Di sebuah ruang pribadi di lantai atas sekolah elit, Lisa duduk santai sambil menikmati semangkuk ramen spesial. Wajahnya terlihat sedikit lebih bersahabat dari biasanya. Ia tak bisa memungkiri bahwa cacing di perutnya sudah mulai berdemo-makan malam dua hari lalu adalah terakhir kalinya ia menyentuh makanan.
Sampai akhirnya...
Tak.
Suara mangkuk kosong terdengar, pertanda ramen itu telah habis tak bersisa.
Somi, sepupunya, yang sedari tadi memperhatikan dengan satu tangan menyangga dagu, hanya bisa menahan kebingungannya. Ia mengamati mood swing Lisa dengan tatapan waspada.
"Yak! Untung saja kau tidak makan di kantin," sindir Somi dengan nada julid. "Kalau tidak, image dinginmu itu bisa hancur seketika. Kau tahu kan cara makanmu itu bar-bar?"
Lisa hanya memutar bola matanya malas.
"So... apa yang terjadi, Lisa?" tanya Somi, kini dengan nada lebih serius.
Lisa terdiam. Pandangannya kosong sejenak, sebelum akhirnya ia menatap mata Somi dalam-dalam.
"Eonni-ku... kambuh," ucapnya pelan.
Somi langsung duduk tegak, matanya membelalak.
"Jjinjja?! Kenapa bisa?! Bukankah eonni-mu sudah membaik selama lima tahun ini?"
Lisa menghela napas panjang.
"Appa akan menikah lagi."
Byurrr!!!
Somi secara spontan menyemburkan air minumnya, membuat karpet mewah nan mahal di ruangan itu basah.
"YAK! Kim Somi! Apa kau ingin mati, hah? Kenapa kau mengotori karpet miliaran-ku, pabo?!" omel Lisa, menepuk lengan sepupunya.
"Aduh, sakit! Dasar anak ayam!" Somi mengelus lengannya yang mulai memerah. "Aku cuma... kaget, tahu!"
Somi menggeleng pelan, menatap Lisa dengan iba. "Jadi itu alasan mood-mu hancur dua hari ini? Tapi tetap saja, Lisa. Kau melampiaskannya ke orang yang salah. Chaeyoung itu gadis baik. Dia hanya kebetulan ada di tempat yang salah, waktu yang salah."
Lisa mengangguk, meski enggan mengakuinya. Sedikit... hanya sedikit, ia merasa bersalah pada Chaeyoung. Tapi menyalahkan gadis itu terasa lebih mudah. Mengapa pula harus melihat Lisa menangis? Lisa sangat benci terlihat rapuh di depan orang lain.
Somi menarik napas dalam. Ia paham betapa besar cinta dua sepupunya itu pada sang eomma. Terutama Jennie-ia tahu betapa sulitnya bagi Jennie menerima perempuan lain menggantikan posisi ibunda mereka.
"Dengar aku baik-baik, Lisa..." Somi menatapnya serius. "Keputusan seorang Kim Jiyong itu mutlak. Ego ayahmu besar, tersembunyi di balik kelembutannya. Bahkan jika kau menolak sampai mati pun, pernikahan itu tetap akan terjadi. Hanya ada dua pilihan bagimu: satu, kau menghindari keluargamu dan menghilang. Tapi ingat, kau tidak akan bisa membawa eonni-mu. Atau dua, kau menerima dan mencoba berdamai dengan keluarga barumu."
Lisa terdiam. "Should I try?" batinnya lirih.
_________________
Dua hari lalu, gadis itu rapuh bagai kayu lapuk. Tapi kini? Ia kembali duduk di atas singgasananya-dingin, elegan, tak terbaca. Wajah Jennie Kim nyaris tak menunjukkan emosi apapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Brightest
Mistério / SuspenseBebek berenang mungkin terlihat tenang, namun siapa sangka kakinya terus bergerak cepat untuk menjaganya agar tidak tenggelam. ---------------------------- "Terlalu banyak hal yang membuat pikiranku ingin meledak rasanya." -Jisoo- "Akan kutunjukkan...
