Mad Eye Moody?

1.5K 88 0
                                        

✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧

(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ³ )

Previously

Detik itu juga, Great Hall meledak dalam protes. Fred dan George Weasley berteriak marah, Draco mengumpat kasar tentang ketidakadilan, dan seluruh ruangan menjadi lautan kekecewaan.

"SILENCE!"

Suara Dumbledore mematikan keributan itu seketika.

Namun, di tengah keheningan yang tersisa, Gene merasakan sesuatu yang lain. Ada ketegangan yang merambat di udara, sebuah firasat purba yang berbisik di tengkuknya. Tahun ini tidak akan sama. Di balik kemeriahan turnamen, di balik kedatangan sekolah asing, dan di balik mata gila Profesor Moody, ada bayang-bayang gelap yang sedang menunggu waktu untuk muncul.

....

Pagi itu datang dengan wajah muram.

Langit di atas Skotlandia tampak seperti memar, gumpalan awan kelabu menggantung rendah dan berat, seakan perut langit siap robek dan menumpahkan badai kapan saja. Aku berjalan beriringan dengan Pansy, Daphne, Tracey, dan Millie, langkah kami membentuk ritme teratur di atas batu-batu koridor yang dingin.

Angin kencang dari arah Black Lake menyelinap masuk melalui celah-celah jendela yang terbuka, meniup jubah kami hingga berkibar liar. Udara berbau ozon, tanah basah, dan batu tua yang lembap. Aroma hujan yang belum turun.

"Demi Salazar, kita harus mempercepat langkah," keluh Pansy, tangannya sibuk menahan tatanan rambut bob-nya agar tidak berantakan ditiup angin. "Aku tidak menghabiskan waktu tiga puluh menit di depan cermin hanya untuk dihancurkan oleh cuaca Skotlandia yang terkutuk ini."

Kami setengah berlari kecil hingga mencapai pintu ek besar Great Hall.

Begitu kami melangkah masuk, kehangatan langsung menyergap. Aroma roti panggang yang hangat, bacon renyah, dan manisnya jus labu memenuhi udara, membuat perutku berbunyi pelan.

Di meja Slytherin, wilayah kekuasaan kami sudah diamankan.

Draco, Theo, Blaise, dan Adrian Pucey duduk berdekatan, membentuk lingkaran eksklusif. Namun, alih-alih menikmati sarapan, wajah mereka tampak serius, tegang, dan, khusus untuk Draco, penuh kemarahan.

"Coba saja peraturan bodoh itu tidak ada," suara Draco terdengar tajam saat aku menarik kursi di sebelahnya. Ia menusuk sosis di piringnya dengan agresi yang tidak perlu, denting garpu perak beradu kasar dengan piring emas. "Aku pasti akan mendaftar. Father akan sangat murka mendengar tentang pembatasan umur ini."

Mata kelabunya menyipit, bibirnya melengkung ke bawah dalam cemberut yang sudah sangat kuhafal.

Aku menghela napas panjang, menuangkan teh ke dalam cangkir porselenku dengan gerakan tenang. Sejak Dumbledore mengumumkan Batas Usia semalam, topik ini sudah diputar ulang ratusan kali oleh Draco.

"Sudahlah, Draco," potongku dengan nada datar, sedikit lelah. "Tidak ada gunanya merengek dan merusak suasana sarapan. Kementerian menetapkan aturan itu demi keselamatan. Jadi, berhentilah bersikap dramatis dan makan sarapanmu."

Draco menoleh padaku, ekspresinya campuran antara terhina dan kaget karena aku berani memotong tiradenya. Ia mendecih sinis, hendak membalas, namun tawa tertahan dari seberang meja menghentikannya.

Blaise, Theo, dan Adrian sedang berusaha keras menyembunyikan senyum geli mereka. Mereka jelas menikmati pemandangan Draco Malfoy, Pangeran Slytherin, yang sedang ditegur seperti anak kecil.

My Dearest MalfoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang