Suara tembakan menggema di seluruh ruangan, berpadu dengan jeritan dan benturan tubuh. Aroma mesiu memenuhi udara, menyatu dengan kepanikan dan kemarahan yang saling bersahutan.
Jennie, dengan tatapan membara dan gerakan mematikan, menembakkan senjatanya tanpa ampun. Setiap peluru yang meluncur dari moncong pistolnya menjadi bukti bagaimana hasrat membunuhnya.
Di sisi lain, Jisoo, dan yang lainnya terpaksa mengikuti jejak Jennie. Rencana awal untuk menahan diri dan menghindari kekacauan besar telah runtuh—terbakar habis oleh keberadaan Jennie yang tak mungkin ditahan.
Dalam keriuhan itu, Jungkook bergerak cepat. Memanfaatkan kelengahan para musuh, ia berhasil membebaskan ikatan Lisa dan Chaeyoung.
Lisa segera membawa adiknya ke sudut ruangan yang relatif aman, jauh dari jangkauan peluru dan serpihan beton yang beterbangan.
Setelah memastikan Chaeyoung aman, Lisa berlari kembali ke medan pertempuran. Pemandangan yang ia dapati adalah kekacauan telah mencapai puncaknya.
Ia melihat Jisoo mulai kewalahan, karena tubuhnya sudah mulai menunjukkan kelelahan.
Lisa segera menghampiri kakaknya.
“Unnie, kau tak apa-apa?” tanyanya cepat.
Jisoo mengangguk pelan, lalu menyerahkan pistol cadangan pada Lisa. Tanpa banyak bicara, keduanya kembali terjun ke dalam badai api dan darah.
Waktu terus berlalu. Dua puluh menit dalam neraka seperti itu terasa seperti seumur hidup. Pasukan musuh seolah tak ada habisnya—terus berdatangan seperti ombak yang tak pernah surut.
Jisoo yang mulai sadar akan kondisi mereka segera memberi perintah,
“Seokjin! Apa semuanya sudah siap?”
“Dalam satu menit,” jawab Seokjin, terdengar tergesa.
Sementara itu, Jennie terus membidik dan menembaki musuh. Pandangannya menyapu ruangan, hingga akhirnya menangkap sosok Hiesoon yang tengah menyelinap keluar.
Tanpa ragu, ia mengejarnya. Tapi—
DOR!
Jeritan tertahan meluncur dari bibir Jennie saat rasa nyeri menembus kakinya. Ia limbung. Menoleh, dan menemukan seorang pria gemetar memegang pistol yang masih mengepulkan asap.
“Sialan…” desis Jennie.
“JUNGKOOK!!!” teriak Lisa dari kejauhan. Ia menyaksikan dengan ngeri—pria itu memang selalu berkhianat. Tanpa aba-aba, baku tembak antara Lisa dan Jungkook pun pecah.
Jennie yang tertatih menoleh ke arah Hiesoon. Lelaki tua itu berdiri di ujung lorong, tersenyum mengejek seolah mengatakan: Rasakan itu.
Gemetar, Jennie menggenggam pistolnya. Meskipun terluka, ia tetap menyeret kakinya, memaksakan diri mengejar lelaki itu.
Namun, sebelum langkahnya bertambah jauh,
Suara melengking terdengar. Suara bernada tinggi, tajam, dan memekakkan telinga menghentikan semua orang.
Pertempuran terhenti. Semua orang secara refleks menutup telinga mereka, meringis kesakitan. Hanya Jisoo dan Hanbin yang tidak terganggu karena penyumbat di telinga mereka juga —mereka berlari menuju Lisa dan Chaeyoung.
Dengan tenang, Jisoo memberi perintah lewat earpiece-nya,
“Semua unit, tekan tombol di lengan kanan kalian. Lima detik dari sekarang.”
Jennie yang masih setengah sadar tak mengerti maksudnya, tapi dia mengikuti instruksi.
Satu… dua… tiga… empat… lima…
GEDUBUM!!!
Gedung tua itu runtuh dalam sekejap. Asap dan debu membumbung ke langit seperti nisan yang menandai berakhirnya pertempuran itu.
---
Cahaya putih menyilaukan menyambut Hiesoon saat kesadarannya perlahan kembali. Ia berada di sebuah ruangan steril, tenang—terlalu tenang. Dinding putih bersih. Bau antiseptik menusuk hidungnya.
Saat pintu terbuka, ia mendapati seorang wanita berdiri di sana, membawa nampan berisi makanan. Wajah yang sangat ia kenali.
“…Sandara?” bisiknya lemah.
Wanita itu tersenyum. “Masih bisa memanggil namaku, ya?”
Mata Hiesoon membesar. Tangannya bergetar.
“Kau… nyata?” tanyanya dengan suara tercekat.
Sandara hanya tersenyum dan mendekat, meletakkan nampan di meja. Lalu ia menggenggam tangan Hiesoon dengan lembut.
“Tentu saja aku nyata.”
Senyum mengembang di wajah Hiesoon. “Aku sangat senang ini nyata, Sandara. Maafkan aku. Aku… aku tak bermaksud menyakitimu. Aku mencintaimu. Saat itu aku hanya—”
“Sstt.”
Sandara membungkamnya. Lalu ia mengambil semangkuk bubur dan garpu dari nampan.
“Hiesoon, sebenarnya bukan hanya aku yang nyata.”
“Oh? Apa… cintamu juga nyata?” tanyanya dengan senyum cerah.
Tawa tumpah ruah dari bibir Sandara—tawa yang sangat tak asing baginya. Dan saat itu juga, wajah Hiesoon mengeras dan berkelut dalam kebingungan.
“Sayangnya, bukan cinta padamu yang nyata… tapi neraka yang aku bawa untukmu.”
BLESS!
Garpu itu menancap dalam ke tangan kiri Hiesoon. Jeritannya menggema dalam ruangan putih.
“YAA! Jennie! Kenapa kau tusuk dia?! Itu tak sesuai rencana!”
Suara Jisoo terdengar di alat komunikasi di telinga wanita itu.
Ya. ‘Sandara’ hanyalah ilusi. Jennie mengenakan helm neural interface yang memanipulasi persepsi Hiesoon, membuatnya percaya ia sedang melihat cinta lamanya.
Jennie mendecak. “Berani-beraninya pria tua ini mengungkit bundaku.”
Jisoo mengusap pelipisnya, frustasi.
“Jennie, ini percobaan kelima dari alat manipulasi pikiran. Kalau kau terus begini, biar aku saja yang mengujinya. Tangan kanannya bahkan belum sembuh sejak kau bakar minggu lalu!”
“Aaah… harusnya tadi ditusuk di matanya sekalian, unnie,” timbrung Chaeyoung dari sisi lain, kecewa.
Jisoo memukul tangan Chaeyoung, “Jangan bicara seperti itu!”
“Seokjin, panggil tim medis!” ucap Jisoo cepat.
Namun belum sempat dijawab, Lisa masuk ke ruangan membawa kotak medis.
“Aku sudah menduga akan dibutuhkan,” katanya ringan.
Tanpa menunggu izin, ia membuka peralatannya dan mulai mengobati tangan Hiesoon yang tertusuk. Ia menuangkan cairan ke kasa dan menempelkannya perlahan.
“AAARGHHHH!!!” Hiesoon menjerit lebih keras daripada sebelumnya.
“YAAK! Apa yang kau pakai, Lisa?!” teriak Jisoo.
Lisa hanya mengangkat bahu, polos.
“Unnie… kupikir itu alkohol. Ternyata larutan NaCl.”
Jisoo mendengus, “Kalian berdua sama saja.”
Sementara itu, Chaeyoung duduk santai di sebelahnya, mengunyah camilan dan menertawakan semua kekacauan itu.
_____The End_____
KAMU SEDANG MEMBACA
The Brightest
Misterio / SuspensoBebek berenang mungkin terlihat tenang, namun siapa sangka kakinya terus bergerak cepat untuk menjaganya agar tidak tenggelam. ---------------------------- "Terlalu banyak hal yang membuat pikiranku ingin meledak rasanya." -Jisoo- "Akan kutunjukkan...
