Jisoo memarkirkan motornya di halaman sebuah rumah sederhana yang berdiri di pinggir kota, jauh dari riuhnya lalu lintas dan hiruk-pikuk kehidupan metropolitan.
Rumah itu tampak biasa saja dari luar, tapi siapa sangka bahwa di dalamnya tersembunyi sesuatu yang tidak biasa.
Ia melangkah masuk, langsung menuju sebuah ruangan di bagian belakang. Saat pintu terbuka, tampaklah deretan komputer berjajar rapi, layar-layar menyala menampilkan berbagai data dan peta digital.
"Wihh, sekarang jadi sultan rupanya. Motornya aja beda!" seru seorang pria muda dari depan komputer, menyambut Jisoo dengan nada menggoda.
Pletak!
Jisoo menepuk belakang kepala pria itu dengan santai namun tepat sasaran.
"Aduh! Sakit, Chikin! Kau mau otakku jadi tumpul gara-gara itu, hah?" omel pria itu, mengusap kepalanya sambil meringis.
"Lebay sekali, dasar alien!" cibir Jisoo sambil duduk di sebelahnya. "Bagaimana? Ada perkembangan?"
Pria itu, Seokjin, menggeleng pelan.
"Belum ada gerakan mencurigakan, Jisoo. Semuanya masih sepi... terlalu sepi."
Jisoo menautkan jari-jarinya dan memijat pelipisnya sendiri. Wajahnya tegang, penuh beban pikiran.
"Jisoo, kau yakin ingin teruskan semua ini?" tanya Seokjin pelan.
Jisoo menarik napas panjang, berat. "Aku tak bisa mundur, Seokjin. Aku harus tahu alasan ayahku melakukan semua itu. Dia... dia mengorbankan dirinya demi sesuatu yang masih belum bisa kupahami."
Seokjin terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada serius, "Tapi aku menemukan sesuatu yang penting."
Jisoo menatapnya penuh harap. "Apa itu?"
"Kau pernah dengar tentang organisasi L'Obscurité Rose?"
Jisoo menaikkan satu alis. "L'obs... celurit naon?"
Plak!
Kini giliran Seokjin menyentil kening Jisoo.
"Yak! Sakit, tahu!" keluh Jisoo sambil mengusap keningnya.
"L'Obscurité Rose, Chikin! Kau ini benar-benar... bahasa Prancis saja kau ejek," gumam Seokjin kesal.
"Jangan gaya-gayaan pakai bahasa asing deh. Aku ini alien Korea asli, tahu!" omel Jisoo dengan wajah sebal.
Seokjin menghela napas panjang, menahan kesal pada sahabatnya yang keras kepala itu. Tapi ia tetap melanjutkan.
"Dengar baik-baik. L'Obscurité Rose adalah organisasi bawah tanah. Mereka punya pengaruh besar, dari Korea hingga Prancis. Dan... mereka ada kaitannya dengan kasus ayahmu."
Jisoo membeku. "Apa maksudmu... ber-kaitan?"
"Pada tahun 1990, ayahmu tercatat sebagai anggota mereka. Tapi sebelum tahun 2000, ia mengundurkan diri dan masuk militer. Enam tahun kemudian, tragedi itu terjadi—penahanan ayahmu. Semuanya bukan kebetulan, Jisoo."
Tubuh Jisoo mulai bergetar. "Jadi... maksudmu..."
Seokjin menggenggam tangannya dengan lembut. "Ayahmu difitnah. Dia ingin keluar dari organisasi iblis itu, dan mereka ingin menyingkirkannya. L'Obscurité Rose adalah otak di balik penyelundupan obat-obatan, senjata, bahkan pembunuhan. Dan kita harus menggali lebih dalam."
Jisoo mengangguk pelan. "Itu pasti sulit, Seokjin..."
"Benar. Mereka sangat tertutup dan identitas anggotanya hampir mustahil dilacak. Tapi... ada satu ciri khas."
"Apa itu?" tanya Jisoo penuh rasa ingin tahu.
"Setiap anggota memiliki tato yang sama. Tapi belum ada yang bisa memastikan seperti apa bentuknya."
Jisoo bangkit perlahan. "Aku akan cari tahu."
Saat ia melangkah keluar, Seokjin memanggil pelan, "Jisoo-ya..."
Jisoo berhenti dan menoleh. "Apa?"
"Salah satu saudari tirimu... dia bagian dari L'Obscurité Rose."
-------------
Sementara itu, di Mension Keluarga Kim...
Chaeyoung duduk termenung di ruang keluarga, menatap televisi dengan pandangan kosong. Mood-nya hari ini benar-benar hancur. Setelah dengan penuh harapan ia menyanyikan lagu untuk kakak tirinya, Jennie, respons yang didapat justru dingin dan menyakitkan. Ia diusir dari studio tanpa sepatah kata pun.
Beberapa saat kemudian, Jennie turun dari kamarnya, tanpa ekspresi. Ia mengambil camilan dari meja dan duduk di sofa, tepat di samping Chaeyoung. Sikapnya santai, seolah tak terjadi apa-apa. Chaeyoung hanya melirik sekilas, lalu kembali memalingkan pandangan.
Ting... nong...!
Suara bel mension memecah keheningan. Seorang penjaga datang menghampiri Hyorin, ibu tiri Chaeyoung dan Jennie.
"Maaf, Nyonya. Ada kiriman untuk Anda," lapor penjaga itu sambil menunjuk kotak besar berwarna pink yang dihiasi pita indah.
"Dari siapa?" tanya Hyorin dengan alis terangkat.
"Pengirimnya hanya bilang dia teman lama Anda, Nyonya."
Meski ragu, Hyorin menerima kotak itu. Chaeyoung segera berdiri dan menghampiri sang ibu. Dari kejauhan, Jennie memperhatikan dengan seksama.
"Apa ini, Eomma?" tanya Chaeyoung penasaran.
"Aku juga tak tahu," jawab Hyorin sambil membaca kartu yang menyertai kotak tersebut.
"Untuk teman lamaku, Min Hyorin. Semoga kau baik-baik saja. Di dalam kotak ini, kutitipkan harapan dan hadiah kecil untuk keluarga barumu. Selamat menikmati."— Old Friend
Hyorin memandangi kotak itu. Warnanya cantik, tampilannya manis. Tapi hatinya berkata lain. Ada sesuatu yang tidak beres.
Saat tangannya menyentuh tutup kotak dan mulai membukanya...
Syutttt!!!
Sebuah benda tajam melesat keluar dari dalam kotak, tepat menuju wajah Hyorin.
"AWAS!!" teriak Jennie, sigap menarik ibunya ke belakang.
Benda itu tetap menggores pipi Hyorin sebelum menancap di langit-langit. Jennie dan Hyorin jatuh ke lantai.
"Eomma!!" teriak Chaeyoung panik, tubuhnya gemetar. Jiyong, kepala keluarga, langsung datang berlari.
"Apa yang... YA AMPUN!! Yeobo!!"
Tes... tes... tes...
Darah menetes dari pipi Hyorin. Chaeyoung menjerit histeris. "Ini... ini teror!!"
Jennie berdiri, tatapannya gelap. Ia melihat isi kotak—bunga marigold berlumuran darah segar, simbol kehancuran dan kematian. Di tengahnya, secarik kertas:
"Nikmati hadiah kecil ini, Hyorin. Semoga keluargamu hancur… seperti suami pertamamu."
Jiyong meraung marah.
"KEPALA KEAMANAN!! MANA TAEMIN!! APA KALIAN TIDUR?!! LIHATLAH ISTERIKU TERLUKA!!"
Sementara Hyorin segera ditangani oleh dokter keluarga, Jennie berdiri dengan penuh kemarahan. Tatapannya tajam, penuh dendam.
Ia berjalan menjauh, mengeluarkan ponselnya.
"Halo... Aku butuh bertemu. Sekarang. Di markas," ucapnya datar, lalu memutus sambungan.
Ia berjalan menuju garasi, naik ke mobilnya, dan melaju keluar dari mension—menuju pusat badai yang akan segera meletus.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Brightest
Mystery / ThrillerBebek berenang mungkin terlihat tenang, namun siapa sangka kakinya terus bergerak cepat untuk menjaganya agar tidak tenggelam. ---------------------------- "Terlalu banyak hal yang membuat pikiranku ingin meledak rasanya." -Jisoo- "Akan kutunjukkan...
