✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧
( ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ¹² )
Previously
Aku dan Hermione saling berpandangan. Firasat aneh, firasat yang sama seperti saat namaku dipanggil untuk berdansa dengan Draco, kembali muncul.
"Baiklah," jawabku tenang, meski jantungku mulai berdetak lebih cepat. Aku meraih tangan Hermione dan meremasnya pelan. "Ayo, Mione. Sebaiknya kita tidak membuat Wakil Kepala Sekolah menunggu."
Kami berjalan beriringan menuju kastil, tangan kami saling bertautan sejenak, melupakan warna asrama hijau dan merah yang memisahkan kami. Di pagi Natal yang dingin itu, tanpa kami sadari, kami sedang berjalan menuju babak baru dari Turnamen Triwizard yang akan menguji lebih dari sekadar keberanian.
....
(Draco's POV)
Kabar itu menyebar seperti racun yang lambat namun mematikan di seluruh koridor bawah tanah Slytherin.
Genevieve belum kembali.
Sejak Profesor McGonagall memanggilnya dan Granger kemarin pagi di halaman bersalju, tidak ada satu pun yang melihat batang hidungnya. Ranjangnya di asrama putri masih rapi, tak tersentuh. Makan malam di Great Hall berlalu tanpa kehadirannya, dan kini sarapan pun terasa hambar karena kursi di sebelahku kosong melompong.
Suasana di Ruang Rekreasi Slytherin pagi ini terasa jauh lebih berat, seolah dinding-dinding batu di sekitar kami menyerap kecemasan yang menguar dari para penghuninya. Cahaya hijau dari danau yang menembus jendela kaca tampak suram, tidak menenangkan seperti biasanya.
Aku duduk di sofa kulit favorit kami, namun tubuhku kaku. Kakiku mengetuk-ngetuk lantai batu dengan ritme yang tak sabar. Jantungku berdebar tidak karuan, mengirimkan sinyal bahaya ke seluruh saraf tubuhku. Genevieve bukan tipe gadis yang suka menghilang tanpa jejak atau melanggar jam malam demi petualangan konyol.
Setiap menit tanpa kabar darinya terasa seperti beban fisik yang menindih dadaku.
"Sejak tadi malam aku dan Daphne bergantian terjaga menunggunya," ujar Pansy, memecah keheningan. Suaranya dipenuhi kecemasan murni yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Lingkaran hitam samar terlihat di bawah matanya. "Kami pikir mungkin dia menginap di asrama Hufflepuff. Kau tahu, menemani sepupunya itu."
Daphne, yang duduk di lengan sofa sambil memilin ujung rambutnya, mendengus frustrasi. "Aku sungguh tak mengerti. Kenapa dia bisa begitu dekat dengan anak-anak dari asrama lain? Berteman dengan Hufflepuff atau Gryffindor itu... aneh. Tidak wajar bagi seorang Rosier."
Meski kata-katanya terdengar tajam, aku tahu itu hanya cara Daphne menutupi kekhawatirannya. Gene memang berbeda. Dia memiliki kemampuan menyebalkan sekaligus menakjubkan untuk dicintai oleh semua orang, tanpa memandang warna jubah asrama mereka.
Eloise, yang sedari tadi diam memeluk bantal, tiba-tiba bersuara. Alisnya berkerut dalam. "Tapi Gene tidak pernah menginap di luar asrama sebelumnya, kan? Dia selalu pulang, tak peduli selarut apa pun."
"Mungkin Cedric yang memintanya," balas Pansy cepat, nada suaranya sedikit meninggi, seakan mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Diggory pasti sedang gugup setengah mati menjelang Tugas Kedua hari ini. Mungkin dia butuh dukungan moral keluarga."
Aku tidak menjawab. Rahangku mengeras hingga gigiku gemerutuk.
Ada sesuatu yang salah. Instingku berteriak.
Aku mengenal Gene lebih baik dari siapa pun di kastil ini. Dia tidak akan membiarkan kami cemas. Dia akan mengirim burung hantu, atau setidaknya pesan lewat lukisan. Keheningan ini tidak wajar.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Malfoy
Fiksi Penggemar"I want to make u mine in front of the world" -Draco Lucius Malfoy "And one day ur name didn't make me smile anymore" -Genevieve Eudora rosier- "to my dearest, draco malfoy" #1:mattheoriddle (20/05/2022) #1:Williamfranklynmiller(30...
