✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧
(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ⁶)
Previously
Draco terdiam lama. Ia menggigit bibir bawahnya, tampak berdebat dengan dirinya sendiri. Akhirnya, ia menghela napas panjang, bahunya turun tanda menyerah.
Ia menoleh padaku sekali lagi, kali ini tatapannya lembut, pasrah, dan... sedikit penuh harap. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang misterius.
"Baiklah..." bisiknya, suaranya serak. "Jawabannya... ya. Aku akan melakukannya."
....
Permainan Truth or Dare itu berakhir ketika matahari mulai benar-benar tenggelam, meninggalkan jejak ungu gelap di langit. Tawa masih bersisa di udara, bercampur dengan rahasia-rahasia kecil yang baru saja terungkap. Namun, waktu tidak menunggu siapa pun. Hogsmeade memanggil, menjanjikan kehangatan Butterbeer dan pelarian sejenak dari dinding kastil yang mengekang.
"Ayo bergerak," perintah Blaise sambil meregangkan ototnya, seringai khas masih menempel di wajahnya. "Sebelum Snape mencium bau alkohol di napas kita dan membatalkan izin kunjungan."
Kami pun membubarkan diri.
Aku berjalan kembali ke kamar asrama putri bersama Pansy dan Daphne. Lorong bawah tanah Slytherin terasa lebih dingin dari biasanya, hawa beku merayap dari dasar danau menembus dinding batu, membuat kami mempercepat langkah.
"Kau lihat wajah Draco tadi?" goda Pansy saat kami memasuki kamar. Ia melempar tubuhnya ke atas kasur empuk berlapis sutra hijau. "Saat Blaise membisikkan tantangan itu, aku bersumpah telinganya merah padam. Dia gugup, Gene."
Aku mendesah pelan, membuka lemari pakianku yang terbuat dari kayu mahoni hitam. "Itu hanya permainan, Pans. Dia mungkin hanya kaget karena Blaise berniat curang."
"Atau..." Daphne menimpali sambil memilih syal di depan cermin, matanya berbinar jenaka, "...dia akhirnya sadar kalau dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya selamanya."
Aku menggelengkan kepala, berusaha mengabaikan debar jantungku sendiri. Fokusku beralih pada pakaian yang akan kukanakan.
Malam ini dingin, jadi aku memilih sesuatu yang hangat namun tetap elegan. Aku mengenakan rok plaid abu-abu pendek yang dipadukan dengan stocking hitam tebal. Untuk atasan, aku mengambil sweater rajut tebal berwarna biru dongker, hadiah Natal dari Narcissa Malfoy tahun lalu yang belum sempat kupakai. Aku melapisinya dengan mantel bulu hitam panjang, lalu mengenakan syal abu-abu kashmir dan sepatu boots kulit naga setinggi lutut.
"Sempurna," puji Daphne saat melihat penampilanku. "Kau terlihat seperti bangsawan yang siap minum teh di tengah badai salju."
"Ayo," ajak Pansy yang sudah siap dengan penutup telinga bulu halusnya. "Para pangeran sudah menunggu."
Kami berjalan menuju ruang rekreasi umum.
Begitu sampai di sana, aroma kayu pinus yang terbakar di perapian menyambut kami. Blaise, Theo, dan Adrian sudah berdiri menunggu, tampak gagah dengan mantel musim dingin mereka.
Namun langkahku terhenti mendadak.
Di dekat perapian, berdiri Draco Malfoy. Ia sedang membetulkan sarung tangan kulitnya, namun bukan itu yang membuat napas di tenggorokanku tercekat.
Draco mengenakan celana bahan hitam yang pas kaki dan mantel hitam mahal yang kancingnya terbuka. Di balik mantel itu, ia mengenakan sweater rajut tebal berwarna biru dongker dengan garis perak di bagian leher dan lengan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Malfoy
Fanfiction"I want to make u mine in front of the world" -Draco Lucius Malfoy "And one day ur name didn't make me smile anymore" -Genevieve Eudora rosier- "to my dearest, draco malfoy" #1:mattheoriddle (20/05/2022) #1:Williamfranklynmiller(30...
