✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧
(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ¹⁷)
Previously
Suara palu yang menghantam paku terdengar seperti lonceng kematian bagi kebebasan kami.
Dekrit Pendidikan Nomor 23: Dolores Umbridge ditunjuk sebagai Inkuisitor Agung Hogwarts.
Satu per satu peraturan baru ditempel. Guru-guru mulai diawasi. Siswa diinterogasi. Atmosfer kastil berubah menjadi dingin, penuh tekanan, dan diawasi oleh mata-mata dalam balutan merah muda. Aku menghela napas panjang, menyadari satu hal yang pasti. Hogwarts bukan lagi rumah yang aman. Kastil ini telah menjadi penjara.
.........
Keesokan paginya, langit di atas Hogwarts berwarna kelabu pucat, seolah ikut berduka atas tirani yang sedang menyelimuti kastil. Kami baru saja melangkah keluar dari kelas Ramuan di bawah tanah, aroma belerang dan akar asphodel masih menempel di jubah kami, ketika suara keributan yang tidak wajar terdengar dari arah Courtyard utama.
"Apa itu?" tanya Draco, alisnya berkerut. Ia merangkul bahuku erat, insting protektifnya langsung menyala. "Terdengar seperti seseorang sedang berteriak histeris."
"Mungkin ini ulah Umbridge lagi," gumam Blaise di samping kami, nadanya bosan namun matanya waspada. "Wanita kodok itu tidak pernah kehabisan cara untuk merusak hari seseorang."
Tiba-tiba, aku melihat Niko, Riel, Matt, dan Cedric berjalan tergesa-gesa dari arah koridor berlawanan. Wajah mereka tegang dan serius.
"Riel!" panggilku saat ia hendak melewatiku. "Ada apa ini?"
Riel berhenti mendadak, napasnya sedikit memburu. Tanpa banyak bicara, ia meraih tanganku. "Profesor Trelawney," jawabnya singkat. "Kau harus melihat ini."
Kami semua bergegas mengikuti Riel menuju Courtyard.
Pemandangan di sana sungguh menyedihkan.
Di tengah halaman batu yang dingin, Profesor Trelawney berdiri gemetar. Kacamata besarnya yang memperbesar matanya berkali-kali lipat kini basah oleh air mata. Jubah penuh manik-maniknya tampak kusut. Di sekelilingnya, koper-koper tua dan kotak-kotak berisi bola kristal berserakan di tanah, seolah seluruh hidupnya baru saja dilempar keluar dari kastil tanpa belas kasihan.
Di hadapannya, berdiri Dolores Umbridge. Ia tersenyum, senyum manis yang membuat perutku mual, sambil memegang secarik kertas perkamen dengan stempel Kementerian.
"Apa... dia dipecat?" bisikku tak percaya, mencengkeram lengan Riel. "Di depan semua murid?"
"Ya," jawab Riel pelan, matanya menyipit marah. "Gara-gara ramalan kemarin."
"Memangnya dia meramal apa?" tanya Pansy yang baru saja menyusul kami, napasnya tersengal.
"Kemarin, saat inspeksi kelas Ramalan," jelas Riel dengan suara rendah, "Umbridge memaksanya untuk membuktikan Kemampuan Penglihatan Keduanya. Awalnya Trelawney tidak bisa melihat apa-apa karena gugup. Tapi saat Umbridge hendak pergi dengan hinaan, tiba-tiba Trelawney kesurupan."
Riel menelan ludah. "Dia meramalkan bahwa Umbridge berada dalam bahaya besar. Sesuatu yang gelap sedang menunggunya."
Aku menatap sosok Umbridge yang pongah. Wanita itu jelas tidak menyukai ramalan tersebut.
"Kau tidak punya hak untuk mengusirku!" isak Trelawney, memeluk salah satu kopernya. "Hogwarts adalah rumahku! Aku sudah di sini enam belas tahun!"
"Sebenarnya, aku punya," potong Umbridge dengan nada tinggi yang menyebalkan. Ia mengangkat kertas di tangannya. "Dekrit Pendidikan Nomor Dua Puluh Tiga memberiku wewenang penuh untuk memecat guru yang tidak kompeten."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Malfoy
Fanfiction"I want to make u mine in front of the world" -Draco Lucius Malfoy "And one day ur name didn't make me smile anymore" -Genevieve Eudora rosier- "to my dearest, draco malfoy" #1:mattheoriddle (20/05/2022) #1:Williamfranklynmiller(30...
