Back to hogwarts

2.8K 144 1
                                        

✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧

(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ¹)


Gaun putih selutut itu berayun lembut, kain sutranya menangkap hembusan angin pagi yang menyelinap nakal di antara pilar-pilar bata King's Cross Station. Rambut cokelat panjang gadis itu tergerai, jatuh di punggungnya seperti aliran sungai yang tenang, memantulkan bias cahaya matahari yang mencoba menembus kabut stasiun. Ia melangkah ringan, sepatu hak rendahnya mengetuk lantai beton dengan irama yang terukur, membelah lautan manusia yang hiruk-pikuk.

Di sekelilingnya, dunia sihir sedang dalam kekacauan yang menyenangkan. Teriakan orang tua yang panik, bunyi roda koper yang beradu, serta decak burung hantu yang gelisah dari dalam sangkar menciptakan simfoni khas tanggal satu September. Namun, bagi Genevieve, Platform 9¾ hari ini terasa mencekik.

Tatapan-tatapan itu ada di mana-mana.

Mereka tidak sekadar melihat. Mereka menelisik. Beberapa pasang mata hanya singgah sekejap, namun yang lain melekat, penuh rasa ingin tahu yang tak disembunyikan, penilaian diam-diam, dan bisik-bisik yang sengaja direndahkan namun tetap tajam di telinga. Genevieve bisa merasakan beban atensi itu di kulitnya, seolah ia sedang berdiri di bawah lampu sorot panggung yang terlalu terang.

Ia menegakkan bahu, dagunya terangkat sedikit lebih tinggi. Wajahnya adalah topeng porselen yang sempurna, tenang dan tak tersentuh, mengubur dalam-dalam ketidaknyamanan yang menggelitik ulu hatinya.

Genevieve Eudora Rosier.

Nama itu bukan sekadar identitas; itu adalah pernyataan.

Sebagai putri bungsu keluarga Rosier, ia memikul warisan darah murni yang telah terukir dalam sejarah sihir selama berabad-abad. Ayahnya, Nolan Caspian Rosier, adalah manifestasi dari prinsip kuno, pria yang dingin, keras, dan setajam tongkat sihirnya. Sementara ibunya, Vivienne Edeline Rosier, adalah definisi keanggunan yang mematikan, wanita dengan senyum diplomatik yang tak pernah retak, baik di meja makan keluarga maupun di pesta dansa Kementerian.

Gene tumbuh dibentuk oleh tatapan-tatapan semacam ini. Sejak ia bisa berjalan, ia sudah diajari bahwa setiap gerakannya adalah representasi keluarga. Cara ia berbicara, cara ia berdiri, bahkan cara ia memegang cangkir teh, semuanya dinilai. Dibandingkan. Diharapkan. Diawasi.

Namun, terbiasa bukan berarti menyukai.

Hari ini, kembali ke Hogwarts untuk tahun keempat, perasaannya adalah adukan rumit antara antisipasi dan kecemasan. Menara-menara batu kastil itu memanggilnya, menjanjikan pelarian dari kesunyian Manor yang dingin, namun juga membawa tantangan baru. Ia bukan lagi anak kecil, namun kedewasaan masih terasa seperti konsep yang jauh.

Di sisinya, berjalan sosok yang menjadi jangkarnya. Nikolas Evan Rosier.

Niko, kakaknya yang duduk di tahun keenam, melangkah dengan aura otoritas yang alami. Sebagai putra sulung, ia memiliki karisma Slytherin yang khas; tatapan tajam yang mengintimidasi dan postur tegap yang membuat kerumunan secara otomatis menyingkir memberinya jalan. Ia berjalan sedikit di depan Gene, bahunya yang lebar secara tak sadar membentuk perisai di sekeliling adiknya, menghalau siapa pun yang berani mendekat terlalu rapat.

Gene menyadari gestur protektif itu dan menghembuskan napas lega yang nyaris tak terdengar.

Ketika peluit nyaring Hogwarts Express memecah udara, uap putih tebal mengepul, menyelimuti peron dalam selimut kabut. Gene menaiki gerbong, jari-jarinya menyentuh dinginnya besi pegangan pintu. Matanya yang jeli menyapu koridor sempit, mencari tempat berlindung.

My Dearest MalfoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang