feel so used ✅

2.5K 298 0
                                        


Suasana kelas sunyi. Lisa duduk diam di meja belajarnya, menatap kosong ke arah jendela. Wajahnya tampak murung, seperti biasa.

Ia telah mengusir semua teman sekelasnya keluar.

“Yakk!! Lalisa Kim!”

Lisa mendesah kasar. Tak sulit menebak siapa yang berani berteriak seperti itu padanya. Tentu saja, salah satu dari sepupu-sepupunya yang menyebalkan.

“Kenapa lagi, si anak ayam temperamental ini, hmm? Banyak siswa mau mengerjakan tugas di kelas, tapi kau malah mengusir mereka,” omel sepupunya, Joy, sambil melipat tangan di dada.

“Berisik sekali kau, Joy,” balas Lisa dingin tanpa menoleh.

Joy mendengus, memutar matanya malas.

Somi datang membawa sekaleng susu cokelat dan meletakkannya di meja Lisa. “Nih, pesananmu,” ucapnya ringan.

Senyum tipis muncul di wajah Lisa saat melihat minuman kesukaannya. Sekilas, senyum itu menghangatkan suasana.

Namun Joy langsung mengangkat ponselnya. “Lihat nih, momen langka! Lalisa Kim, si ratu es, tersenyum seperti orang bodoh cuma karena susu cokelat,” sindir Joy sambil tersenyum miring.

Lisa memutar matanya malas. “Shut up, Joy. Pergilah! Biasanya kau bersama si tongkat itu.”

“Yak! Namanya Chaeyoung, kalau kau lupa. Dan dia sekarang saudara tirimu. Ingat itu!” sahut Joy, mulai kesal.

“Pergilah. Kau menyebalkan,” ucap Lisa lagi.

“Berhenti memutar matamu sebelum itu lepas dari tempatnya! Aku memang akan pergi, anak ayam!” teriak Joy sambil berjalan ke arah pintu.

“Yak! Jangan panggil aku seperti itu, menjijikkan!” bentak Lisa, mengangkat salah satu sepatunya dan melemparkannya ke arah Joy.

Bragg!!

Sepatunya meleset. Joy mencibir, “Weleh~” dan langsung kabur sebelum Lisa sempat mengejarnya.

Somi hanya menggeleng, menghela napas. Itulah alasannya kenapa sang paman menitipkan Lisa padanya, bukan Joy. Mereka berdua tak pernah bisa akur.

“Sialan, Joy,” gumam Lisa sambil duduk kembali.

Joy adalah adik kandung Irene, sepupu Lisa lainnya. Mereka bertiga tumbuh besar bersama. Pernah, mereka mengenal Lisa yang ceria dan penuh tawa. Kini, senyuman Lisa menjadi langka, tapi mereka tetap bersyukur saat bisa melihatnya walau sesekali.

“Kau ingin ke kantin?” tanya Somi.

“Tidak,” jawab Lisa datar.

Somi mengerucutkan bibir. “Tapi aku lapar...”

Lisa hanya meliriknya sebentar. “Pergi saja sendiri.”

Somi menghentakkan kaki kesal. “Aish! Kau juga belum makan, Lisa...”

“Apa semua orang harus menyebalkan hari ini?!” gerutu Lisa sebelum akhirnya berdiri.

Somi tersenyum senang. Meski bermulut tajam dan wajahnya tampak menyeramkan, Lisa tak pernah benar-benar jahat pada keluarganya.

Sementara itu, di kantin sekolah, Chaeyoung terjatuh. Makanannya tumpah, membasahi seragam putihnya.

“Yak! Kalau jalan itu hati-hati, dasar cacat!” bentak Seulgi, berdiri di hadapannya.

“T-tapi... kaulah yang menabrakku...” ucap Chaeyoung pelan.

Seulgi berjongkok, menekan keras kening Chaeyoung dengan telunjuknya. “Kau yang salah! Menghalangi jalanku, dasar cacat!” hardiknya.

The BrightestTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang