to much darkness for rainbow ✅

2.7K 295 0
                                        


Pagi yang cerah seolah enggan menembus kediaman keluarga Kim yang megah itu. Mentari bersinar, namun suasana di ruang makan tetap muram, hening—tak ada satu pun suara yang terdengar dari meja makan keluarga yang dulunya dikenal sebagai pusat kericuhan dan obrolan hangat.

Semua hanya duduk dan makan dalam diam. Tak ada tawa. Tak ada canda. Hanya dentingan sendok dan garpu yang sesekali terdengar.

Jiyong berdehem pelan, mencoba mencairkan suasana.

“Lisa… ajak Chaeng berangkat bersamamu,” ucapnya.

Lisa berhenti mengunyah. Ia meletakkan sendok dan garpunya dengan keras di atas meja, lalu bangkit sambil meraih tas.

“Suruh saja supir. Lisa bawa mobil sendiri,” gumamnya dingin sebelum melangkah pergi.

Keheningan kembali menyeruak. Tatapan Chaeyoung menunduk, menyimpan kecewa yang tidak bisa ia sembunyikan.

Jiyong tersenyum pahit dan mengusap kepala Chaeyoung lembut. “Yasudah, Chaeng… nanti akan ada supir yang mengantarmu.”

Lalu ia menoleh pada Jennie, yang hanya diam membisu. “Jennie-ya… kau mau berangkat bareng Jisoo? Jisoo bekerja di perusahaanmu, kan?”

Jennie tak menjawab. Ia hanya berdiri tanpa sepatah kata dan melangkah pergi seperti angin.

Jisoo menghela napas panjang, terlihat kesal. “Tak apa, Ayah. Biar aku antar Chaeng sekalian. Biasanya juga memang begitu,” ujarnya.

Jiyong mengangguk, matanya tampak lelah. “Maafkan anak-anakku, Nak. Mungkin mereka belum terbiasa dengan adanya anggota baru di mansion ini.”

“Tak apa, Ayah. Kami juga masih berusaha menyesuaikan diri,” jawab Jisoo sambil tersenyum tulus.

“Kalau begitu, kami berangkat dulu, Appa… Eomma.”

-------------

Di ruang rapat perusahaan KimTech, suasana tegang terasa di antara aroma kopi dan berkas-berkas yang tertata rapi. Pertemuan penting antara pihak KimTech dan KJ Company sedang berlangsung.

Di sisi meja duduk seorang pria dengan aura percaya diri yang menyebalkan—KAI, CEO KJ Company.

“Bagaimana, Tuan Kai? Apakah Anda tertarik untuk bekerja sama dengan kami?” tanya Irene, tenang namun tajam.

Kai menyeringai sambil menyesap kopinya. “Proyek kalian cukup menarik, Mrs. Kim. Akan kupikirkan.”

Jennie menatapnya datar, sementara Jisoo yang duduk tak jauh dari sana mengangkat alis, penasaran dengan ketegangan yang terasa.

“Baiklah, kalau begitu, pertemuan kita sampai di sini. Terima kasih,” tutup Irene, dan peserta rapat mulai beranjak dari tempat duduk mereka.

Kini tinggal Jisoo, Jennie, Irene, Kai, dan sekretaris pribadi Kai yang masih tersisa di ruangan.

Saat Irene dan sekretaris Kai sibuk berdiskusi di pojok ruangan, Kai menyandarkan tubuhnya santai, lalu menoleh pada Jennie.

“Aku sebenarnya berniat menanam sponsor lebih besar dari kesepakatan ini, Mrs. Kim. Tapi… bagaimana kalau kita membicarakannya sambil makan malam?” godanya sambil menyentuh tangan Jennie.

The BrightestTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang