✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧
(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ³⁰)
Previously
Liburan yang sudah lama kami nantikan.
Liburan yang akan memulai bab baru dalam hidup kami.
Beberapa menit kemudian, aku dan Draco bergegas masuk ke kamar, sibuk berkemas sambil terus tertawa di antara kebodohan kami sendiri—siap memulai petualangan kecil bersama orang-orang yang paling kami sayangi.
...........
Angin dingin musim dingin menyapu wajahku ketika kami menjejakkan kaki di bandara internasional. Rasanya sedikit tak biasa—para penyihir yang sehari-harinya mengandalkan jaringan Floo, portkey, atau apparition, kini berdiri di tengah kerumunan Muggle yang sibuk menyeret koper, mengecek paspor, dan menatap layar keberangkatan yang berkedip-kedip. Tapi setelah memikirkan semua risiko perjalanan dengan cara sihir—mulai dari kemungkinan splinching, gangguan keamanan setelah meningkatnya aktivitas Death Eaters, sampai betapa kacaunya jaringan Floo menjelang liburan—kami semua sepakat: pesawat adalah pilihan paling aman, paling tenang, dan... paling masuk akal.
"delapan jam tiga puluh menit terjebak di kursi? Itu penyiksaan," gumam Draco sambil memandang pintu keberangkatan dengan tatapan skeptis khas Malfoy yang membuatku spontan tertawa kecil.
Setidaknya, pikirku, perjalanan ini akan jadi pengalaman baru untuknya.
Sesampainya di pesawat, Draco menatap sabuk pengaman seolah itu artefak terkutuk. Pansy dan Elle menahan tawa, sementara aku butuh lima menit untuk meyakinkan Draco bahwa sabuk itu tidak akan menjeratnya hidup-hidup. Perjalanan panjang itu kami habiskan dengan membaca, bercerita pelan-pelan, mengintip awan dari jendela, dan sesekali—yang paling menyenangkan—menggoda Draco setiap kali pesawat sedikit bergoyang.
Begitu roda pesawat menyentuh landasan New York, dunia terasa berbeda. Udara dingin Amerika langsung menyergap dengan aroma salju yang tajam, bercampur dengan hiruk pikuk kota yang seolah tak pernah tidur. Lampu-lampu kota memantul di permukaan salju yang mencair, menciptakan pemandangan seperti ribuan bintang yang jatuh ke bumi.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke bungalow keluarga yang terletak tak jauh dari Central Park. Bangunannya besar namun hangat, dengan jendela-jendela berbingkai kayu dan dinding berwarna krim yang memantulkan cahaya kota. Di dalamnya, lampu kuning temaram memberikan suasana nyaman, seolah menyambut kami setelah perjalanan panjang.
Dua kamar utama. Itu artinya, para pria berbagi satu kamar, dan kami para wanita menempati kamar satunya. Draco sempat mendesis protes kecil—bukan karena kamar, tapi karena harus berbagi ranjang dengan Blaise—tapi wajah Pansy yang menatap sinis cukup membuatnya diam.
Malam itu, setelah koper-koper dibereskan dan jaket tebal digantung, kami berkumpul di ruang tengah. Perapian menyala lembut, menebarkan aroma kayu pine yang terbakar perlahan. Di luar, salju turun seperti kapas jatuh dari langit.
"Ingat nggak, sebelum Yule Ball, waktu Flint bikin kamu nangis berjam-jam?" kata Elle sambil meregangkan tubuh di sofa. "Draco sampai mau keluar dari tim Quidditch saking marahnya."
Aku terbahak, meski wajahku memanas. "Stop! Aku masih trauma!"
Pansy ikut bersuara, "Yang lebih memalukan itu waktu pertama kali kamu ketemu Draco. kita sedang main kejar-kejaran. Terus... BRUK! nabrak dia. Ingat?"
Aku menutup wajah dengan bantal. "Kenapa hidupku dimulai dengan adegan memalukan?!"
Pansy mengedip nakal. "Because that's how magic starts."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Malfoy
Hayran Kurgu"I want to make u mine in front of the world" -Draco Lucius Malfoy "And one day ur name didn't make me smile anymore" -Genevieve Eudora rosier- "to my dearest, draco malfoy" #1:mattheoriddle (20/05/2022) #1:Williamfranklynmiller(30...
