✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧
(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ²⁵)
Previously
Hari ini adalah hari pertunanganku dengan Riel, dan semua orang tampaknya bahagia. Namun, di dalam hatiku, aku masih memikirkan seseorang yang mungkin akan selalu ada di sudut hati ini.
......
Sudah hampir dua tahun sejak aku pindah ke Prancis, lebih tepatnya di kota Toulouse. Dua tahun juga sejak aku mengikatkan diri pada pertunangan dengan Riel. Setelah pesta pertunangan yang meriah itu, aku tidak pernah bertemu dengan teman-temanku di Inggris. Kami hanya berkomunikasi lewat surat, meskipun hati ini sering merindukan pertemuan langsung dengan mereka.
Draco dan aku belum pernah bertemu lagi sejak hari pertunanganku. Bahkan kabar darinya sangat jarang aku terima. Terakhir kali aku mendengar, Draco resmi menjadi anggota Death Eater, menggantikan ayahnya. Aku tidak tahu bagaimana harus merasa tentang hal itu. Draco, pria yang pernah menjadi bagian dari hidupku, kini terjerat dalam dunia yang sangat berbeda.
Hari ini, aku baru saja turun dari kereta kuda Beauxbatons setelah menyelesaikan tahun ketujuhku di sekolah sihir ini. Berita tentang kekalahan Voldemort akhirnya sampai juga padaku. Ternyata, Matt adalah putra dari The Dark Lord, yang awalnya aku tidak tahu. Meski begitu, Matt adalah orang yang sangat berbeda dari ayahnya, dan aku bisa merasakan betapa besar perjuangannya untuk menemukan jalan hidup yang lebih baik.
"You're home," ucap Riel dengan senyum lebar dari kejauhan, merentangkan tangannya dengan hangat. Aku hanya mengangguk pelan, mataku sudah mulai terbiasa dengan wajahnya, meski tidak sepenuhnya terasa seperti rumah bagiku.
"Where's Mere and Pere?" tanyaku, sedikit mengabaikan senyumnya yang tampak begitu tulus.
"They're waiting," jawabnya, mengambil koper-kopernya dan membawanya masuk ke dalam kediaman Arquette.
Begitu sampai di dalam, aku langsung disambut oleh pere dan mere yang duduk di ruang keluarga. Aku bisa merasakan ketegangan di udara, meskipun mereka berusaha menciptakan suasana hangat.
"How's your seventh year, dear?" tanya Mere dengan senyum lembut, mencoba meredakan suasana yang terasa tegang.
"One more miserable year," jawabku malas, menghindari tatapan mereka. Aku merasa lelah, bukan hanya fisik, tetapi juga emosional. Hidup yang aku jalani sekarang terasa jauh dari yang aku bayangkan.
"Aku izin beristirahat dulu ya, Pere, Mere," ucapku dengan sopan, lalu meninggalkan mereka tanpa menunggu jawaban.
Sesampainya di kamar, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku baru selesai mandi dan mengganti pakaian, mengenakan sweater Quidditch milik Draco. Aku tak bisa menahan diri untuk mengenakannya, meski tahu itu hanya akan membuatku semakin teringat padanya. Kotak hadiah yang diberikan Draco saat di bandara masih ada di tanganku, aku memutuskan untuk membuka dan membaca surat darinya yang tertulis di atas kertas yang kini terasa begitu rapuh oleh waktu.
To the one and only Genevieve Eudora Rosier,
By the time you read this, you must have arrived in France. I just want to thank you for a precious year with you. You always supported me through both the good and bad times, and you are the best girlfriend I have ever had. You will never be replaced; you are the only one I love in this world. I hope you are happy with your choice, and I will never forget the first time we met.
With love always,
Draco Lucius Malfoy
Aku membaca surat itu berulang kali, dan tanpa sadar air mata mulai menetes. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan semua kenangan indah yang kami lewati bersama? Aku menatap kotak hadiah itu lagi, yang berisi sweater yang dia buat khusus untukku, serta beberapa benda kecil yang hanya kami berdua yang bisa mengerti maknanya. Aku merindukan dia, lebih dari yang kuakui.
Sampai tiba-tiba, suara seseorang yang kukenal terdengar di belakangku.
"Belum tidur, huh?" tanyanya. Aku mengenali suara itu sebagai suara Riel.
Aku tetap diam, tidak menghiraukannya. Air mata mulai mengalir tanpa bisa kutahan.
"How long are you going to be like this?" tanya Riel lagi. "Sudah dua tahun kau menghindariku. Mungkin ini aku yang membuatmu senang. Aku sudah memesan tiket untukmu, dan aku akan meyakinkan keluarga kita untuk membatalkan perjodohan ini."
Aku menoleh perlahan, melihat dia sedang memegang tiket pesawat dan selembar surat. Hatiku terasa teriris. Riel ingin membantuku, namun aku merasa seperti aku telah memilih jalan yang salah.
Riel meletakkan tiket pesawat itu di sebelahku, lalu beranjak pergi tanpa berkata-kata lagi. Aku memandangi tiket itu sejenak, pikiranku penuh dengan kebingunganku.
....
Hari ini, aku sedang sibuk mempersiapkan untuk kembali ke London. Aku membawa enam koper besar, semua barangku yang telah kukemas. Ini adalah perjalanan yang sulit, tidak hanya karena jarak yang jauh, tetapi juga karena perasaan yang bercampur aduk di dalam hatiku.
Tiba-tiba, pintu kamarku terbuka dan Riel muncul. "Aku hanya ingin memberikanmu ini, sebagai hadiah perpisahan," katanya, sambil menyerahkan kotak hadiah kecil kepadaku. "Dan ini kunci manormu."
Aku menatapnya sebentar sebelum mengambil kotak hadiah dan kunci itu. "Mobilmu sudah terparkir di airport. Di sana sudah ada penunjuk arah ke manormu," lanjutnya, sebelum pergi begitu saja dari kamarku.
......
Sesampainya di bandara, Riel mengantarku sampai ke gerbang penerbangan. "Thank you so much, Riel," ucapku dengan suara serak. "Maaf karena selama dua tahun ini aku sangat jahat padamu."
"It's okay," jawabnya, wajahnya tetap tenang meski ada kesedihan di matanya. "Aku mengerti apa yang kau rasakan. Now, hurry, you must go."
Kami berpelukan untuk terakhir kalinya, dan meskipun aku tahu aku sedang meninggalkan sesuatu yang besar di belakang, aku juga tahu ini adalah keputusan yang harus kuambil untuk diriku sendiri.
.....
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Malfoy
Fanfic"I want to make u mine in front of the world" -Draco Lucius Malfoy "And one day ur name didn't make me smile anymore" -Genevieve Eudora rosier- "to my dearest, draco malfoy" #1:mattheoriddle (20/05/2022) #1:Williamfranklynmiller(30...
