelam.
----------------------------
"Terlalu banyak hal yang membuat pikiranku ingin meledak rasanya." -Jisoo-
"Akan kutunjukkan...
Sidang itu berlangsung ricuh. Suasana menjadi tegang ketika seorang gadis kecil berusia enam tahun yang menjadi saksi kunci dalam kasus penculikan dan pembunuhan dihadirkan ke ruang persidangan.
Langkah kecilnya terhenti di ambang pintu. Ia menarik napas dalam-dalam, tangannya mencengkeram erat kupluk hoodie yang menutupi sebagian wajahnya.
Ia takut. Ia trauma.
---
Sementara itu, seorang gadis remaja dengan bibir berbentuk hati berlari tergesa menuju gedung pengadilan. Nafasnya tersengal, peluh membasahi pelipisnya. Seragam putih sekolahnya tampak kusam dan ternoda lumpur. Setelah sejenak menenangkan diri, ia masuk ke aula persidangan dengan langkah tergesa.
Pandangan matanya segera tertuju pada seorang pria paruh baya yang duduk tertunduk, tangan terborgol, dan mengenakan pakaian oranye narapidana.
Langkahnya terhenti. Napasnya tercekat.
Itu... Appa-nya.
Matanya menyapu seluruh ruangan, lalu berhenti pada tongkat besi di samping bangku pojok. Ia bergegas menghampirinya.
"Chaeyoungie?" bisiknya lirih.
Gadis kecil yang duduk di sana menoleh, matanya sembab, wajahnya penuh bekas air mata. "Soo-eonnie... hiks..." ucapnya pelan.
"Sooya, kemarilah, Nak." panggil ibunya dengan suara lembut.
Namun, gadis itu memilih duduk di samping Chaeyoung, menatap lurus ke depan. Pada sosok yang dulu ia panggil Appa.
---
"Gadis manis, jangan takut. Kau bersama orang-orang baik di sini," ucap sang pengacara dengan nada menenangkan. "Aku hanya ingin bertanya beberapa hal, boleh, ya?"
Gadis kecil itu mengangguk pelan, menunduk, bibirnya bergetar.
"Baik. Sekarang, apakah kau mengenal pria di sana?"
Gadis itu perlahan mendongakkan kepalanya, matanya menatap pria yang duduk di kursi terdakwa. Dan saat itulah, kilas balik mengerikan menyergap pikirannya.
Ia kembali berada di ruangan pengap itu. Gelap, bau darah, dan dingin. Tangannya terikat rantai berat yang menggantung di langit-langit. Dan ia menyaksikan sendiri... ibunya dibunuh dengan cara yang begitu keji.
Ruangan itu kembali gaduh. Tim medis bergegas menghampiri. "Jangan sentuh Eomma! Pergi!" teriaknya sambil memberontak.
Ketika mereka mencoba menenangkan, hoodie yang menutupi kepalanya terlepas. Wajah mungilnya kini terlihat jelas-cantik, tapi kosong. Penuh luka.
Suntikan penenang akhirnya diberikan. Dan perlahan, dunia kembali gelap baginya.
---
Gadis remaja yang sedari tadi menyaksikan itu dari kursi penonton hanya bisa menggigit bibir, matanya basah. Usianya baru tujuh tahun, namun beban di bahunya terasa terlalu berat.
Di pangkuan ibunya, sang adik yang berusia tiga tahun terlelap tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Ia menatap ibunya, yang menggenggam tangannya dengan erat.
Ketika hakim akhirnya membacakan vonis, suasana kembali menegang.
"Berdasarkan bukti dan kesaksian yang ada, terdakwa Hwang Taeyang dinyatakan bersalah atas penculikan dan pembunuhan terhadap ibu dan anak keluarga Kim, dan dijatuhi hukuman mati bersama tujuh narapidana lainnya."
Tok! Tok!
Palu persidangan diketuk. Keheningan pun pecah oleh tangis.
Ibunya terisak. Para hadirin bergumam. Namun Jisoo-gadis kecil berumur tujuh tahun-hanya diam menatap sosok yang selama ini ia panggil Appa.
Tatapan itu dibalas. Sang ayah mencoba tersenyum. Namun senyum itu justru membuat Jisoo ingin berteriak.
Semalam mereka masih makan es krim bersama. Appanya sempat berjanji akan pensiun dari dunia militer. "Appa tak akan pergi lagi," katanya saat itu. Tapi semua hanya bohong.
Meski begitu, di dalam hati kecilnya, Jisoo masih ingin percaya. Ia yakin Appanya tidak melakukan itu. Ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Polisi mulai menggiring pria itu keluar. Dan di detik terakhir, sang ayah membalikkan badan, menatap Jisoo. Bibirnya bergerak pelan, menyampaikan pesan terakhir.
"Jangan perlihatkan itu pada siapa pun, Sooya. Jagalah... untuk Appa."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hwang Taeyang Jisoo's Dad
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.