✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧
(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ¹⁹)
Previously
Draco menatapku dalam-dalam sebelum mengangguk. "I promise."
Ia menarikku ke dalam pelukannya, membuatku tenggelam dalam kehangatan yang selalu menenangkanku. Aku merasakan tangannya membelai rambutku dengan lembut, sebelum akhirnya ia mengecup keningku dengan penuh kasih.
Di bawah langit malam yang dihiasi bintang-bintang, aku berdoa dalam hati—semoga janji ini tetap terjaga, hingga waktu yang kami nantikan benar-benar tiba.
.......
Natal sudah berlalu, namun father terus mengirimiku surat, menanyakan bagaimana hubunganku dengan Riel dan mengapa aku tidak pulang saat perayaan Natal. Aku hanya bisa menghela napas setiap kali membaca suratnya. Rasanya percuma menjelaskan jika pada akhirnya father tetap akan memaksaku menjalani rencana yang sudah ia susun.
Hari ini, seperti biasa, kami semua berkumpul di Ruang Kebutuhan untuk berlatih. Aku sedang berusaha menguasai Patronus-ku.
"Pikirkan kenangan yang paling membuatmu bahagia, Gene. Aku tahu kau pasti bisa," ucap Harry menyemangatiku.
Aku mengangguk dan memejamkan mata, mengingat momen-momen yang paling membahagiakan dalam hidupku. Aku mengangkat tongkat dan berteriak, "Expecto Patronum!"
Cahaya biru yang terang menyembur dari ujung tongkatku, lalu berubah menjadi bentuk seekor naga yang terbang mengelilingi ruangan.
"Wow! Kau luar biasa!" puji Harry, diikuti oleh tepuk tangan dari murid-murid lain. Aku tersenyum puas.
"Kenangan apa yang kau bayangkan?" tanya Riel penasaran.
Aku menoleh padanya dan tersenyum kecil. "Kenangan bersama Draco."
Riel tampak terkejut, tapi sebelum sempat berkata-kata, tiba-tiba Ruang Kebutuhan bergetar hebat, seolah ingin runtuh. Aku merasakan genggaman tangan Riel semakin erat.
"Bomarda Maxima!"
Terdengar suara ledakan keras dari luar ruangan, dan seketika dinding Ruang Kebutuhan hancur berkeping-keping. Asap mengepul di udara, dan saat debu mulai menghilang, kami melihat wajah penuh kepuasan dari seseorang yang sangat kubenci: Dolores Umbridge.
Di belakangnya, para anggota Regu Inkuisitorial berdiri dengan bangga. Mataku membulat saat melihat seorang pria berambut pirang yang familiar menarik tangan Cho Chang. Wajahnya yang semula penuh kesombongan berubah drastis ketika melihatku.
"What... Draco?!" aku berbisik pelan, tapi cukup jelas untuk didengar oleh orang-orang di sekitarku.
Kami semua dikumpulkan di Great Hall untuk menerima hukuman dari Umbridge. Wajahnya terlihat sangat puas, seolah ia baru saja memenangkan sebuah peperangan besar. Setelah hukuman diumumkan, kulihat Cho Chang berdiri dengan ekspresi bingung. Ia terlihat ingin menghampiriku, namun sebelum sempat mendekat, Ginny menarik tanganku.
"Sudahlah, Gene. Tak usah pedulikan dia. Cedric dan Riel tadi mencarimu," katanya pelan, berusaha menghiburku.
Aku mengangguk. "Terima kasih, Ginny. Aku akan menemui mereka."
Aku berjalan menuju depan ruang rekreasi, di mana Cedric, Riel, Matt, dan Niko sudah menungguku.
"Hey, kau tak apa?" tanya Riel dengan ekspresi penuh kecemasan.
Aku tersenyum tipis. "Tenanglah, Riel. Aku baik-baik saja."
Namun, ekspresi wajah Riel berubah menjadi tegas. "Ini sudah kelewatan. Aku mengirim surat kepada father tentang semua ini—tentang Umbridge, para penyelidik, dan tentu saja tentang Draco."
Aku langsung menegang. "Kau sudah mengirimnya?"
Riel mengangguk dengan raut bersalah. "Sudah, tiga puluh menit yang lalu. Aku minta maaf, Gene, tapi ini harus dilakukan."
Aku menarik napas panjang, mencoba meredam kekesalanku. "Tidak apa-apa... Ayo masuk."
Kami berjalan memasuki ruang rekreasi Slytherin. Begitu aku masuk, aku melihat Draco, Blaise, dan Adrian sedang duduk di sofa, seolah mereka memang menungguku.
Draco segera bangkit dan menarik tanganku. "Gene, tunggu. Aku perlu bicara denganmu."
Aku menghela napas lelah. "Draco, aku capek. Bisa nanti saja?"
Draco menatapku dengan penuh harap. "Tapi... ini penting."
Namun, sebelum aku sempat menjawab, Riel menarik tanganku dengan lembut. "Apa kau tidak dengar? Dia sedang lelah," ucapnya dengan nada menekan.
Aku bisa melihat rahang Draco mengencang, tapi aku terlalu lelah untuk berdebat. Riel, Cedric, Niko, dan Matt mengantarku kembali ke kamar. Setibanya di sana, aku menemukan Pansy dan Daphne sudah menunggu di sofa dengan wajah cemas.
"Apa yang terjadi? Kami mendengar keributan di bawah tadi," tanya Pansy.
Aku hanya menggeleng. "Tak apa."
Daphne mendekat dan memegang tanganku. "Gene, kau tahu kau bisa cerita apa saja dengan kami, kan? Itulah gunanya sahabat."
Aku akhirnya menyerah dan menceritakan semua yang terjadi kepada mereka. Pansy mendengus kesal setelah aku selesai bercerita.
"Draco memang keras kepala! Aku sudah mengingatkannya untuk tidak bergabung dengan kelompok penyelidik bodoh itu."
"Ya, Adrian dan Blaise juga ikut. Kami sudah melarang mereka, tapi mereka tetap bergabung," tambah Daphne, wajahnya juga penuh frustrasi.
Aku mengerutkan kening. "Kenapa kalian tidak memberitahuku lebih awal?"
"Kau sibuk sekali belajar untuk OWL," jawab Pansy.
Aku langsung membeku di tempat. "Astaga... Besok OWL dilaksanakan!"
Pansy dan Daphne saling berpandangan sebelum akhirnya tertawa kecil. "Ya, jadi sebaiknya kau tidur sekarang sebelum kau pingsan di ujian besok," ucap Daphne sambil menggeleng.
Aku menghela napas panjang dan tersenyum tipis. "Baiklah, baiklah. Kalian benar. Aku akan tidur."
Aku pun berbaring di tempat tidur, tapi pikiranku masih dipenuhi dengan bayangan Draco. Aku masih tidak percaya bahwa dia benar-benar memilih menjadi bagian dari Regu Inkuisitorial. Apa yang sebenarnya ia pikirkan? Apakah ia menyadari betapa sakit hatinya aku melihatnya di sana?
Di antara semua pikiran itu, aku perlahan mulai terlelap, berharap esok akan membawa jawaban yang lebih jelas bagiku.
..........................
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Malfoy
Fanfiction"I want to make u mine in front of the world" -Draco Lucius Malfoy "And one day ur name didn't make me smile anymore" -Genevieve Eudora rosier- "to my dearest, draco malfoy" #1:mattheoriddle (20/05/2022) #1:Williamfranklynmiller(30...
