Tiba saatnya penyerahan piala dan pengalungan medali. Mereka pantas mendapatkannya. Dan aku ikut bangga kepada mereka.
Ditengah proses pengalungan medali, tiba-tiba Koutarou berlari ke tribun penonton sambil membawa sebuah medali ditangannya. Dia menghampiri Atsumu dan mengalungkan medali tersebut ke lehernya. Kemudian mereka berpelukan dan menangis bahagia bersama.
Lalu Koutarou menggendong Atsumu ke bawah dan mengajakku untuk ikut turun juga.
“Samu, lo ikut juga ke bawah. Kita foto bareng.”
“Tapi gue kan...”
“Udah ih ikut aja”.
Kami turun ke bawah dan langsung duduk di bagian paling depan untuk berfoto. Aku lihat Atsumu tersenyum sumringah di saat pemotretan. Aku turut bahagia. Lalu aku mengambil kursi roda yang tertinggal di tribun tadi dan mendudukkan Atsumu di sana.
Mereka sempat mengajak kami untuk merayakan kemenangan setelah ini. Tapi aku menolaknya dan Atsumu setuju dengan penolakan itu.
“Gue ngga pantes ikut ngerayain, karena gue ngga ikut andil. Gue juga ngerasa ngga pantes dapet medali ini,” ucap dia sambil menunjukkan medali di lehernya.
“Ngga. Lo masih pantes dapet medali itu, lo kan masih bagian dari tim ini,” jelas Koutarou.
“Tapi untuk perayaan, sepertinya gue ngga ikut dulu. Gue juga harus istirahat malam ini. Yakan, Sam?” tanya Atsumu kepadaku.
“Iyaa. Dia harus banyak-banyak istirahat”.
Dari wajahnya sudah tergambar dengan jelas. Sebenernya Atsumu ingin ikut perayaan itu, berkumpul dengan teman-temannya, bersenda gurau bersama. Tapi dia merasa tidak enak. Mengingat dia hanya melihat pertandingan tersebut dari tribun penonton. Tak lama kemudian mereka pamit pergi karena tidak mau memaksakan kehendak Atsumu.
Tempat ini mulai sepi. Hanya kami berdua dan beberapa orang yang tidak ku kenal yang masih berada di sini.
“Sam. Foto bareng kuy. Setelah ini fotoin gue sendirian juga.”
Aku mengambil handphone di sakuku. Kulihat pesanku tadi belum juga dibalas. Aku membiarkannya dan langsung membuka kamera untuk foto bersama. Aku juga memfoto Atsumu beserta medalinya. Dia tersenyum lebar di foto tersebut.
Aku ingin mengajaknya pulang karena khawatir pulang kesorean. Tapi dia mencegahku.
“Sebelum lo pulang, boleh ambilin bola voli di rak?”.
“Buat apa?”.
“Udahh ambilin aja nanti juga tau”.
Aku menuruti permintaannya. Aku masih bingung, untuk apa dia menyuruhku seperti ini?
“Lo inget serangan kombinasi kita beberapa tahun yang lalu?”
“Inget lah.”
“Gue pengen sedikit nostalgia. Kita lakuin serangan kombinasi itu. Sekali aja.”
“Lo kan tau gue udah lama ngga main voli lagi, Tsum.”
“Tapi ngga sampai nyebabin lo lupa kan?”
“Hahhh yaudah-yaudah. Sekali loh.”
“Iya bos siap.”
Aku mengambil ancang-ancang untuk melakukan spike. Setelah bola itu berhasil diumpankan di dekatku, aku langsung memukulnya dengan keras. Suara bedebum terdengar keras di tempat yang mulai sepi ini.
“Spike lo masih bagus tuh.”
“Bacot lu ah. Ayo pulang”.
“Ngga ada niatan balik main lagi kah?”
“Ngga ada. Titik.”
Kami pun pulang. Hujan juga sudah reda. Aku lihat dia terkekeh-kekeh melihat reaksiku. Menyebalkan. Tapi aku bahagia. Entah kenapa hari ini dia berperilaku seperti seseorang yang normal, tidak seperti penderita depresi pada umumnya. Aku harap ini sebuah pertanda yang baik.
KAMU SEDANG MEMBACA
EVANESCENT [Completed]
FanfictionMiya Atsumu, seorang atlet voli yang mengalami kejadian tragis yang mengubah hidupnya. Kini ia menjadi pribadi yang berbeda dengan dirinya sebelumnya. Bisakah adik kembarnya, Miya Osamu, mengembalikan Miya Atsumu kembali menjadi dirinya sebelumnya?
![EVANESCENT [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/283953640-64-k640577.jpg)