✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧
(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ⁵)
Previously
Lalu, kekacauan meledak.
"APA?! POTTER?!" Draco berdiri, kursinya berderit keras. Wajahnya merah padam karena amarah. "Anak itu baru empat belas tahun! Ini curang!"
Teriakan protes menggema dari setiap meja. Hufflepuff marah karena momen Cedric dicuri. Slytherin marah karena kecurangan yang nyata. Ravenclaw berbisik-bisik penuh analisis.
Aku terpaku di tempat dudukku, mataku menatap sosok kurus Harry Potter yang berjalan kaku menuju Dumbledore. Wajahnya pucat pasi, matanya menyiratkan ketakutan murni, bukan kemenangan.
....
(A Few Months Later - November)
November datang ke Hogwarts membawa peringatan akan musim dingin yang kejam. Langit senja itu tidak berwarna jingga atau ungu, melainkan abu-abu memar, sisa dari badai yang baru saja reda beberapa jam lalu.
Setelah kelas terakhir usai, ketika sebagian besar murid memilih meringkuk di depan perapian asrama, kakiku justru membawaku keluar. Udara berbau tanah basah, daun busuk, dan air danau yang dingin. Aku mengeratkan syal wol di leherku, melangkah menyusuri tepian Black Lake yang airnya tampak seperti kaca hitam raksasa.
Di sana, di bawah naungan pohon beech tua yang dahan-dahannya mulai gundul, aku menemukan sosok itu.
Cedric Diggory duduk sendirian. Jubah kuning-hitam Hufflepuff-nya sedikit kotor di bagian ujung, dan rambut cokelatnya, yang biasanya tertata rapi, kini acak-acakan ditiup angin. Ia menatap permukaan danau dengan tatapan kosong, seolah sedang mencari jawaban di kedalaman air yang gelap.
Aku menghela napas panjang, menyiapkan mental sebelum mendekat. "Hey, Ced."
Cedric tersentak pelan, lalu menoleh. Saat mata abu-abunya bertemu denganku, ketegangan di bahunya sedikit mencair. "Gene."
Aku duduk di sebelahnya, tidak memedulikan rumput basah yang mungkin akan mengotori jubahku. Suasana di antara kami berat, berbeda dari pertemuan-pertemuan sebelumnya yang penuh tawa.
"Kau sudah tahu, kan?" tanyaku pelan, suaraku nyaris hilang ditelan angin. "Tentang Tugas Pertama?"
Cedric mengangguk lambat. Rahangnya mengeras. "Potter menghampiriku kemarin. Dia memberitahuku bocoran itu. Hagrid menunjukkan padanya apa yang didatangkan panitia ke Hutan Terlarang." Ia menelan ludah, lalu menatapku lurus. "Naga, Gene. Kami harus menghadapi naga."
Aku terbelalak, menutup mulut dengan tangan. "Demi Salazar... Naga?" Bisikku ngeri. "Itu gila. Itu bunuh diri, Ced."
"Empat ekor. Satu untuk masing-masing juara," tambahnya dengan senyum getir.
Rasa takut yang dingin menjalar di dadaku, lebih dingin dari udara November. Cedric adalah penyihir hebat, tapi naga adalah monster pembunuh kelas atas. "Kau harus berhati-hati. Benar-benar berhati-hati. Janji padaku kau tidak akan mengambil risiko bodoh demi pamer."
Cedric terkekeh pelan, mengusap puncak kepalaku dengan sayang. "Tenang saja, Sepupu. Aku masih ingin hidup sampai lulus. Aku tidak akan gegabah."
Kami duduk dalam diam selama beberapa saat, membiarkan suara ombak danau mengisi kekosongan. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
"Genevieve."
Suara itu datang dari belakang, datar dan dingin, memotong momen emosional kami seperti pisau bedah.
Aku menoleh. Di jalan setapak berbatu, berdiri Draco Malfoy. Angin mempermainkan jubah hijau zamrudnya dan syal perak yang melilit lehernya. Rambut platinanya tampak bersinar kontras dengan langit yang mendung. Ia berdiri dengan satu tangan di dalam saku celana, dagunya terangkat dengan arogansi khas yang menyebalkan namun entah kenapa selalu menarik perhatian.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Malfoy
Fanfiction"I want to make u mine in front of the world" -Draco Lucius Malfoy "And one day ur name didn't make me smile anymore" -Genevieve Eudora rosier- "to my dearest, draco malfoy" #1:mattheoriddle (20/05/2022) #1:Williamfranklynmiller(30...
