Chaeyoung membenamkan kepalanya di atas meja sekolah. Matanya terasa berat, kelopak seperti diselimuti timah panas setelah semalaman menyelesaikan tugas yang tak kunjung usai.
Ditambah lagi, pelajaran sejarah barusan terdengar seperti nyanyian lullaby yang menuntunnya makin dalam ke jurang kantuk.
"Chaeng? Mau ke kantin?" tawar Joy, menghampiri dengan senyum kecil.
Chaeyoung hanya menggeleng pelan, tanpa mengangkat wajahnya.
"Pergi saja duluan, Joy... Mataku benar-benar tidak bisa diajak kompromi," gumamnya lirih.
Joy menghela napas, lalu menepuk ringan bahu temannya.
"Ck, ya sudah. Aku belikan kamu sesuatu saja, ya."
Sementara itu, di kelas lain, suasana jauh berbeda. Sepi. Menegang. Tak terdengar celoteh murid, apalagi kelompok penggosip yang biasa ramai di pojokan.
Semua memilih diam, atau jika punya nyali cukup besar, keluar kelas dengan alasan apa pun.
Penyebabnya sederhana: bangku di pojokan depan.
Tempat duduk sang "ratu"-Lisa.
Sosok bermata hazel itu tengah memancarkan aura dingin yang begitu menusuk, membuat siapa pun tak berani mengeluarkan suara.
Satu kesalahan kecil bisa jadi bencana bagi siapa pun yang mengusik ketenangannya.
Lisa duduk kaku, pandangannya tajam menerobos jendela, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Masih terjebak dalam kekacauan malam itu-keputusan ayahnya yang tak masuk akal, yang jadi penyebab kakaknya kembali sakit.
"Lisa, kamu nggak ke kantin?" tanya Somi, sepupunya-dan satu-satunya orang yang cukup dekat dengannya di sekolah.
Bukan karena orang lain tak ingin berteman dengan Lisa, tapi mereka merasa terlalu jauh di bawahnya untuk sekadar berdiri di sisinya.
Lisa tak menjawab. Tapi tangannya mengepal di atas meja.
Somi menghela napas. Ia tahu, ia harus tetap berada di sini. Itu titah pamannya. Karena jika ia tidak ada, siapa yang akan mengendalikan Lisa bila amarahnya meledak dan mengenai orang yang salah?
Toh, bahkan dengan Somi di dekatnya, Lisa masih bisa menyerang siapa saja yang kebetulan membuatnya muak, walau tak sepenuhnya bersalah.
Bel berbunyi.
Pelajaran berikutnya: Matematika.
"Oke, anak-anak! Sekarang waktunya... ulangan harian dadakan!" seru sang guru, dengan senyum menakutkan yang sudah terkenal satu sekolah.
Serentak kelas menjadi gaduh.
"Yah, Pak! Baru dua minggu lalu juga ulangan!"
"Iya Pak, keterlaluan!"
"Ah, Bapaaaak..."
Keluhan demi keluhan terdengar. Tapi sang guru malah menaikkan level tantangan.
"Oh begitu? Kalau begitu... soal ulangan naik jadi 50!"
Kelas mendadak ricuh. Namun...
BRAK!
Sebuah kursi terbang menghantam papan tulis dan hancur berkeping-keping.
Hening.
Semua membeku. Bahkan sang guru yang biasanya garang, tak bisa bergerak.
Di sana, berdiri Lisa dengan tatapan membunuh, hawa dinginnya semakin mencekam.
"Shit! Kalian berisik sekali!" sentaknya dalam, lalu melangkah keluar kelas-membanting pintu keras.
BRAGG!
KAMU SEDANG MEMBACA
The Brightest
Mystery / ThrillerBebek berenang mungkin terlihat tenang, namun siapa sangka kakinya terus bergerak cepat untuk menjaganya agar tidak tenggelam. ---------------------------- "Terlalu banyak hal yang membuat pikiranku ingin meledak rasanya." -Jisoo- "Akan kutunjukkan...
