WHAT, POTTER ?

1.2K 84 0
                                        

✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧
(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ⁴)

Previously

"Kalian harus paham," lanjut Moody, matanya kembali menyapu kami semua. "Dunia di luar sana tidak ramah. Musuh kalian tidak akan ragu menggunakan mantra-mantra ini. Tugas kalian adalah bersiap. Constant Vigilance! Kewaspadaan terus-menerus!"

Saat bel berbunyi, kami keluar dengan diam. Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang bercanda. Bahkan Draco pun tak mengatakan sepatah kata pun. Pelajaran hari ini bukan sekadar teori sihir; itu adalah peringatan. Dan untuk pertama kalinya, bayang-bayang perang terasa nyata di koridor sekolah ini.

...

Malam itu, langit di atas Skotlandia seakan runtuh.

Hujan mengguyur dengan keganasan yang jarang terjadi, seolah semesta sedang menumpahkan seluruh amarahnya ke bumi. Angin utara yang membeku menusuk menembus lapisan jubah, menggigit kulit hingga ke tulang. Aku, Pansy, Daphne, Tracey, dan Millie berlari membelah halaman batu, langkah kami berpacu dengan badai.

Lantai koridor menuju Great Hall licin oleh cipratan air dan lumpur, membuat kami beberapa kali terhuyung. Namun, tidak ada yang peduli pada dingin atau basah. Adrenalin yang memompa di dalam darah kami jauh lebih panas. Malam ini adalah malam Halloween, malam penentuan.

Begitu kami menerobos masuk ke dalam Great Hall, kehangatan magis langsung menyelimuti kami seperti selimut tebal.

Aku segera mengeluarkan tongkatku. "Siccus," gumamku pelan, mengarahkan ujung tongkat ke jubah dan rambutku. Uap hangat mengepul sesaat, mengeringkan tetesan air yang membasahi pipi dan helai rambut cokelatku.

Pemandangan di depan kami sungguh menakjubkan.

 Aroma kayu manis, labu panggang, dan kegembiraan murni memenuhi udara. Di ujung ruangan, tepat di depan meja para staf, Goblet of Fire berdiri angkuh di atas peti emas. Lidah api biru keperakan menari-nari di bibir piala itu, liar dan memikat, menantang siapa saja yang cukup berani untuk mendekat.

Mataku menyapu lautan murid yang berdesakan. Di antara kerumunan jubah hitam, aku menangkap siluet kuning kenari yang begitu familiar.

Pemuda itu berdiri dikelilingi teman-temannya, rambut cokelatnya yang sedikit berantakan justru menambah pesonanya. Ia tertawa, sebuah tawa yang selalu berhasil membuat orang lain ikut tersenyum.

"Cedric!" seruku spontan, melupakan etiket sesaat.

Aku bergegas membelah kerumunan, setengah berlari ke arah meja Hufflepuff.

Cedric Diggory menoleh. Senyum di wajahnya melebar seketika saat melihatku. "Gene?"

Tanpa ragu, ia membuka kedua lengannya. Aku menghambur ke dalam pelukannya. Aroma parchment, rumput segar, dan sabun cedarwood menguar darinya. Pelukan Cedric selalu terasa seperti rumah, aman dan menenangkan, kontras dengan dinginnya asrama Slytherin.

"Demi Merlin, kau membuatku kaget," kekehnya, melepaskan pelukan namun tetap memegang bahuku dengan hangat. Matanya yang abu-abu menatapku lembut. "Bagaimana kabarmu, Sepupu?"

"Baik, sangat baik," jawabku antusias. Mataku melirik ke arah Goblet yang menyala biru di belakangnya. "Ced... apa kau benar-benar mendaftar?"

Wajahnya berubah serius, namun matanya berbinar penuh tekad. "Tentu saja. Ini kesempatanku, Gene."

"Kalau begitu," aku meremas lengannya pelan, menyalurkan dukungan, "aku harap api itu memilihmu. Kau pantas mendapatkannya."

Cedric tersenyum miring, penuh percaya diri namun tetap rendah hati. "Doakan aku, ya."

My Dearest MalfoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang