Leaving him

338 25 0
                                        

✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧
(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ²¹)

Previously

Harry mengejarnya dengan penuh amarah, sementara Dumbledore dan Voldemort akhirnya bertarung di aula utama.

"Dia kembali..." ujar Menteri Sihir, Cornelius Fudge, dengan ketakutan.

Malam itu, tidak ada yang sama lagi.

.......

Kami semua kembali ke Hogwarts, dan Riel mengantarku hingga depan pintu ruang rekreasi.

"Sampai bertemu di kereta," ucapnya sambil melambaikan tangan padaku. Aku tersenyum padanya dan membalas lambaian tanganku.

Aku bergegas memasuki ruang rekreasi, karena besok kami semua akan kembali ke rumah masing-masing. Aku menyadari bahwa koperku belum juga terkemas, dan aku berencana mengajak Harry untuk menginap di Manor kami selama liburan ini.

Saat aku masuk, terlihat semua temanku sedang menungguku di sofa ruang rekreasi.

"Gene..." Pansy berlari menghampiriku dan langsung memelukku. Wajahnya terlihat merah, seolah habis menangis.

"Kau dari mana saja? Kami khawatirkan kamu!" ucap Daphne dengan nada khawatir.

"Aku baik-baik saja, lihat, tidak ada luka sedikit pun. Aku hanya ingin merapikan koperku dulu," jawabku dengan senyum kecil.

"Tidak perlu, kami sudah melakukannya untukmu. Kami tahu kau tidak akan sempat merapihkan semuanya, jadi kami yang mengurusnya," ucap Elle dengan senyum manis.

"Awww... kalian manis sekali. Terima kasih banyak!" Aku memeluk mereka satu per satu dengan hangat.

"Aku permisi dulu, aku ingin menghampiri Harry," ucapku, melepaskan pelukan mereka.

"Baiklah, kami akan menunggumu di kamar," ucap Tori, dengan senyum ramah.

........................

Saat aku baru saja keluar dari ruang rekreasi, terlihat Draco dan yang lainnya baru saja akan masuk.

"Gene... Bolehkah aku bicara sebentar denganmu?" ucap Draco, menarik tanganku pelan.

"Tentu saja, ada yang ingin aku tanyakan padamu," jawabku dengan nada serius.

Draco menarik tanganku menuju Menara Astronomi. Kami berjalan dalam keheningan beberapa saat, dan aku bisa merasakan ketegangan di udara.

"Untuk kemarin, aku ingin meminta maaf atas apa yang telah kulakukan padamu... Aku tidak bermaksud melukai perasaanmu," ucapnya, wajahnya terlihat penuh penyesalan.

"Lupakan saja, Draco. Itu sudah berlalu. Tapi ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu," jawabku, mencoba tetap tenang meski hatiku penuh emosi.

"Ya, kau bisa bertanya apa saja."

"Draco... Apa ayahmu seorang Death Eater?" Aku berbisik dengan hati-hati.

"B-bagaimana kau tahu?" tanya Draco, terlihat terkejut dan bingung.

"Kemarin, dia dan bibimu yang menyerang kami. Bibimu juga yang membunuh Sirius, ayah baptis Harry. Ternyata apa yang ayahku katakan tentang keluargamu itu benar... kalian berhianat," ucapku dengan suara bergetar. "Aku rasa aku sudah memutuskan tentang hubungan kita. Aku pikir kita harus mengakhiri semuanya. Aku ingin kita berpisah."

"Tidak, Gene! Kau tidak bisa melakukan ini! Kau sudah berjanji padaku bahwa kau tidak akan meninggalkanku!" Draco memegang tanganku dengan erat, suaranya penuh dengan keputusasaan.

Aku menatapnya, hatiku hancur melihat ekspresinya yang begitu tertekan. "Aku minta maaf, Draco. Tapi keputusanku sudah bulat," jawabku dengan suara pelan, namun tegas. Rasanya seperti ada batu besar yang menekan dadaku, namun aku tahu ini adalah langkah yang harus diambil.

Draco menatapku dengan mata penuh kesedihan, lalu ia menarik napas panjang. "Aku hanya punya satu permintaan... Bolehkah aku memelukmu?" tanyanya dengan lirih, suaranya bergetar.

Aku mengangguk perlahan. "Tentu."

Kami berpelukan lama, hampir lima menit. Waktu seakan terhenti saat itu. Draco berbisik pelan, "Aku sangat berterima kasih pernah memiliki dirimu." Suaranya hampir tidak terdengar, namun aku bisa merasakannya—setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh dengan penyesalan dan kesedihan yang dalam.

Aku tak bisa menahan air mataku yang jatuh perlahan. Aku memejamkan mata, berusaha untuk menyimpan kenangan ini dalam hati. Setelah beberapa saat, aku melepaskan pelukan itu dengan perlahan. "Selamat tinggal, Draco," bisikku, suaraku serak.

Draco tidak berkata apa-apa lagi, hanya menatapku dengan mata penuh rasa sakit, seolah tak percaya bahwa kami benar-benar akan berpisah. Aku melangkah mundur, dan saat aku berjalan menjauh, hatiku terasa hancur. Setiap langkah yang aku ambil semakin berat, seolah seluruh dunia berada di pundakku.

Aku menoleh sekali lagi, berharap aku akan melihat senyum di wajahnya, tetapi yang ada hanyalah kesedihan yang tak terucapkan. Aku tahu ini adalah keputusan yang benar, meskipun begitu sulit untuk dilakukan.

Setelah itu, aku berjalan menuju toilet perempuan di lantai dua, merasa perlu meluapkan semua perasaan yang terpendam. Sesampainya di sana, aku menangis sejadi-jadinya.

"Hari yang buruk lagi, ya?" Tanya Myrtle dengan suara halus.

"Aku baru saja putus dengan Draco..." jawabku dengan suara serak.

"Tak apa, kamu akan baik-baik saja. Suatu saat nanti, kamu akan bertemu seseorang yang lebih baik darinya," ucap Myrtle dengan lembut.

"Tapi tidak ada yang lebih baik darinya," balasku, air mataku semakin deras.

.....................

Aku mengusap wajahku, mencoba mengendalikan diri. Setelah beberapa saat, aku berjalan keluar dari toilet dan menuju ruang rekreasi Gryffindor.

"Gene? Kau mau masuk?" Tanya Dean saat melihatku.

"Tentu, terima kasih, Dean," jawabku sambil tersenyum sedikit, meski hatiku terasa berat.

Aku langsung mencari Harry. Terlihat Hermione sedang duduk di sofa, membaca buku.

"Mione!" teriakku, sedikit berteriak.

"Astaga, kamu mengagetkanku! Apa yang terjadi padamu? Matamu bengkak," ujar Hermione, khawatir.

"Aku tak apa-apa, hanya ingin bertemu dengan Harry. Di mana dia?" tanyaku.

"Sepertinya dia ada di kamar. Memangnya ada apa?" tanya Hermione, bingung.

"Aku ingin mengajaknya menginap di manor keluargaku selama liburan ini. Kalau dia kembali ke kediaman keluarga Dursley, itu hanya akan membuatnya semakin stres," jawabku, berharap Hermione mengerti.

"Ide yang bagus! Ayo, aku akan menemanimu," kata Hermione dengan senyum lebar.

Kami berjalan menuju kamar Harry, dan aku melihat Ron sudah tertidur pulas di atas tempat tidur, sementara Dean, Seamus, dan Harry sedang asyik mengobrol.

"Hey, Harry!" seruku dengan suara ceria.

"Oh, kau... Ada apa, Gene?" tanya Harry dengan heran.

"Aku ingin mengajaknya menginap di manor keluargaku untuk liburan kali ini. Apa kamu mau? Cedric juga akan menginap," ucapku dengan senyum kecil.

"Tentu saja, jika itu tidak merepotkanmu," jawab Harry dengan senang.

"Tak masalah sama sekali. Justru ayah dan ibu akan sangat senang jika kamu datang. Besok aku akan menunggumu di peron," kataku, merasa lega.

Hari itu pun berakhir dengan perasaan campur aduk. Namun setidaknya, aku tahu bahwa aku melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang ku cintai.

.................

My Dearest MalfoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang