Langkah kaki Lisa bergema saat ia menuruni tangga menuju basement yang kini telah disulap menjadi sebuah arena balapan bawah tanah. Cahaya temaram dan suara dentuman musik menyambut kedatangannya.
“Datang juga lu, setelah sekian lama bersemedi di Goa Hantu. Ada angin apa, kawan?” sapa seorang namja sambil menepuk bahunya.
Lisa hanya memutar bola mata, lalu menjawab dengan dingin, “Bacot.” Ia langsung menyerahkan selembar kertas pendaftaran balapan ke panitia di meja terdekat.
“Yak! Gue cuma nanya, Lisa!” keluh Bambam, kesal.
“Dan gue nggak ada niat buat jawab, Bambam,” balas Lisa ketus, meninggalkan nada bicara yang dingin. Bambam mendengus, menahan kekesalan.
“Tapi... berarti lu mau balik ke kita lagi, kan?” tanya Bambam dengan ragu, menatap Lisa yang hendak pergi.
Lisa menghentikan langkahnya. Ia menatap Bambam tajam. “Lu pikir gue ke sini karena mau balik?” tanyanya, nada suaranya penuh sinis.
Bambam mengangguk pelan. “Lord masih berharap lu balik, Lisa.”
Lisa mencibir, “Gue muak, Bambam. Jangan paksa gue balik. Gue bukan pion kalian lagi.”
“Terus kenapa lu datang ke arena sekarang?”
Lisa mendekat, tatapannya tajam menusuk. “Lu cowok paling banyak bacot yang pernah gue kenal,” ucapnya, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Bambam menarik napas kasar. “Lu nggak tahu gimana gilanya Lord waktu kehilangan orang kayak lu, Lisa…” gumamnya lirih.
Tiba-tiba, sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang.
“Bagaimana?” tanya suara dingin dari pria yang kini berdiri di belakangnya.
Bambam menoleh. “Masih belum ada hasil, Lord.”
Pria itu menyeringai pelan. “Berarti... aku harus mulai gunakan sedikit kekerasan agar dia mau kembali.”
--------------
Di tempat lain, langkah kaki Jennie bergema di rumah sederhana yang berdiri di lereng bukit. Meski sederhana dari luar, rumah itu dipenuhi peralatan teknologi canggih di dalamnya—monitor besar, peralatan keamanan, dan sistem kontrol digital berjajar rapi.
“Selamat datang, Jennie,” sapa Hanbin sambil sedikit membungkuk hormat.
“Aku tak ingin basa-basi, Hanbin. Katakan apa yang sebenarnya terjadi,” ucap Jennie, dingin dan to the point.
Hanbin menghela napas, tersenyum kecut. “Baiklah… ikut aku ke ruang kontrol.”
Di ruangan itu, lima orang sibuk dengan layar dan data masing-masing. Suasana tegang terasa.
“Aku sudah periksa semua CCTV, kendaraan, dan akses keluar-masuk, Jennie… tapi pelakunya sangat cerdas. Mereka tak meninggalkan jejak sedikit pun. Maafkan aku…” lirih Hanbin.
Jennie terdiam di depan monitor, tubuhnya menegang. Ia membuka jas hitamnya dan melemparkannya ke atas meja, menyisakan kaos hitam yang dikenakannya. Dengan kedua tangan menyandar di meja, ia menunduk dalam, menahan emosi.
Semua orang di ruangan itu saling pandang, lalu perlahan keluar saat Jennie memberi perintah singkat, “Keluar.”
Hanbin tetap tinggal, menunduk dalam.
BRAK!
Monitor melayang dan menghantam Hanbin, membuat pria itu terjatuh. Jennie mengamuk, emosinya meledak.
“SIAL! DASAR TAK BERGUNA!” teriaknya, mencengkeram kerah Hanbin dan memukulinya tanpa ampun. Ia bahkan menginjak perut Hanbin yang sudah terbaring lemas di lantai.
Namun Hanbin tetap diam. Ia sudah terbiasa menjadi tempat pelampiasan Jennie. Ia menerimanya. Karena ia menyimpan rasa terhadap Jennie—sahabat kecilnya.
“KELUARGA KU DITEROR, HANBIN! EOMMA TIRIKU JADI KORBAN! DAN KALIAN SEMUA TIDAK MAMPU MENCEGAHNYA!” teriak Jennie, menghancurkan barang-barang di sekitarnya, dada naik turun karena marah yang tak terbendung.
Hanbin hanya memandangi pecahan kaca di pipinya, tanpa satu kata pun.
------------
Di arena, balapan dimulai. Lisa memimpin sejak awal dan kini tinggal beberapa meter lagi menuju garis akhir. Sorak sorai penonton menggema.
Namun tiba-tiba, suara telepon masuk ke helm canggih Lisa. Nomor tak dikenal.
Ia menjawab. Suara napas terengah-engah terdengar.
“Datanglah ke ****** sekarang, atau kakakmu benar-benar akan membunuh Hanbin malam ini.” klik. Sambungan terputus.
Lisa terdiam sejenak, lalu menambah kecepatan dan melewati garis finish. Semua bersorak.
“Anak itu nggak pernah gagal,” gumam Bambam bangga.
Namun ekspresinya berubah heran. “Kenapa dia nggak berhenti?” gumamnya saat melihat Lisa terus memacu motornya, meninggalkan arena tanpa merayakan kemenangan.
-------------
Di sebuah mansion mewah milik keluarga Kim, Jisoo melangkah masuk. Ia sempat terkejut melihat banyak penjaga bersiaga di depan rumah.
Namun di dalam, suasana justru sepi. Lalu ia mendapati Chaeyoung duduk di ruang tengah, terisak hebat.
“Chaeyoung! Hei, kenapa kau menangis?” tanya Jisoo, segera merangkul adiknya.
“Eomma… Eonni…!” isak Chaeyoung histeris.
“Tenang, apa yang terjadi pada eomma?” tanya Jisoo panik.
Chaeyoung menceritakan segalanya, membuat Jisoo terkejut dan tak percaya. “Sekarang di mana eomma?”
“Appa bawa ke rumah sakit,” jawab Chaeyoung.
“Kalau begitu, Eonni akan ke sana sekarang juga.”
“Aku ikut!” rengek Chaeyoung.
Jisoo mengangguk dan membantunya berdiri. “Baik, cepat bersiap. Kita berangkat sekarang.”
KAMU SEDANG MEMBACA
The Brightest
Bí ẩn / Giật gânBebek berenang mungkin terlihat tenang, namun siapa sangka kakinya terus bergerak cepat untuk menjaganya agar tidak tenggelam. ---------------------------- "Terlalu banyak hal yang membuat pikiranku ingin meledak rasanya." -Jisoo- "Akan kutunjukkan...
