✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧
( ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ⁸)
Previously
Daphne menghela napas panjang, menarik selimutnya. "Besok akan menjadi hari yang panjang. Lebih baik kita tidur."
"Selamat malam," gumam Pansy, mematikan lilin di nakasnya.
Aku berbaring menatap kegelapan. Tubuhku lelah, tapi mataku enggan terpejam. Pikiranku melayang pada dua hal. Rasa takut yang mencekik untuk keselamatan Cedric besok pagi, dan rasa hangat yang aneh di bahuku, sisa dari berat kepala Draco yang bersandar di sana tadi sore.
Di tengah ketidakpastian dan bahaya yang mengintai Hogwarts, entah bagaimana, aku dan Draco justru semakin terikat. Dan mungkin, hanya mungkin, itu adalah satu-satunya hal baik di tahun yang gila ini.
......
Cahaya matahari pagi yang pucat menerobos masuk melalui jendela asrama, namun kehangatannya tak mampu mengusir ketegangan yang menggantung tebal di udara.
Pansy dan Daphne sudah siap sepenuhnya. Mereka berdiri di depan cermin besar, sibuk menyempurnakan penampilan. Pansy tampak tajam dengan eyeliner hitam yang membingkai matanya dan pita beludru hijau yang mengikat rambut bob-nya. Sementara Daphne memilih riasan natural dengan sentuhan lipstik warna peach yang membuat wajahnya terlihat bersinar meski diselimuti kecemasan.
Di sisi lain ruangan, aku masih berkutat dengan isi lemariku. Jemariku sedikit gemetar saat menyentuh gantungan baju. Hari ini bukan hari biasa. Hari ini adalah hari di mana empat nyawa akan dipertaruhkan demi kejayaan abadi.
"Gene, ayo! Kita sudah telat," seru Pansy panik, matanya melirik jam dinding perak yang berdetak tanpa ampun. Baginya, terlambat ke acara sepenting ini sama buruknya dengan mendapat detensi seumur hidup dari Snape.
"Sebentar lagi, aku siap," jawabku, berusaha menekan rasa gugup.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu dengan cekatan mengenakan pilihanku. Sebuah sweater berbahan cashmere lembut berwarna merah muda pucat yang memeluk tubuhku dengan pas, dipadukan dengan rok tenis putih bersih. Aku melapisi kakiku dengan stocking putih tipis dan mengenakan sepatu flat berwarna senada dengan atasan. Sebagai sentuhan akhir, aku mengenakan mantel bulu putih tebal dan bando mutiara di rambut cokelatku yang tergerai.
Daphne berbalik, menatapku dengan teliti dari pantulan cermin. "Kalian yakin kita sudah siap mental untuk ini?" tanyanya pelan. "Melihat naga dari dekat... itu bukan tontonan biasa."
Aku mengangguk mantap, meski perutku terasa melilit. "Kita harus siap. Cedric membutuhkan kita di sana."
Aku meraih tas kecilku, menyemprotkan sedikit parfum vanilla, dan melangkah menuju pintu. "Ayo. Jangan biarkan para juara menunggu."
..........
Langkah kaki kami bergema cepat saat menuruni tangga batu menuju Ruang Rekreasi Slytherin. Udara kastil terasa dingin menusuk, namun adrenalin membuat darahku tetap panas.
Begitu sampai di bawah, mataku langsung menemukannya.
Draco berdiri di dekat pintu keluar, bersandar santai di dinding batu. Ia mengenakan setelan hitam pekat dengan syal hijau-perak yang melilit lehernya. Saat melihatku, wajah datarnya mencair menjadi senyum miring yang khas. Tatapannya menyapu penampilanku dari ujung kepala hingga kaki, menyiratkan persetujuan yang jelas.
Tanpa kata, ia mengulurkan tangan.
"Semua sudah siap?" tanyanya saat aku menyambut uluran tangannya. "Ayo kita berangkat. Blaise dan Theo sudah memesan tempat di tribun paling depan."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Malfoy
Fanfikce"I want to make u mine in front of the world" -Draco Lucius Malfoy "And one day ur name didn't make me smile anymore" -Genevieve Eudora rosier- "to my dearest, draco malfoy" #1:mattheoriddle (20/05/2022) #1:Williamfranklynmiller(30...
