HANYA TIGA JAM SAJA

38 16 4
                                        

Dengan hati riang dan bangga karena telah mendapatkan uang cukup untuk membelikan mobil juga rumah pribadi untuk istrinya, Zahid pulang dari Singapur yang sebelumnya sudah memberitahu Ila melalui telepon. Di rumah, Ila juga menyambut kabar itu dengan senang hati. Dia melihat perubahan pada tatacara berbicara dan kesungguhan Zahid dalam menghadapinya. Ila bahagia karenanya.

Ketika Zahid sudah sampai di Batam dan mendapat sambutan dari Ila dengan sambutan yang melebehi hari-hari sebelumnya, Zahid beristirahat sejenak menikmati masakan Ila. Karena dirasa waktu masih baik untuk pergi ke showroom (deler mobil) mobil yang terkenal di Batam, Zahid pun mengajak Ila pergi ke sana.
Berbagai tipe dan merek mobil, ditawarkan oleh salah satu karyawan yang dengan sopan melayani Zahid dan Ila yang baru saja datang.

Oleh Zahid, Ila disuruh memilih mobil yang dia suka asal jangan yang terlalu mahal.
Dengan malu-malu, Ila menyusuri jalan yang tersedia dalam showroom mobil itu dengan harap dapat menemukan pilihan yang tepat, yang juga disukai Zahid.
Setelah beberapa menit mengitari ruangan yang menyediakan banyak pilihan mobil bagi pembeli, Ila kemudian menjatuhkan pilihannya pada salah satu mobil bermerek Ford Everest warna hitam. Zahid pun menyetujui pilihan Ila. Transaksi harga pun dilakukan. Harga deal, Zahid dan Ila pun langsung pulang dengan mobil barunya. Tentunya Zahidlah yang mengendarainya karena Ila belum bisa mengendarai mobil.

Kebahagiaan Ila saat itu tercapai. Mobil dan rumah pribadi sudah diberikan oleh suaminya. Dengan begitu Ila semakin yakin bahwa Zahid masih sangat mencintai dan menyanginya. Dan terbuktilah saat itu, Zahid semakin memperhatikan keadaan Ila. Banyak waktu terluah bersamanya. Namun, setelah enam bulan kehamilan Ila, Zahid mulai berulah lagi. Ila tidak tahu alasan Zahid berubah lagi.

Saat itu Ila sering disakiti lagi oleh Zahid. Pemukulan sering Ila dapati di tubuhnya kecuali di perutnya. Mungkin Zahid masih merasa takut untuk memukul perut Ila yang sudah besar. Ila sering ditinggal pergi hingga berhari-hari. Hingga akhirnya Ila mengalami stres berat. Usianya yang masih sembilan belas tahun sudah hamil dan sering mendapat siksaan dari suaminya.
Menginjak sembilan bulan kehamilannya, Ila merasakan sakit yang teramat di perutnya. Dia mengadukannya pada Zahid, namun Zahid tidak peduli. Zahid malah bersenang-senang di tempat hiburan.

Ila pun memutuskan untuk pergi ke rumahsakit sendiri. Walau Zahid tidak ada bersamanya, Ila masih bisa menghubunginya lewat handphone yang terus dibawanya. Namun sungguh mengherankan ketika Ila sudah akan dibawa oleh beberapa suster ke dalam ruang persalinan, Zahid datang. Zahid pun diijinkan ikut serta masuk ke dalam ruang persalinan atas permintaan Ila. Sekitar sepuluh menit Zahid berada di samping Ila yang sedang mangaduh kesakitan dengan posisi duduk. Ila tidak mau mengikuti saran dokter yang menanganinya saat itu. Alasan Ila tetap bersikeras duduk, dia ingin melihat anaknya saat keluar dari rahimnya.
Zahid yang saat itu gelisah entah memikirkan apa, dia meminta ijin keluar dari ruangan persalinan setelah mendapat telepon di handphonenya.

"Nak pi mane, Bang...?" (Mau kemana, Bang...?!) Tanya Ila dengan marah setelah terjadi tarik-menarik antara Ila dan Zahid yang hendak pergi tanpa alasan yang tidak diketahui Ila. Zahid tidak mau mendengarkan permintaan Ila agar Zahid menemaninya hingga lahir anaknya. Zahid terus memaksa pergi.

"Abang ade hal. Sat gi abang balek," (Abang ada urusan. Nanti Abang kembali lagi,) sahut Zahid ketika sudah terlepas dari pegangan tangan Ila dan mendapat pintu yang dibukakan oleh salah satu suster.

Dengan menangis Ila tetap duduk dan masih dalam penanganan dokter untuk mengeluarkan anak dalam rahimnya. Sambil menelepon Zahid, Ila terus mendapat panduan dari dokter yang menanganinya. Melihat tingkah laku Ila, dokter dan beberapa suster yang ada di ruangan itu terkadang tersenyum bahkan sampai tertawa.

Setelah selama sekitar satu jam Ila berusaha mengikuti instruksi dokter yang menanganinya, lahirlah anak Ila berkelamin laki-laki. Lega terasa bagi Ila yang baru pertama kali melahirkan anak. Ila langsung memberitahukan keberhasilannya
melahirkan anak pertamanya pada Zahid yang tak tahu sedang berada di mana dia.
Saat menelepon, Ila mendengar suara wanita di samping Zahid. Dan suara itu sangatlah Ila kenal. Namun Ila tidak begitu menghiraukannya ataupun mempertanyakannya pada Zahid.

Menara - Menara CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang