Pagi itu, di depan gerbang sekolah…
"Hati-hati ya, Chaeng. Pulangnya mau Eonnie jemput?" tanya Jisoo sambil tersenyum hangat, tangannya merapikan kerah seragam adiknya.
Chaeyoung menggeleng pelan.
“Tidak usah, Eonnie. Joy mengajakku ke perpustakaan kota, dan dia juga yang akan mengantarku pulang nanti,” jelasnya dengan suara lembut.
Jisoo mengangguk, lalu mengusap rambut adiknya dengan penuh kasih sayang.
"Baiklah, Eonnie berangkat dulu ya…” ucap Jisoo sebelum mengecup sekilas pipi Chaeyoung, membuat adiknya terlonjak kecil.
"Iihh, Eonnie apaan sih! Malu tahu!" protes Chaeyoung, pipinya memerah malu.
Jisoo hanya tertawa puas melihat reaksi adiknya.
"Udah, buruan masuk sana. Nanti telat. Bos Eonnie galak banget soalnya!" Chaeyoung mengusir kakaknya dengan ekspresi jengkel yang manja.
"Iya, iya! Galak banget sih, chipmunk-ku ini." Jisoo terkekeh, lalu melangkah masuk ke dalam mobil—satu-satunya peninggalan keluarga mereka—dan melaju pergi.
Chaeyoung menatap kepergian kakaknya dengan senyum tulus, sebelum mulai melangkah memasuki gerbang sekolahnya.
Namun baru saja kakinya menyentuh lantai lobi, sebuah tendangan keras menghantam tongkatnya.
Brukk!
Tongkatnya terlempar jauh, dan tubuhnya langsung ambruk ke lantai.
"Aduh..." desisnya kesakitan, namun sebelum sempat bangkit, sebuah suara mencemooh terdengar nyaring.
“Lihat siapa yang baru saja dicium kakaknya! Iiiih jijik banget! Cacat pula!” ejek Seulgi, si ketua geng pembully.
Di belakangnya, Yeri dan Wendy tertawa meremehkan.
“Betul banget tuh, Seul,” timpal Wendy dengan nada geli.
Seulgi berjongkok di depan Chaeyoung, wajahnya sejajar dengan gadis yang tengah menahan air mata.
“Uwuwuw... si adik manja ini mau nangis ya?” godanya lagi dengan senyum menyebalkan.
"Apa kita ajarin dia jalan aja? Kasihan kayaknya masih belum bisa sendiri," ujar Wendy dengan seringai sinis.
Kerumunan murid hanya menonton. Tak satu pun bergerak untuk menolong.
Seulgi menarik paksa Chaeyoung untuk berdiri.
“Berat banget sih kau!” keluhnya, lalu dengan sengaja melepaskan genggamannya hingga Chaeyoung kembali jatuh ke lantai.
Kali ini air matanya tak tertahankan. Ia menangis… dan tetap, tak ada yang peduli.
Yeri menarik rambutnya kasar, memaksanya mendongak.
“Yak! Jangan nangis, dasar cacat! Sekolah ini malu punya murid seperti kau! Dengar itu!” hardik Seulgi, menoyor-toyor kening Chaeyoung berkali-kali.
Di sudut lobi, Lisa baru saja tiba. Wajahnya datar seperti biasa.
Ia sempat melirik ke arah keributan. Pandangannya bertemu dengan mata Chaeyoung yang berlinang.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Brightest
Mystery / ThrillerBebek berenang mungkin terlihat tenang, namun siapa sangka kakinya terus bergerak cepat untuk menjaganya agar tidak tenggelam. ---------------------------- "Terlalu banyak hal yang membuat pikiranku ingin meledak rasanya." -Jisoo- "Akan kutunjukkan...
