Chapter 19

456 98 28
                                        

"Jadi apa penjelasan Bapak Esam sebagai orang yang kabur tanpa kabar?" tanya Sadewa memulai percakapan mereka.

Raesham berdeham. "Sebelumnya aku cuma bisa bilang maaf. Maaf kalau perbuatan aku buat kalian marah, merasa terkhianati, atau segala jenis hal buruk dan bahkan mungkin dari kalian siapa tau ada yang mau mukul aku. Ya aku cuma bisa minta maaf," jelas Raesham.

Raesham lalu menatap semua sahabatnya itu satu persatu. "Kalau ditanya alasannya aku nggak bisa jelasin karena yang pasti ada alasan besar yang bikin aku sampai nggak sempet menghubungi kalian, sekali lagi aku minta maaf. Tapi ya-" Raesham tersenyum. "Bisa-bisanya woy kalian satu kampus yang sama? Tau gitu aku masuk Unraj juga," kata Raesham lagi mencoba mencairkan suasana.

"Oke guys jadi permintaan maaf Raesham diterima nggak nih?" tanya Sadewa lagi-lagi mengambil alih.

"Diterima," sahut mereka kompak.

"Nah sekarang tinggal giliran Bapak Esam memberi keputusan apa bapak ingin kembali menjadi bagian Persatuan Bocah Bacot lagi apa nggak?" tanya Sadewa lagi.

"Ya... Karena sepertinya rules lama sudah dihapus dan kalau misalnya aku masih diizinin buat gabung ya aku masih mau lah jadi bagian dari kalian," jelas Raesham.

"Aing setuju Esam balik Perboba lumayan nanti dapet pasokan traktiran lagi," kata Orion sambil tersenyum lebar.

"Yang lain gimana?" tanya Sadewa yang dijawab anggukkan seluruh anggota.

"Oke jadi Raesham Septiano Wiharja dinyatakan menjadi anggota resmi Perboba lagi ya," kata Sadewa yang disambut tepuk tangan mereka.

"Karena rules yang dulu sudah dihapus kita buat rules baru dan rules itu adalah kalau ada apa-apa ayo sama-sama selesaikan bareng ya," ajak Sadewa.

"Nah rules barunya aku setuju banget!" kata Anin percaya diri.

"Dih Anin dih," cibir Diasta.

Sadewa lalu melirik Ghina dan Oliv. Rasanya seperti de javu tiga tahun yang lalu.

"Nah sekarang selagi ada Esam, Oliv sama Ghina barangkali mau ngomong sesuatu?"

Ghina dan Oliv saling siku menyiku agar salah satu dari mereka medahului yang lain untuk cerita. Ghina menyerah. Dia yang memutuskan untuk bercerita dahulu.

"Oke Sam... Jadi gini... Sebenernya... aku suka sama kamu pas zaman SMA. Kalau ditanya sejak kapan, kayaknya sejak kamu nolongaku waktu itu aku latihan Paskibra. Entahlah yang pasti aku suka sama kamu bahkan aku emang nggak dateng pas acara kelas di Villa kamu waktu itu ya karena aku nggak mau liat kamu sama Oliv deketan," jelas Ghina membuat semua langsung terkejut dengan fakta yang Ghina ceritakan.

"Tapi kalau sekarang ditanya masih suka atau nggak ya nggak tau soalnya kepergian kamu udah cukup mencoreng kamu di hati aku," kata Ghina yang dijawab anggukkan sementara oleh Raesham yang kemudian melirik pada Oliv.

"Kalau Oliv?"

"Aku... juga sama kaya Ghina. Aku suka kamu dan sekarang juga aku... nggak tau masih suka atau nggak," jelas Oliv.

"Jadi gimana tanggapan bapak Raesham atas hal yang sempat ke delay tiga tahun yang lalu ini?" tanya Sadewa.

"Aku cuma bisa balas makasih kalian udah bisa suka sama orang brengsek kaya aku ini. Jujur aku ya nggak kepikiran aja bisa begitu," Raesham tersenyum tulus. "Tapi soal balasan perasaan maaf aku nggak bisa. Aku belum bisa buka hati. Kayaknya kalaupun aku tau ini waktu dulu juga hal itu tetep sama nggak berubah, tapi sekali lagi aku menghargai perasaan kalian. Jadi kita tetap jadi sahabat yang baik aja ya?"

Oliv dan Ghina mengangguk kompak.

"Memang Raesham pesonanya nggak bisa ada yang ngalahin sih ya?" kata Raesham yang justru mencuri pandang pada Kala sementara sahabat-sahabatnya yang lain sibuk ingin melempar Raesham dengan segala macam benda yang ada.

BelofteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang