✧༺ 𝓜𝔂 𝓭𝓮𝓪𝓻𝓮𝓼𝓽 𝓶𝓪𝓵𝓯𝓸𝔂 ༻✧
(ᶜʰᵃᵖᵗᵉʳ ¹¹)
Previously
"Cara yang sangat dramatis untuk bertanya, Tuan Malfoy," jawabku, meletakkan tanganku di atas tangannya. "Tapi tentu saja. Jawabannya ya."
Draco menghela napas lega yang luar biasa panjang. Ia menarikku ke dalam pelukannya, memelukku begitu erat hingga kakiku sedikit terangkat dari lantai. Di bawah naungan langit malam Hogwarts, di antara bintang-bintang yang berkilauan, aku tahu satu hal: tidak ada rumor, tidak ada Julian, dan tidak ada apa pun yang bisa memisahkan kami lagi.
......
Pagi itu, koridor Hogwarts yang biasanya ramai oleh celoteh siswa kini terasa asing dalam kesunyiannya. Cahaya matahari musim dingin yang pucat menyelinap malu-malu melalui jendela-jendela tinggi, memantulkan kilau dingin di lantai batu yang telah dipoles. Debu-debu sihir menari dalam sorotan cahaya, satu-satunya hal yang bergerak di lorong yang beku ini.
Hampir seluruh populasi sekolah sedang sibuk mempersiapkan diri untuk Yule Ball nanti malam. Di asrama-asrama, para gadis mungkin sedang panik mencoba mantra pelurus rambut, sementara para lelaki sibuk menyetrika jubah pesta mereka. Topik pembicaraan di setiap sudut kastil berputar pada warna gaun, pasangan dansa, dan ramuan penghilang jerawat instan.
Namun aku? Aku justru berjalan menjauh dari keriuhan itu.
Ada perasaan ganjil yang mengendap di dadaku, seolah aku terpisah dari euforia massa. Kakiku melangkah pasti menuju Training Pitch, didorong oleh kerinduan sederhana untuk melihat seseorang.
Begitu sampai di luar, udara Desember langsung menusuk kulit, dingin dan tajam. Namun, pemandangan di lapangan Quidditch cukup untuk membuatku lupa pada rasa menggigil.
Tim Slytherin sedang berlatih. Anehnya, mereka tidak sendirian. Tim Hufflepuff juga ada di sana, terbang bersisian. Pemandangan jubah hijau dan kuning yang berbaur di udara adalah sesuatu yang langka, mengingat rivalitas asrama yang biasanya kental. Mungkin semangat Natal atau gencatan senjata turnamen telah melunakkan hati para kapten.
Aku memanjat tribun penonton, memilih bangku kayu yang strategis meski permukaannya dingin oleh embun beku. Dari ketinggian ini, aku bisa melihatnya dengan jelas.
Draco Malfoy. Seeker Slytherin nomor punggung 7.
Rambut platinanya bersinar seperti perak di bawah matahari pagi, kontras dengan langit kelabu. Gerakannya di udara begitu lincah dan elegan, seolah sapu terbang itu adalah perpanjangan dari tubuhnya sendiri. Ia menukik tajam, berputar, dan melesat lagi dengan seringai lebar yang bisa kulihat bahkan dari jarak sejauh ini. Di udara, dia bebas. Dia hidup.
Aku menghela napas panjang, uap putih keluar dari mulutku. Menontonnya terbang selalu berhasil menenangkan badai di kepalaku.
"Permisi... apakah kursi ini kosong?"
Suara lembut dengan aksen yang halus membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh. Seorang gadis cantik berambut hitam panjang berdiri di ujung bangku. Wajahnya oriental, matanya ramah, dan ia mengenakan syal biru-perak Ravenclaw.
"Oh, tentu. Silakan," jawabku, menggeser dudukku sedikit untuk memberinya ruang.
Gadis itu duduk dengan anggun, melipat tangannya di pangkuan yang tertutup jubah tebal. Selama beberapa saat, kami hanya duduk dalam diam, sama-sama menatap ke arah lapangan di mana para pemain sedang melakukan manuver Wronski Feint.
"Kau sedang menunggu seseorang?" tanyanya tiba-tiba, memecah keheningan tanpa terasa mengganggu.
Aku tersenyum kecil, pandanganku kembali terkunci pada sosok berambut pirang di atas sana. "Ya. Aku menunggu kekasihku. Seeker Slytherin itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Malfoy
Fanfiction"I want to make u mine in front of the world" -Draco Lucius Malfoy "And one day ur name didn't make me smile anymore" -Genevieve Eudora rosier- "to my dearest, draco malfoy" #1:mattheoriddle (20/05/2022) #1:Williamfranklynmiller(30...
