✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧
(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ⁹ )
Previously
Draco menyeringai, lalu dengan gerakan natural, tangannya yang bebas terulur untuk menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga. Sentuhan kulitnya yang dingin di pipiku yang panas membuat dunia di sekitar kami seolah memudar.
Satu per satu juara lain maju. Fleur dengan mantra tidurnya, Viktor dengan kutukan matanya, dan Harry dengan kemampuan terbangnya yang luar biasa. Namun, di tengah gemuruh naga dan teriakan ribuan siswa, fokusku terbagi.
Sebagian diriku bersorak untuk kemenangan sekolah, namun sebagian lagi, bagian yang lebih besar dan lebih hangat, tenggelam dalam kenyamanan genggaman tangan Draco.
....
Setelah kelas Astronomi di puncak menara tertinggi berakhir, rasa lelah seakan merembes ke dalam tulang-tulangku. Langkah kakiku terasa berat saat menuruni tangga spiral yang tak berujung, menyusuri koridor batu Hogwarts yang mulai senyap. Lilin-lilin di sepanjang dinding bergoyang lembut ditiup angin malam, bayangan mereka menari-nari di lantai, seolah menuntunku pulang ke bawah tanah.
Sesampainya di Ruang Rekreasi Slytherin, suasana tampak lengang. Hanya ada segelintir murid tahun ketujuh yang masih terjaga dengan buku-buku tebal mereka. Suara gemericik api hijau di perapian menjadi satu-satunya musik pengiring malam itu.
Aku terus melangkah menuju asrama putri.
Begitu membuka pintu kamar, kehangatan langsung menyapaku. Pansy dan Daphne sedang duduk santai di atas kasur masing-masing, wajah mereka berkilau diterangi cahaya lilin temaram. Mereka tampak asyik bercakap-cakap dengan nada rendah, seperti sedang membagi rahasia negara.
"Oh, Gene, akhirnya kau kembali!" seru Pansy riang, meletakkan majalah Witch Weekly yang sedang dibacanya. "Cepat ganti pakaian. Wajahmu terlihat seperti zombi yang butuh tidur."
Aku tertawa kecil, melepas jubah sekolahku dan menggantungnya rapi di dalam lemari mahoni. Jemariku meraih piyama sutra berwarna baby blue kesukaanku. Kainnya yang dingin dan lembut menyentuh kulit, seolah membasuh semua kelelahan hari ini.
Setelah berganti pakaian, aku melompat ke kasur Pansy, duduk di antara mereka berdua. "Jadi, apa yang sedang kalian bicarakan? Terdengar serius."
Pansy dan Daphne saling bertukar pandang penuh arti, senyum jahil terukir di wajah mereka.
"Entah ini hanya perasaanku saja," Pansy memulai, matanya berbinar licik, "tapi sepertinya Eloise Zabini mulai... tertarik pada kakakmu, Niko."
Daphne menutup mulutnya menahan tawa. "Benar! Kemarin aku melihat Niko mengajaknya berjalan bersama ke Perpustakaan. Kau harus melihat wajah Elle, Gene. Merahnya mengalahkan kepiting rebus."
Aku ikut tertawa, membayangkan Elle yang pemalu bersanding dengan Niko yang dingin dan berwibawa. "Astaga, itu manis sekali! Bayangkan jika mereka pergi kencan. Itu akan menjadi pasangan yang tidak terduga tapi menggemaskan."
Obrolan kami mengalir ringan, membahas gosip asrama dan gaun pesta, hingga suara ketukan tegas di pintu memecah tawa kami.
Kami bertiga terdiam, saling pandang. Siapa yang bertamu selarut ini?
Aku turun dari kasur dan membuka pintu. Di sana berdiri Mattheo Riddle, sepupuku yang lain. Posturnya tinggi menjulang, rambut cokelat ikalnya sedikit berantakan, dan wajahnya serius.
"Matt?" tanyaku bingung. "Ada apa?"
"Kalian bertiga. Sekarang," ujarnya singkat, suaranya berat. "Ditunggu di Ruang Rekreasi."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Malfoy
Fanfic"I want to make u mine in front of the world" -Draco Lucius Malfoy "And one day ur name didn't make me smile anymore" -Genevieve Eudora rosier- "to my dearest, draco malfoy" #1:mattheoriddle (20/05/2022) #1:Williamfranklynmiller(30...
