✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧
(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ¹⁶)
previously
"Hari ini," perintah Father, tidak menyadari kepanikan di mataku, "temani Gabriel ke Diagon Alley untuk membeli perlengkapan Hogwarts-nya."
Aku menunduk, menyembunyikan tanganku yang gemetar di pangkuan. Permainan ini... permainan ini menjadi semakin berbahaya. Aku menatap Riel, yang wajahnya juga tampak sedikit pucat.
"Baik, Father," jawabku lirih.
Saat aku bangkit dari meja, aku tahu satu hal: tahun kelima di Hogwarts akan menjadi medan perang yang sesungguhnya. Bukan melawan Voldemort, tapi melawan takdir yang sedang ditulis paksa oleh ayahku sendiri.
.........
King's Cross Station hari itu adalah lukisan kekacauan yang indah sekaligus melankolis. Asap putih tebal dari lokomotif uap mengepul ke langit-langit kaca yang tinggi, bercampur dengan aroma besi tua dan hujan yang baru reda. Derap langkah kaki, teriakan para porter yang mengangkut koper-koper berat, serta pekikan burung hantu dari dalam sangkar menciptakan simfoni khas keberangkatan ke Hogwarts.
Di tengah keramaian itu, aku berdiri dengan perasaan campur aduk.
Father, Mum, Père, dan Mère berdiri mengelilingi kami seperti pagar betis. Tatapan mereka melekat padaku dan Riel dengan penuh ekspektasi, seolah mereka sedang menilai penampilan perdana sepasang aktor di panggung sandiwara. Mereka tidak ingin melihat dua remaja yang terjebak dalam politik keluarga. Mereka ingin melihat pasangan tunangan yang serasi dan sempurna.
Riel, yang sudah paham betul naskah drama ini, dengan cepat meraih tanganku. Genggamannya hangat dan tegas, namun bagiku itu terasa seperti borgol yang sopan. Aku menahan napas sejenak dan membiarkan detik itu berlalu sebelum membalas genggamannya. Sebuah kebohongan kecil demi bertahan hidup.
"Kau benar-benar menjiwai peran ini," bisikku nyaris tak terdengar, berusaha menjaga senyum tipis di wajahku agar terlihat meyakinkan bagi para orang tua.
Riel terkekeh pelan, mencondongkan tubuh sedikit seolah sedang membisikkan kata-kata manis. "Kita harus membuatnya meyakinkan, bukan? Lagi pula, lihatlah Father. Dia tersenyum seolah baru saja memenangkan lotre."
Aku melirik sekilas dan melihat Father memang sedang mengangguk puas pada Tuan Arquette. Rasa muak mengendap di perutku. Aku menelan rasa frustrasi yang telah mengendap sejak kabar pertunangan ini diumumkan. Tak pernah sekalipun aku menginginkan tali ikatan ini.
Riel membawaku menembus kerumunan siswa yang berdesakan menuju salah satu pintu gerbong.
"Baiklah," katanya saat kami berhenti di depan pintu. Ia menepuk punggung tanganku dengan lembut, gestur persahabatan yang disamarkan sebagai kasih sayang. "Aku harus mencari kompartemen Cedric di gerbong prefek. Sampai bertemu di kastil, Gene."
"Sampai jumpa, Riel," jawabku dengan senyum tipis.
Namun, sebelum aku sempat melangkah naik, pintu gerbong di hadapanku terbuka kasar.
Sesosok tubuh jangkung menghalangi jalan.
Draco Malfoy berdiri di sana, menjulang di ambang pintu kereta. Rambut platina miliknya tersisir rapi ke belakang, berkilau seperti perak cair di bawah sinar matahari. Ia mengenakan setelan serba hitam yang dijahit sempurna, membuatnya terlihat seperti pangeran muda yang sedang murka. Tatapan mata kelabunya setajam pisau bedah, langsung menusuk ke arah tautan tanganku dan Riel.
"Biar kuambil alih dari sini, Arquette," ucap Draco dingin. Suaranya rendah, namun sarat dengan nada kepemilikan yang tak terbantahkan.
Tanpa permisi, Draco mengulurkan tangan dan menarikku. Gerakannya cepat dan posesif, melepaskan tanganku dari Riel dan menarikku ke sisinya dalam satu hentakan. Ia melingkarkan lengannya di pinggangku, merapikan mantelku dengan gerakan yang sengaja diperlambat, seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya di hadapan saingannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Malfoy
Fanfiction"I want to make u mine in front of the world" -Draco Lucius Malfoy "And one day ur name didn't make me smile anymore" -Genevieve Eudora rosier- "to my dearest, draco malfoy" #1:mattheoriddle (20/05/2022) #1:Williamfranklynmiller(30...
