Beneath Winter's Veil

470 35 0
                                        

✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧

(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ¹⁵)

previously

"Gene..." bisiknya, menarikku ke dalam pelukannya yang gemetar.

"Dia jahat..." isakku di dada Draco, air mataku langsung membeku di pipi. "Dia menghancurkan semuanya... Natal ini... semuanya hancur..."

Draco memelukku erat, sangat erat, seolah berusaha menyatukan kembali kepingan hatiku yang pecah, di tengah badai salju yang menjadi saksi bisu kehancuran malam Natal kami.

..........

Aku mendongak menatapnya. Mata kelabunya yang biasanya angkuh kini penuh dengan rasa sakit dan kekhawatiran yang telanjang.

"Aku tidak ingin berpisah denganmu, Draco," bisikku, suaranya pecah di tengah deru angin. "I can't let you go."

Kata-kata itu keluar begitu saja, jujur dan menyakitkan, seolah hatiku sedang dirobek paksa dari rongga dadaku. Aku berdiri dan menghambur ke dalam pelukannya, melingkarkan lenganku di pinggangnya seerat mungkin. Tubuhku bergetar, bukan hanya karena dingin, tapi karena ketakutan murni akan kehilangan dirinya.

Draco membalas pelukanku dengan kekuatan yang sama. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leherku, tangannya menekan punggungku agar semakin rapat padanya.

"Aku juga tidak ingin berpisah denganmu, Love," bisiknya di telingaku, suaranya rendah namun penuh tekad baja. "Dunia boleh runtuh, tapi aku tidak akan melepaskanmu."

Aku mencengkeram kemeja putihnya yang kini basah oleh salju dan air mataku. "Tapi Father... dia sudah memutuskan. Kau tahu dia, Draco. Sekali dia bersabda, itu adalah hukum. Dia akan mengirimku ke Prancis."

Draco menarik napas panjang, lalu melepaskan pelukan kami sedikit untuk menatap mataku. Ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya yang dingin, mengusap air mata di pipiku dengan ibu jarinya.

"Kita akan mencari cara," ujarnya tegas. Matanya menyala dengan api yang belum pernah kulihat sebelumnya, api pemberontakan. "Kita harus meyakinkan ayahmu. Atau jika perlu... kita akan melawannya."

"Kau pikir dia akan mendengarkan?" tanyaku putus asa.

"Aku tidak tahu," jawab Draco jujur. Ia tidak memberiku janji manis palsu, dan aku mencintainya karena itu. "Tapi aku seorang Malfoy, dan kau seorang Rosier. Kita keras kepala. Aku akan melakukan apa saja, Genevieve. Apa saja untuk tetap bersamamu."

Ia menunduk dan mencium keningku lama, seolah sedang mematri janji di sana.

"Kita akan hadapi ini bersama," bisiknya.

Di tengah badai salju yang mengamuk, dalam pelukan pemuda yang dilarang untukku, aku akhirnya menemukan sedikit ketenangan. Selama Draco ada di sisiku, aku merasa sanggup menghadapi neraka sekalipun.

........

Malam berganti pagi dengan lambat. Natal di Manor Rosier tahun ini terasa kelabu.

Sejak pagi, aku mengurung diri di kamar. Lantai kamarku dipenuhi remasan kertas perkamen. Beberapa berisi surat yang belum selesai untuk Pansy dan Daphne, beberapa lagi berisi coretan frustrasi.

Cedric berulang kali mengetuk pintu, membujukku turun untuk sarapan atau sekadar minum cokelat panas, tapi aku menolak. Aku tidak ingin melihat wajah Father. Aku tidak ingin melihat Riel.

Satu-satunya hal yang membuatku tetap waras adalah burung hantu elang milik keluarga Malfoy yang datang setiap beberapa jam, membawa surat-surat singkat dari Draco. Tulisan tangannya yang tegak dan elegan menjadi jembatan yang menghubungkan kami. Kata-kata penyemangat, rindu, dan janji untuk bertemu di Diagon Alley menjadi oksigen bagiku.

My Dearest MalfoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang