✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧
(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ²⁹)
Previously
Pesta resepsi berlangsung meriah. Tawa, musik, dan kebahagiaan memenuhi setiap sudut ruangan. Aku merasa seperti berada di dalam mimpi yang menjadi kenyataan. Semua rintangan yang telah kami lalui, semua perjuangan yang kami hadapi, akhirnya membawa kami ke sini—ke dalam kehidupan baru yang penuh dengan cinta, harapan, dan kebahagiaan. Kini, aku bisa memulai perjalanan hidup baru bersama Draco, suamiku yang tercinta.
......
(Lima Bulan Kemudian)
Pagi itu, aku membuka mata tidak dengan kesadaran yang utuh, melainkan dengan perasaan berat yang seperti menggantung di udara kamar. Cahaya keemasan dari matahari musim dingin menyusup melalui tirai tipis, membentuk pola-pola lembut di dinding, namun ketenangan itu tidak cukup untuk menenangkan jantungku yang berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu yang hangat di perutku—sebuah tekanan lembut, sebuah kenyamanan yang anehnya baru kurasakan saat tubuhku mulai benar-benar terbangun.
Sebuah lengan. Lengan Draco.
Aku berkedip, mencoba mengatur napas, lalu mengintip jam yang terletak di meja kecil di sebelah ranjang.
Pukul delapan lewat lima.
Pukul. Delapan.
Dalam sepersekian detik, kantukku lenyap. "Tunggu... sudah pagi?!"
Aku terlonjak duduk, selimut terhempas ke samping. "Draco! Wake up! We're late!" seruku panik, suaraku memecah keheningan hangat kamar kami. Tangan Draco yang tadi melingkari pinggangku melonggar perlahan, jatuh di atas sprei. Ia hanya bergerak sedikit, seperti anak anjing yang enggan diganggu dalam tidurnya.
"Draco, come on!" Aku menepuk bahunya dengan lembut, tapi cepat.
Draco membuka mata dengan kebingungan menggemaskan—setengah sadar, setengah terkejut, dan sepenuhnya tidak siap menghadapi kenyataan bahwa waktu sudah berlari tanpa menunggu kami. Ia menatap jam dengan ekspresi ngeri, lalu langsung bangkit seperti tersengat mantra listrik.
"Oh no!" serunya, lantas bergegas ke kamar mandi dengan langkah hampir tersandung karpet.
Aku hanya sempat menghela napas panjang—antara bingung, lucu, dan putus asa—sebelum memutuskan untuk turun ke dapur. Derit kecil dari tangga kayu menyambut langkahku, dan aroma dingin dari dapur bercampur dengan wangi sisa kopi semalam. Aku bergerak cepat, menyiapkan sarapan, mengecek bekal Draco, memastikan semuanya rapi—seolah rutinitas itu bisa membantu menenangkan pikiranku yang masih berantakan.
Tak lama, Draco muncul dari lorong kamar mandi sambil mengancingkan jas hitamnya, rambut pirang platinnya masih sedikit basah, meneteskan butiran air kecil di kerahnya. Ia tampak begitu tergesa hingga aku hampir merasa kasihan.
Namun di tengah kepanikan itu, ia berhenti sejenak hanya untuk menatapku dengan sorot mata lembut yang membuat dadaku hangat.
"Okay, I'm leaving now. Take care of yourself, I love you," katanya dengan suara rendah yang selalu berhasil menenangkan bagian terdalam diriku.
Ia menunduk, mengecup keningku dengan penuh perhatian. Aroma mint sabun dan wangi Draco yang khas menempel di udara bahkan setelah ia ber-apparate sambil membawa bekal yang kubuat.
Aku menatap tempat ia berdiri tadi, tersenyum kecil meski masih cemas. Kami memang kurang tidur akhir-akhir ini—jadi jelas masuk akal kalau kami sampai lupa waktu.
Tepat saat aku hendak kembali ke ruang tamu, suara bel mendadak berbunyi—nyaring, mendesak, seperti tahu bahwa rumah ini sedang kacau.
Aku hampir berlari ke pintu, membuka kunci dengan cepat.
Pansy berdiri paling depan, dengan senyum selebar bulan sabit dan tangan otomatis melingkari tubuhku dalam pelukan erat yang langsung menyapu habis sisa kepanikan yang tadi kurasakan.
"Gene, I missed you so much!" serunya.
"Aku juga, Pans."
Blaise muncul dari belakang Pansy, menyandarkan tubuh ke kusen pintu dengan gaya santainya yang khas.
"Be careful, babe. There's someone inside your tummy," godanya sambil mencondongkan kepala pada Pansy.
Pansy menatap perutnya sendiri, mengelus lembut sambil tersenyum penuh haru. Tiga bulan lalu ia mengumumkan kehamilannya—dan sejak itu hidup kami seolah memantul dengan cahaya baru. Ada kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata setiap kali ia menyentuh perut kecilnya itu.
"I'm so excited, can't wait to meet this little one," katanya, matanya berbinar.
Lalu aku menatap Blaise, mengerenyit bingung. "Wait, Blaise. Why aren't you at work?"
Blaise mengerutkan alis. "What? It's Saturday, Gene. What's wrong?"
Aku terdiam. "Saturday?"
Semua sel-sel otak di kepalaku seperti berhenti bekerja sejenak.
"What?" suaraku naik hampir satu oktaf lebih tinggi. "No way we forgot today is Saturday!"
Blaise tertawa pendek. "Wait—don't tell me Draco also—"
BRUK! Suara apparition menggema di ruang tamu, diikuti langkah kaki cepat.
"Today it's Saturday, hun. How silly we are!" Draco muncul sambil mengusap rambutnya yang kini terlihat lebih berantakan dari sebelumnya. Ia tertawa kecil, dan aku hanya bisa menatapnya dengan ekspresi campuran kagum dan... ingin menepuk jidat.
"Wow, this place is so crowded," komentarnya ketika melihat Pansy, Blaise, dan Cedric—yang baru saja muncul dari belakang dengan senyum malu-malu.
Blaise menyeringai lebar. "Oh, mate, you forgot today is Saturday? We're off for two weeks because of Christmas! We came to pick you guys up. Remember?"
Suasana hening sejenak.
Lalu—
"Oh God, we forgot!" Aku menepuk keningku sendiri, lalu menarik Draco mendekat untuk memeluknya. "Draco, kita benar-benar parah."
Ketawa pecah di seluruh ruangan.
"What kind of couple are you two?" Blaise menggelengkan kepala pura-pura kecewa.
"An amnesia couple!" Pansy menimpali sambil tertawa sampai tubuhnya sedikit membungkuk.
Tawa mereka memenuhi ruang tamu seperti mantra yang mengusir semua kekacauan pagi tadi. Dalam sekejap, rumah kecil kami terasa lebih hangat daripada perapian manapun. Kebahagiaan sederhana ini—tawa, kehadiran, kehangatan—jadi alasanku merasa hidup kembali.
Aku menarik napas dalam, tersenyum tak terkendali. Kehidupan memang penuh kejutan—bahkan kejutan kecil seperti lupa hari libur. Tapi justru itu yang membuat hari ini terasa spesial.
Dan di tengah riuh tawa itu, aku sadar: liburan Natal kami baru saja dimulai.
Liburan yang sudah lama kami nantikan.
Liburan yang akan memulai bab baru dalam hidup kami.
Beberapa menit kemudian, aku dan Draco bergegas masuk ke kamar, sibuk berkemas sambil terus tertawa di antara kebodohan kami sendiri—siap memulai petualangan kecil bersama orang-orang yang paling kami sayangi.
––––––––––––––––––––––––––––––
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Malfoy
Fanfiction"I want to make u mine in front of the world" -Draco Lucius Malfoy "And one day ur name didn't make me smile anymore" -Genevieve Eudora rosier- "to my dearest, draco malfoy" #1:mattheoriddle (20/05/2022) #1:Williamfranklynmiller(30...
