✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧
(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ³¹)
Previously
Pansy hanya mengangkat bahu sambil tertawa, dan kami terus mengobrol dalam perjalanan pulang, suasana dipenuhi dengan kegembiraan atas apa yang akan terjadi di masa depan.
.........
(1 September 2014)
Gadis berambut pirang itu menarik perhatian beberapa orang yang berlalu lalang di King's Cross Station, Platform 9 ¾. Sosoknya yang anggun dan penuh percaya diri membuat orang-orang menoleh, namun tentu saja, semua orang yang melihatnya tahu siapa dia. Brielle Arthemis Malfoy, atau yang lebih dikenal dengan Elle, adalah putri bungsu dari pasangan Draco Malfoy dan Genevieve Malfoy (née Rosier). Elle adalah seorang gadis muda yang kini sedang berada di tahun ketiganya di Hogwarts, sekolah yang penuh kenangan manis dan pahit bagi keluarganya.
Saat itu, hari yang cerah di 1 September, Elle berdiri di antara lautan penyihir yang sibuk menuju peron kereta, matanya memandang ke arah keluarganya yang tampak semakin jauh. Mereka semua ada di sana, dengan senyuman hangat dan kata-kata penuh kasih, tetapi sesuatu dalam dirinya terasa berbeda hari itu. Waktu terus berjalan, dan sepertinya tak bisa dihentikan, meninggalkan kenangan yang akan terus bertahan dalam setiap sudut hatinya.
"Elle..." sapa seorang anak dengan kulit sawo matang dan rambut hitam sebahu, wajahnya memancarkan keceriaan yang tak terbendung.
"Hey, Gaby! Long time no see!" ucap Elle dengan senyuman yang tak bisa dia sembunyikan. Gaby, yang tak lain adalah Gabriella Leontina Zabini, putri bungsu dari pasangan Blaise Zabini dan Pansy Zabini (née Parkinson), memeluk Elle erat. Gaby adalah sahabat sejatinya, teman yang selalu ada sejak mereka pertama kali bertemu di Hogwarts.
"Where's your brother?" tanya Gaby, setelah mereka melepaskan pelukan.
"Probably with Vivi," jawab Elle dengan senyum kecil.
Di kejauhan, terlihat dua sosok yang tak bisa dipisahkan, sepasang kekasih yang saling berpelukan. Scorpius Hyperion Malfoy, putra sulung keluarga Malfoy, dan Viviana Ludovica Zabini, putri sulung keluarga Zabini, tak pernah lepas dari satu sama lain sejak mereka saling mengenal. Semua orang di Hogwarts tahu bahwa hubungan mereka lebih dari sekadar hubungan biasa; mereka adalah cinta yang tak bisa dipisahkan oleh waktu atau ruang.
"Hey, do you remember what I told you back then?" Pansy yang mendekat sambil tersenyum penuh makna, menatap Gene dengan penuh kehangatan.
"Without even needing an arranged marriage, they were destined to be together," balas Gene dengan tawa ringan, mengenang masa-masa mereka bertahun-tahun yang lalu. Keindahan waktu yang begitu singkat, namun penuh kenangan.
(Beberapa Jam Kemudian)
"We gotta go now, Mom, Dad," ucap kedua putra-putri keluarga Malfoy itu dengan suara ceria dan antusias. Mereka sudah siap untuk kembali ke Hogwarts, menyambut tahun ajaran yang baru dengan penuh semangat.
"I'm gonna miss you two," ucap Gene sambil memeluk kedua anaknya dengan erat, merasakan kedekatan dan kasih sayang yang begitu dalam. Rasanya, semua kenangan masa kecil mereka ada di dalam pelukan ini.
"Scorpius, if you plan on proposing to Vivi, don't forget to tell your dad," bisik Draco pada Scorpius, mengingatkan dengan nada yang hangat dan penuh kasih sayang.
"Don't worry, Dad," jawab Scorpius, sedikit meledek. Semua orang tahu, meskipun kadang terkesan serius, Scorpius sangat dekat dengan ayahnya.
"Hurry up, you don't want to miss the train, do you?" tanya Gene dengan sedikit cemas, memandang ke arah anak-anak yang sedang bergegas menuju kereta.
"Bye, Mom, Dad!" Mereka berlari menuju kereta dengan senyuman lebar di wajah mereka. Draco merangkul pundak Gene, tersenyum lembut.
"Time flies so quickly," kata Draco sambil tersenyum pada Gene. "The last thing I remember, we were running toward the train, excited to return to Hogwarts. Now, it's all just memories."
Gene tersenyum tipis, hatinya dipenuhi perasaan hangat dan sedikit melankolis. "Now, it's all just memories. I'm going to miss spending time at Hogwarts," jawabnya dengan lembut.
"Gene, Drac, come on, we're having lunch together," ajak Pansy yang sudah menunggu dengan senyum cerah.
Mereka semua pergi meninggalkan Platform 9 ¾ di King's Cross Station, membawa serta kenangan indah mereka yang tak akan pernah terlupakan.
(Elle's POV)
Sudah hampir 30 menit perjalanan, dan aku duduk bersama Gaby dan Delancey. Ya, Delancey Lynne Pucey, putri tunggal keluarga Pucey, adalah teman dekat kami yang sudah lama bersama sejak kami di Hogwarts.
"Hey, I heard there's a transfer student from Beauxbatons," ucap Delancey dengan suara pelan.
"Beauxbatons? My mother went to school there, it's in France, right?" tanyaku, penasaran. Sejak kecil, aku mendengar banyak cerita tentang Beauxbatons yang terkenal dengan sekolah sihirnya yang anggun dan berkelas.
"Yeah, and I've heard the guys there are really handsome," jawab Gaby sambil tersenyum manis, menatap ke luar jendela dengan mata berbinar.
"Ah, you only think about guys," balasku dengan sedikit kesal, membuat Gaby tertawa geli.
"Hey, what are you two talking about?" tanya Daniel yang baru datang, suaranya mengalun lembut.
"Have you heard about the transfer student?" tanya Gaby, kembali dengan semangat yang tak bisa dia sembunyikan.
"The Beauxbatons transfer student?" tanya Daniel, tampaknya terkejut.
"Yeah, do you think it's a guy or a girl?" tanya Delancey dengan penuh rasa ingin tahu.
"I don't know, but I hope it's a guy," jawab Gaby dengan senyum nakal.
"Hahaha, you're obsessed with guys," aku tertawa mendengar komentar Gaby. Memang, tidak ada yang bisa menghentikan Gaby saat ia membicarakan soal pria-pria tampan.
(Beberapa Jam Kemudian)
Kami akhirnya sampai di Hogwarts, dan seperti biasa, keramaian di sekitar kami sudah terasa begitu akrab. Semua orang mulai menuju ke Great Hall untuk memulai tahun ajaran yang baru.
Sesampainya di Great Hall, kami segera duduk di meja kami dan menyaksikan Sorting Ceremony. Setelah itu, muncul seorang anak dengan seragam Beauxbatons yang masuk melalui pintu besar. Aku tidak terlalu memperhatikannya, lebih memilih untuk berbicara dengan Daniel.
"Hey, he's in our house," kata Gaby dengan antusias, menatap ke arah anak baru itu.
"Calm down, girl, he's coming," ucap Vivi dengan sabar.
Anak itu akhirnya duduk di sebelahku. Pria itu memiliki rambut keriting berwarna coklat dan tubuh yang cukup tinggi. Saat dia tersenyum, logat Prancisnya yang kental terdengar begitu jelas di telingaku.
"Hi, nice to meet you," sapa pria itu, dengan senyuman yang cukup menawan.
"Nice to meet you too, I'm Brielle Arthemis Malfoy, you can call me Elle. And you are?" tanyaku, dengan senyuman hangat.
"I'm Kylian Olivier Arquette," jawabnya dengan percaya diri.
"Wait... Arquette?" Aku terkejut, mataku langsung melebar. Nama itu terdengar begitu familiar, seperti nama yang pernah disebutkan dalam beberapa cerita yang diceritakan oleh ibuku.
(End)
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Malfoy
Fanfiction"I want to make u mine in front of the world" -Draco Lucius Malfoy "And one day ur name didn't make me smile anymore" -Genevieve Eudora rosier- "to my dearest, draco malfoy" #1:mattheoriddle (20/05/2022) #1:Williamfranklynmiller(30...
