Beneath the Shadows of Rumors, Beneath the Starlight

728 61 0
                                        

✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧
(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ¹⁰ )

Previously

"Aku..." suaraku pecah. "Aku butuh waktu sendiri."

"Gene, tunggu!" seru Pansy.

Tapi aku tidak menunggu. Aku bangkit dan berlari. Meninggalkan danau, meninggalkan teman-temanku, meninggalkan rasa malu yang membakar.

Air mataku jatuh satu per satu, lalu menderas seiring langkah kakiku yang membawaku menjauh dari kenyataan pahit bahwa pria yang kutunggu ternyata tidak pernah berniat memilihku.

......

Sudah hampir satu jam aku terbaring di tempat tidurku yang berkelambu hijau perak. Wajahku tersembunyi di balik selimut tebal, benteng rapuh yang kubangun untuk menghalau dunia luar. Air mata masih mengalir tanpa henti, membasahi bantal sutra yang dingin. Napasku tersendat-sendat, dada rasanya sesak seolah ada batu besar yang menindih paru-paruku.

Di sofa beludru di sudut kamar, Pansy duduk membisu. Ia tidak mencoba menghiburku dengan kata-kata klise. Ia hanya di sana, tatapannya lekat mengikuti setiap guncangan di bahuku, penuh kekhawatiran namun cukup bijak untuk memberiku ruang. Ia tahu, saat hati sedang hancur, kata-kata penghibur kadang terdengar seperti ejekan.

Kamar asrama putri Slytherin terasa begitu sunyi dan mencekam. Hanya suara gemericik api dari perapian dan isak tangisku yang sesekali pecah mengisi kekosongan itu.

Hingga akhirnya, suara langkah kaki terburu-buru terdengar dari koridor.

Pintu kamar terbanting membuka.

"Ada apa ini?" Daphne masuk dengan napas terengah, rambut pirangnya sedikit berantakan. Matanya membelalak horor saat melihat gundukan selimut yang bergetar di atas kasurku. "Demi Merlin, kenapa suasananya tegang sekali?"

"Dia sudah begini hampir satu jam," jawab Pansy pelan, suaranya sarat kegelisahan.

Daphne berjalan cepat mendekati tempat tidurku. "Gene? Genevieve?" panggilnya lembut namun mendesak. Ia menoleh pada Pansy dengan panik. "Apa yang terjadi? Aku akan memanggil Draco—"

"Jangan!" potong Pansy tajam, tangannya menahan lengan Daphne dengan kuat. "Jangan berani-berani kau memanggilnya. Kau hanya akan memperburuk keadaan."

Daphne menatapnya tak percaya. "Apa maksudmu? Draco kekasihnya! Dia harus tahu!"

"Aku akan jelaskan di luar," desis Pansy, menarik Daphne menjauh dari tempat tidurku. "Biarkan dia sendiri dulu."

Suara pintu tertutup, meninggalkan aku kembali dalam kesendirian yang menyakitkan.

Dengan tungkai yang terasa lemas, aku menyeret tubuhku menuju kamar mandi pribadi kami. Aku menyalakan keran wastafel, membiarkan air dingin membasuh wajahku yang bengkak dan merah. Di pantulan cermin, aku melihat seorang gadis yang menyedihkan. Mata sembap, hidung merah, dan tatapan kosong.

Genevieve Rosier yang selalu sempurna, kini hancur hanya karena seorang laki-laki.

Baru sebentar aku berusaha menenangkan diri, suara keributan terdengar samar dari arah Ruang Rekreasi. Suara teriakan. Suara Daphne.

"Draco! Keluar kau sekarang juga!"

Jantungku berdegup kencang. Aku menempelkan telinga ke pintu kamar, mencoba mendengar lebih jelas.

"Apa-apaan ini, Daph?" suara berat Blaise terdengar bingung. "Draco tidak ada di sini. Dia sedang di luar."

"Jangan berbohong padaku, Blaise!" bentak Daphne, suaranya bergetar karena marah. "Di mana bajingan itu? Berani-beraninya dia mempermainkan Gene!"

My Dearest MalfoyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang