14. I'm Sorry, Sam

210 37 0
                                        

Di hari yang sama, tapi dari sudut pandang Miya Atsumu

Malam ini, aku mencoba kembali melakukan beberapa teknik sederhana dari bola voli. Entahlah aku tidak tahu penyebabnya, mungkin karena aku rindu akan ini semua?

Tapi semuanya terasa hampa. Dengan keterbatasanku sekarang, aku tidak bisa bergerak bebas seperti dulu lagi. Aku tersungkur ke tanah. Sakit. Tapi hatiku terasa lebih menyakitkan. Begitu menyakitkan. Menerima kenyataan bahwa mungkin saja aku tidak bisa bermain lagi.

Aku tidak sadar daritadi aku diperhatikan Osamu. Dia menghampiriku, dan menenangkan ku yang sudah terlanjur menangis tersedu-sedu. Dia memelukku, seperti biasanya. Pelukannya hangat. Aku suka itu.

Dia adik yang baik. Dia mau menjagaku yang sekarang ini tidak sempurna. Cacat. Aku sebenarnya sudah menyerah dari dulu. Tapi dia berusaha menguatkanku. Walaupun rasanya itu semua tidak berguna bagiku.

Maafkan aku, Sam. Aku tadi membasahi bajumu dengan air mataku. Aku juga sempat memukuli badanmu. Tapi entah kenapa dia tidak begitu merasa kesakitan. Tidak membalasku seperti dulu. Mungkin karena kini aku sudah tidak punya tenaga seperti dulu. Tubuhku juga semakin kurus. Atau mungkin, karena dia sangat kasihan kepadaku? Hahaha sungguh menyedihkan diriku sekarang.

Sebenarnya aku juga sedang menangis sekarang. Menangis di kegelapan kamarku. Seperti biasa. Semenjak semua ini terjadi padaku, menangis dan melamun adalah kebiasaan baruku. Rasanya menyenangkan.

Kamar kami berada di lantai dua. Itu karena tidak ada satupun kamar di lantai bawah. Aku sangat berterimakasih pada Osamu. Karena dialah yang membantuku untuk naik ke kamarku.

“Ngga papa. Lo ngga berat-berat amat juga”.

Itulah yang sering dia katakan ketika aku menanyainya kenapa dia sampai mau menggendongku ke lantai atas.

Aku menghampiri kamarnya. Lampu kamarnya masih menyala. Aku pikir dia masih terjaga. Tapi setelah aku mengetuk pintunya, tidak ada sahutan.

Aku masuk ke kamarnya. Ternyata dia ketiduran di meja kerjanya. Wajahnya menunjukkan bahwa dia kelelahan. Kantung matanya menghitam. Maafkan aku Sam. Ini semua salahku. Kamu yang melakukan ini semuanya sendirian. Kamu di malam hari pasti terjaga kan karena aku sering menangis?

Berkali-kali aku merasa bersalah. Berkali-kali aku meminta maaf padanya. Aku hanya beban sekarang. Aku sering merepotkanmu. Kenapa dulu ketika aku ingin mati, kamu cegah? Bukankah lebih baik aku mati saja? Untuk apa aku hidup? Toh semua usaha yang telah kau lakukan sia-sia?

Aku mengambil selimut dan menyelimuti tubuhnya. Aku tidak mau dia sakit. Lalu aku mematikan lampu kamarnya. Dan pergi. Ya semua ini aku lakukan di atas kursi rodaku. Aku sudah mulai terbiasa. Tapi rasanya tidak nyaman.

Thank you, Sam. Lo adik yang sangat baik. Entah. Gue ga yakin apakah gue bisa bales semua kebaikan Lo. Sekali lagi terimakasih. Gue minta maaf gue cuma bisa jadi beban buat Lo.

EVANESCENT [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang