everything suck ✅

2.6K 277 0
                                        


Lisa memarkir motornya di depan sebuah rumah megah yang tampak mencekam dalam keheningan malam. Dengan napas tersengal dan wajah penuh kecemasan.

ia segera melangkah cepat menuju pintu. Namun, dua pria bertubuh tegap langsung menghadang langkahnya.

“Maaf, Nona. Anda tidak bisa masuk begitu saja,” ujar salah satu dari mereka dengan nada tegas.

“Sial! Minggir!” bentak Lisa, nada suaranya mengguncang, mencerminkan kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan.

Kedua penjaga itu menggeleng pelan.

“Maaf, Dik. Kami tidak ingin menyulitkanmu. Tapi sekarang lebih baik kau pergi sebelum kami berubah pikiran,” ucap yang satunya dengan nada memperingatkan.

Lisa menggeram, jari-jarinya meremas rambutnya sendiri dengan kasar.

Saat itu, terdengar suara benda pecah dari dalam rumah.

Prangg!!

Wajah Lisa menegang. Ketegangan dan amarah berpadu menjadi satu.

Tatapannya berubah tajam, penuh bara.

“Aku nggak punya waktu untuk ini. Sekarang buka pintunya!” titahnya, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan.

Namun dua penjaga itu tetap tak bergeming.

“Fuck!” pekiknya.

Dalam hitungan detik, Lisa melancarkan serangan ke titik lemah mereka. Gerakannya cepat dan tepat—keduanya limbung. Salah satu penjaga menerima tendangan telak di perut dan terjatuh sambil memuntahkan darah.

“Mengganggu saja, sialan!” umpat Lisa lagi, lalu segera menerobos masuk ke dalam rumah yang penuh kekacauan.

---

Di dalam rumah, Jennie berdiri dengan tangan berlumuran darah, menggenggam pecahan kaca tajam. Ia menodongkannya ke leher Hanbin yang terbaring babak belur di lantai.

“Kau harus mati sekarang juga, brengsek tak berguna!” teriak Jennie, siap mengayunkan kaca.

Namun, tiba-tiba sebuah tangan menghentikan gerakannya—menahan kaca itu meski darah segera mengalir dari telapak yang terluka.

“Shit!” serunya, lalu menoleh.

Ia tersentak melihat sosok adiknya, Lisa, berdiri dengan senyum sendu dan mata basah.

“Hentikan, eonnie,” ucap Lisa lembut.

Tubuh Jennie bergetar. Tatapannya jatuh pada tangan Lisa yang menahan kaca—darah menetes dari luka segar.

Prang!!

Kaca itu terhempas ke lantai. Mata Jennie memerah.

“Ll... Lisa... eonnie menyakitimu lagi...” bisiknya dengan lirih penuh sesal.

Lisa menggeleng dan merengkuh tubuh mungil sang kakak.

“Jebal... Eonnie nggak menyakitiku, oke? Tenanglah. Ceritakan semuanya ke Lili, ya?” bisik Lisa menenangkan.

Jennie mengangguk pelan, bersandar di dada adiknya. Lisa mengusap punggungnya, lalu melepaskan pelukan.

Jennie menatap sekeliling ruangan—komputer canggih seharga miliaran hancur berantakan.

Tatapannya lalu tertumbuk pada Hanbin, yang dengan lemah menatapnya dan tersenyum sendu.

“Mian...” lirih Hanbin tanpa suara.

“Kau bodoh, Hanbin,” gumamnya pelan, mengepalkan tangan.

Lisa meraih tangannya dengan lembut.

“Kajja, eonnie. Kau harus diobati,” ucap Lisa tenang.

The BrightestTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang