✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧
(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ¹⁸)
Previously
Aku melirik Riel yang duduk di sebelahku. "Kau yakin ingin ikut DA?" bisikku padanya.
Dia mengangguk dengan senyum kecil. "Tentu. Aku mungkin baru di Hogwarts, tapi aku tidak tahan melihat Umbridge semakin berkuasa."
Aku tersenyum, merasa lebih bersemangat. Dengan semua kekacauan yang terjadi, setidaknya kami masih memiliki harapan untuk melawan balik.
.....
Desember datang membawa selimut salju tebal yang membungkus Hogwarts dalam keheningan putih yang magis. Danau Hitam membeku menjadi kaca raksasa, memantulkan langit kelabu yang berat oleh awan salju. Angin musim dingin menderu mengelilingi menara-menara kastil, menciptakan siulan sendu di lorong-lorong batu.
Hari ini, kelas-kelas resmi diliburkan untuk persiapan liburan Natal. Namun, ketegangan di balik dinding batu ini tidak ikut berlibur.
Sudah hampir seminggu kami berlatih secara rahasia di Ruang Kebutuhan bersama Laskar Dumbledore. Kami belajar mantra Expelliarmus, Stupefy, hingga mantra Patronus yang rumit. Semangat perlawanan membara di antara kami, meskipun bayang-bayang Dolores Umbridge semakin memanjang dan mencekik.
Wanita berbaju merah muda itu seolah bisa mencium pemberontakan di udara. Ia menerbitkan Dekrit Pendidikan baru hampir setiap hari. Yang terbaru melarang segala bentuk perkumpulan siswa tanpa izin. Tidak hanya itu, ia juga membentuk Regu Inkuisitorial, sekelompok murid pilihan yang diberi wewenang istimewa untuk memata-matai dan menghukum sesama siswa.
Banyak anak Slytherin yang bergabung dengan bangga, mengenakan lencana perak kecil di jubah mereka seolah itu tanda kehormatan. Namun, aku sama sekali tidak tertarik menjadi mata-mata Umbridge.
Begitu pula dengan Draco. Meski banyak teman satu asramanya bergabung, termasuk Crabbe dan Goyle, ia menolak mentah-mentah dengan alasan kesibukan Quidditch. Tapi aku tahu alasan sebenarnya. Harga diri seorang Malfoy terlalu tinggi untuk menjadi kacung seorang birokrat Kementerian rendahan seperti Umbridge.
Pagi ini, kastil terasa lebih lengang. Sebagian besar murid, termasuk Cedric, Niko, dan Riel, memilih pulang ke Manor Rosier untuk liburan. Namun, aku dan Draco memutuskan untuk tetap tinggal di Hogwarts. Natal kali ini, kami ingin menikmatinya berdua, jauh dari politik keluarga dan tatapan menilai orang tua kami.
"Hey, Gene! Apa kau berencana tinggal di dalam lemari selamanya?"
Teriakan Pansy disertai ketukan keras di pintu kayu mahoni membuyarkan lamunanku.
"Draco sudah menunggumu dari tadi! Dia terlihat seperti akan meledak jika kau tidak segera keluar!"
Pansy, Daphne, Blaise, Tori, dan Adrian juga memutuskan untuk merayakan Natal di kastil tahun ini. Solidaritas asrama, kata mereka, atau mungkin hanya ingin menghindari acara keluarga yang membosankan.
"Ya, sebentar lagi!" balasku, merapikan mantel bulu putihku di depan cermin.
Aku menarik napas dalam, memastikan penampilanku sempurna, lalu membuka pintu.
Di ruang tengah asrama kami yang hangat oleh perapian sihir, teman-temanku sedang bersantai di sofakulit hitam. Pansy sedang memoles kukunya dengan warna merah darah, sementara Blaise dan Adrian bertaruh kartu Meledak dengan seru.
Draco berdiri di dekat jendela, memunggungi ruangan, menatap salju yang turun. Saat mendengar pintu terbuka, ia berbalik.
Wajahnya yang tadinya tampak bosan langsung berubah cerah. Matanya menyapu penampilanku dari ujung sepatu bot kulit naga hingga ke topi beret yang kukenakan. Senyum kecil yang miring dan menawan terbit di bibirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Malfoy
Fanfiction"I want to make u mine in front of the world" -Draco Lucius Malfoy "And one day ur name didn't make me smile anymore" -Genevieve Eudora rosier- "to my dearest, draco malfoy" #1:mattheoriddle (20/05/2022) #1:Williamfranklynmiller(30...
