When she's gone

372 23 0
                                        

✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧

(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ²³)

previously

aku melangkah menuju pintu bandara, meninggalkan teman-temanku dan segala kenangan yang kami bagi. Sesaat, aku menoleh sekali lagi, berharap bisa melihat Draco di antara kerumunan, tetapi aku tahu dia tidak ada. Aku hanya bisa berdoa agar masa depan kami, entah apa pun itu, akan membawa kebahagiaan bagi kami berdua.

....

(Draco's POV)

Hari ini aku menghabiskan waktuku di kamar, berusaha untuk menenangkan pikiran yang tidak pernah bisa diam. Semua perasaan yang terpendam sejak kami memutuskan untuk berpisah kembali datang seperti gelombang besar yang tak bisa kubendung. Aku tak bisa percaya bahwa sekarang aku hanya bagian dari kenangannya, bagian dari masa lalu yang tak bisa kembali. Jika Gene tahu apa yang terjadi padaku sekarang, dia mungkin akan sangat kecewa. Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan lagi. Dia akan pergi, dan aku tidak bisa mencegahnya.

Hari ini adalah hari dimana Gene akan pindah ke Prancis, untuk memulai kehidupan barunya, jauh dariku, dan aku merasa seolah dunia ini tiba-tiba berhenti berputar. Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap barang-barang yang dulu kami bagi, mengenang setiap momen yang pernah kami jalani. Itu semua terasa begitu jauh, meskipun hanya beberapa hari yang lalu. Aku bahkan merasa seperti aku kehilangan bagian dari diriku sendiri.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarku, dan aku segera bangkit untuk membuka pintu. Di sana berdiri Blaise, memegang sebuah kotak hadiah besar yang terlihat mencolok di tangannya.

"Hey, mate. Here, dia menitipkan sesuatu untukmu," ucap Blaise sambil menyerahkan kotak itu kepadaku. "Aku harus pergi lagi. Sampai jumpa," tambahnya, dan sebelum aku sempat berkata apa-apa, dia sudah menutup pintu kamar dan meninggalkanku sendirian dengan kotak itu.

Aku menatap kotak hadiah besar di tanganku, bingung dan sedikit takut untuk membukanya. Tapi rasa penasaran lebih besar dari ketakutanku, dan akhirnya aku meletakkan kotak itu di meja samping tempat tidur dan mulai membukanya dengan hati-hati. Begitu aku membuka tutup kotak, mataku langsung tertuju pada berbagai barang yang terhampar di dalamnya. Ada banyak benda yang aku kenali—barang-barang yang pernah kami bagi atau yang dia buat untukku. Di atas semuanya, ada sebuah surat yang terlipat rapi, dengan tulisan tangan yang sangat kukenal.

Aku memegang surat itu dengan tangan gemetar, membuka lipatannya, dan mulai membacanya:

.................................


To my dearest Malfoy,

I know our relationship is not as smooth as it seems, there are many obstacles to get here until we decide to end this relationship. You are the best man I have ever known in my life. I hope you'll find another perfect girl, someone who deserves you.

You have always been there for me, even when I didn't deserve it, and I will always cherish the moments we had together. You taught me a lot about love, pain, and forgiveness, and for that, I'll always be grateful.

I know it's hard for both of us, but I believe this is for the best. Our paths were meant to part, even if it hurts now. You will always have a special place in my heart, Draco.

You know where to look for me if you need me, back to the stars, perhaps. I'll find you there.

With lots of love,
Your one and only,
Genevieve Eudora Rosier

.........

Aku menutup surat itu dan menahan napas, perasaan berat mengisi dadaku. Air mata mulai menggenang di mataku, meskipun aku berusaha keras untuk menahannya. Kata-katanya begitu penuh emosi, dan aku bisa merasakan betapa dalam perasaannya, meskipun dia mencoba untuk tampak kuat. Dia benar, hubungan kami tidak pernah mudah, dan aku tahu kami berdua telah berjuang dengan segenap hati. Tapi terkadang, perpisahan adalah jalan yang harus ditempuh, meskipun itu menyakitkan.

Aku melanjutkan untuk melihat barang-barang di dalam kotak itu. Ada sebuah sweater yang dia buat sendiri—tangan yang penuh cinta yang merajut setiap benang dengan penuh perhatian. Aku bisa membayangkan dia duduk di meja, dengan wajah serius saat membuatnya. Ada juga sebuah kalung kecil berbentuk naga, dengan inisial nama kami berdua terukir di bagian belakangnya. Aku memegang kalung itu dengan lembut, seakan merasakan sentuhan tangannya di sana.

Masih ada beberapa barang lainnya—sebuah foto yang kami ambil bersama di sebuah taman beberapa bulan lalu, tiket pesawat ke Prancis, dan sebuah undangan acara pertunangannya dengan Riel. Sebuah pertunangan yang akan berlangsung minggu depan di Prancis. Semua itu menambah berat beban yang kurasakan, karena aku tahu bahwa dia sudah benar-benar melanjutkan hidupnya, jauh dariku.

Dalam keheningan kamarku, aku merasa seperti sebuah bagian dari diriku telah hilang. Gene memang benar, kami berdua memiliki banyak kenangan, tapi terkadang, kenangan tersebut harus diletakkan di tempat yang tepat, di masa lalu. Aku merasa seperti hidupku terhenti, sementara dia melangkah maju, mencari kebahagiaannya.

Aku menarik napas dalam-dalam dan meletakkan barang-barang itu di atas meja. Ketika aku menatap cincin promise ring yang pernah kuberikan padanya, aku tahu aku tidak bisa lagi membayangkan hidup tanpa dia, meskipun kami tidak lagi bersama. Aku hanya bisa berharap bahwa suatu hari nanti, jika takdir mengizinkan, aku akan bertemu dengannya lagi di tempat yang jauh lebih baik.

"Goodbye, Genevieve," bisikku pelan, sambil memegang kalung naga itu erat-erat. "Semoga kau bahagia, di mana pun kau berada."

Aku menatap surat itu sekali lagi, sebelum menyimpannya di dalam laci. Aku tahu, meskipun kami berpisah, cinta yang kami miliki tak akan pernah benar-benar hilang. Itu akan selalu ada, seperti kenangan yang tak terhapuskan, mengalir di dalam setiap langkahku.

...

Hari ini, aku dan Coco sedang bermain di taman belakang manor. Coco adalah anjing yang kuadopsi bersama Gene beberapa bulan lalu, dan dia selalu menjadi teman setia, selalu ada di saat-saat aku membutuhkan penghiburan. Pagi ini, udara terasa sejuk, dan Coco tampak berlari-lari riang, mengelilingi rerumputan yang masih basah oleh embun pagi. Aku duduk di bangku taman, menyaksikan dengan senyum, dan terkadang tertawa kecil melihat tingkah lucunya.

"Hey, apa kau merindukannya?" tanyaku sambil mengelus bulu halusnya yang terasa hangat dan lembut. Aku memandangi matanya yang cerah, yang seolah penuh rasa ingin tahu dan kebahagiaan meski aku tahu ada sesuatu yang lebih mendalam yang tersimpan di dalam diriku.

Coco menggonggong keras, seolah menjawab pertanyaanku, mungkin karena dia tahu betul siapa yang aku maksud. Dia selalu bisa merasakan perasaan orang di sekitarnya, bahkan saat aku tak mengucapkan sepatah kata pun. Gonggongan itu seakan berkata, "Aku juga merindukannya."

"Me too," ucapku pelan, memeluk Coco lebih erat. Aku menatap ke kejauhan, mencoba mengusir perasaan hampa yang perlahan merayapi hatiku. Saat-saat seperti ini—di mana aku hanya berdua dengan Coco—membuatku merasa sedikit lebih baik. Tapi, di sudut hatiku, rasa kehilangan itu tetap ada. Seperti ada kekosongan yang tidak bisa diisi, seiring berjalannya waktu.

Coco terus mendekat, meletakkan kepalanya di pangkuanku, seakan ingin memberikan kenyamanan. Aku mengelusnya lembut, merasakan bulu lembutnya yang hangat. Dia adalah satu-satunya teman yang tak pernah menghakimi dan selalu bisa membuatku merasa sedikit lebih baik, meski perasaan dalam hatiku tak pernah sepenuhnya sembuh.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menikmati momen ini. "Semoga suatu hari nanti, kita bisa tertawa lagi bersama, seperti dulu," kataku pelan, seolah berbicara pada angin yang berhembus di sekitar taman. Coco menggonggong lagi, seolah mengerti, dan aku hanya tersenyum, walau rasa sakit itu masih terasa, tetapi setidaknya aku tidak benar-benar sendirian.

................

My Dearest MalfoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang