✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧
(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ¹⁴)
Previously
Wajahnya sepucat Cedric, matanya liar karena panik dan ketakutan saat dia melihat apa yang kulihat. Dia segera memutar tubuhku, menarik kepalaku ke dadanya yang bidang, menghalangi pandanganku dengan jubahnya.
"Jangan lihat, Gene," bisiknya di rambutku, suaranya gemetar hebat, tangannya menekan kepalaku agar tetap bersandar padanya. "Demi Salazar, jangan lihat."
Aku mencengkeram jubah Draco, kakiku akhirnya menyerah, dan aku menangis di dadanya. Malam itu, Turnamen Triwizard berakhir bukan dengan pesta kemenangan, melainkan dengan kematian dan kebangkitan kegelapan. Dan di tengah lapangan yang kacau itu, dalam pelukan Draco yang erat, aku tahu perang telah resmi dimulai.
.......
Hogwarts Express melaju membelah dataran tinggi Skotlandia yang telah berubah menjadi lautan putih tanpa batas. Di luar jendela kompartemen, badai salju menderu, butiran-butiran es menghantam kaca dengan irama yang tak beraturan. Pemandangan di luar sana hanyalah kabut putih dan pepohonan cemara yang membungkuk menahan berat salju, sebuah lukisan musim dingin yang indah namun melankolis.
Di dalam, kehangatan sihir menjaga kami tetap nyaman, meski aku bisa merasakan hawa dingin merembes dari celah jendela. Aku duduk berhimpitan dengan Draco, sementara Niko, Pansy, dan Blaise mengisi sisi seberang.
"Lihat itu," gumamku pelan, jari telunjukku menelusuri pola bunga es yang terbentuk di sudut kaca jendela. "Sepertinya badai akan semakin buruk sebelum kita sampai di London."
"Baguslah," sahut Niko malas, merapatkan jubah wolnya. "Semakin banyak salju, semakin sedikit alasan bagi Father untuk menyeretku ke pertemuan bisnis membosankan."
Aku tertawa kecil, uap napas tipis keluar dari mulutku meski penghangat ruangan menyala. "Kau dan alasanmu. Padahal aku tahu kau rindu masakan rumah."
Draco, yang sejak tadi diam memperhatikan jemariku yang bermain di kaca, tiba-tiba meraih tanganku. Tangannya hangat, kontras dengan ujung jariku yang dingin. Ia menggenggamnya erat, menyelipkannya ke dalam saku mantelnya yang tebal.
"Kau kedinginan," bisiknya, matanya menatapku dengan sorot lembut yang selalu berhasil meluluhkan hatiku.
"Sedikit," aku mengakui, menyandarkan kepala di bahunya. "Tapi aku senang. Natal di Manor selalu spesial. Father bilang dia memesan pohon cemara Nordmann setinggi dua puluh kaki tahun ini."
Aku menatap teman-temanku dengan mata berbinar. "Kalian ingat janji kalian, kan? Besok malam. Christmas Eve Dinner di Rosier Manor. Jangan sampai ada yang absen karena alasan cuaca."
"Tenang saja, Gene," ujar Pansy sambil membetulkan syal bulunya. "Badai salju sekalipun tidak akan menghalangiku melihat koleksi perhiasan barumu."
"Aku akan datang," tambah Blaise, matanya melirik tumpukan salju di luar. "Asal perapian kalian menyala."
Kereta mulai melambat. Peluit berbunyi nyaring, membelah angin musim dingin. Kami tiba di King's Cross.
Begitu pintu kereta terbuka, udara beku London langsung menampar wajah kami. Lantai peron licin oleh lapisan es tipis. Orang-orang berlarian mencari kehangatan, mantel tebal mereka berkibar ditiup angin.
Draco membantuku turun, tangannya memegangi pinggangku agar aku tidak tergelincir.
Di tengah kerumunan yang menggigil, aku melihat mereka. Father berdiri tegak dengan mantel hitam panjang berbahan kulit naga, wajahnya kaku menahan dingin. Mum di sebelahnya tampak seperti ratu es dengan mantel bulu putih tebal dan topi bertepi lebar. Dan di samping mereka... berdiri sosok jangkung yang tak asing.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Malfoy
Fanfiction"I want to make u mine in front of the world" -Draco Lucius Malfoy "And one day ur name didn't make me smile anymore" -Genevieve Eudora rosier- "to my dearest, draco malfoy" #1:mattheoriddle (20/05/2022) #1:Williamfranklynmiller(30...
