30. Farewell

193 36 5
                                        

Aku sampai di rumah. Para pelayat banyak yang sudah pulang dan rumahku mulai sepi. Hanya ada teman-teman dekat kami yang masih disana, seperti Rintarou, Koutarou, dan yang lainnya.

Langkahku terhenti di ruang tamu. Semua kursi di sana sudah dipindahkan. Di ujung ruang tamu itu diganti dengan beberapa karangan bunga dan foto Atsumu di tengah-tengahnya. Sebuah foto lama.

Aku kini bisa melihat Atsumu tersenyum lebar lagi. Tapi senyumannya tidak bisa aku lihat lagi secara langsung. Aku tersenyum pilu melihatnya, air mataku juga masih mengalir.

Lalu aku melangkahkan kakiku lagi. Tapi bedanya ini ke kamar Atsumu. Aku ingin melihat kamarnya. Rintarou sempat menyapaku. Tapi aku tak menggubrisnya.

Aku membuka kamar Atsumu, yang kini berubah menjadi kamar kosong. Aroma khas kamar dia tercium semerbak. Aku mengambil foto dia yang baru saja tercetak tadi. Aku bersandar di kasurnya dan memeluk foto itu erat-erat. Lalu aku menangis terisak. Hari ini aku cengeng sekali.

Aku menutup mataku sebentar. Maksud untuk mencoba menenangkan diri. Tiba-tiba tubuhku terasa digoncang seseorang. Aku pikir itu ulah Rintarou.

“Jangan ganggu gue, Rin.”

“Yaelah dasar kebo, tidur mulu lo. Bangun anjir. Atau gue bangunin lo pakek air se ember, mau?”

“Atsumu jangan begitu banguninnya. Sama saudara sendiri ngga boleh nakal. Coba bangunin pelan-pelan.”

“Iya iya maaf...”

Aku terkejut mendengar suara itu. Suara yang sangat familiar. Itu suara Atsumu dan bunda. Lalu aku mencoba membuka mataku. Dan benar saja, ada Atsumu dihadapan ku. Tapi anehnya, kenapa dia bisa berdiri? Dan kenapa bajuku kini berubah menjadi baju tidur? Bukankah tadi aku memakai baju serba hitam?

“Kok lo kayak orang linglung sih. Dan kenapa tadi lo ngira gue si mata sipit tukang gosip itu? Beda anjir. Gantengan gue malah.”

Aku masih bingung. Itu benar-benar Atsumu. Apakah tadi aku baru saja bermimpi? Tapi kenapa terasa sangat nyata.

“Lo beneran Atsumu?”

“Iyaaa ini gue. At-su-mu. Siapa lagi yang punya muka mirip sama kayak lo selain gue.”

“Sejak kapan lo bisa jalan?”

“Ya sejak balita lah, gimana sih pertanyaan lo aneh banget.”

Aku bangun dan memeluknya. Awalnya dia kaget, tapi kemudian membalas pelukanku.

“Sikap Lo aneh banget sih. Ngga kek biasanya. Habis kesambet apa Lo?”

“Ngga gue pengen aja...”

“Yaudah lepasin dulu. Gue sama ayah sama bunda mau pergi sebentar. Katanya lo sibuk ngga bisa ikut.”

Aku melepas pelukannya. Lalu aku mengantarnya ke depan. Dan benar saja. Di ruang tamu sudah ada ayah dan bunda yang sedang menunggu. Lalu mereka pergi bersama. Tapi kenapa ada yang terasa janggal?

Sebentar, kenapa mereka berhenti di gerbang depan dan melambaikan tangan?

Keanehan benar-benar terjadi. Tubuh mereka tiba-tiba terkikis sedikit demi sedikit menjadi butiran-butiran kecil yang bercahaya lalu berterbangan seperti kunang-kunang. Apa yang sedang terjadi?

Aku mencoba menghampiri mereka. Tapi tubuhku tertahan ketika sampai di pintu depan. Seperti ada sebuah tembok tak terlihat yang mencoba menghentikan ku.Tubuh mereka semakin hilang dan semakin banyak butiran-butiran yang terbang ke langit.

Aku semakin panik, aku mencoba menghancurkan sekat tak terlihat itu. Tapi nihil. Tembok tak terlihat itu tak bisa dihancurkan. Setelah tubuh mereka sepenuhnya hilang, tembok pembatas itu baru bisa retak kemudian hancur.

Aku menerobos sekat itu, tak peduli tubuhku terluka karena pecahannya. Tapi pemandangan di depanku tiba-tiba hancur berkeping-keping dan berganti menjadi ruangan yang gelap. Tubuhku kemudian terjatuh ke dalam ruangan yang gelap tanpa ujung tersebut.

EVANESCENT [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang