Malam yang tidak diisi acara oleh Fara, menjadikan suasana yang dirasakan sangat berbeda dari biasanya. Fara ingin menghibur Ila tapi Fara tidak tahu mesti menggunakan cara apa. Dia hanya duduk menemani Ila yang masih memurung.
Malam itu Fara ingin tidur berdua menemani Ila. Namun, syahwat kelainan jiwa Fara muncul ketika melihat Ila tidur telentang. Fara melihat Ila masih kedip-kedipkan mata teratur. Itu menandakan Ila belum tidur.
Untuk melanjutkan niatnya, Fara masih ragu akan ajakannya pada Ila akan diterima. Karena Fara tahu Ila bukan lesbian. Syahwatnya pun melemah ketika dia lelah menunggu Ila yang tidak juga memejamkan mata. Fara ingin memenuhi syahwatnya walau sekedar mendaratkan tangannya di dada Ila yang menjulang dengan pakaian kaosnya yang pendek. Fara pun kalah dalam penantiannya. Dia tertidur menghadap ke arah Ila.
Ila yang juga lelah dengan pikirannya yang diombang-ambing masa lalu dan pengandaiannya yang tak berujung usai, menjadikannya lelap dengan nafas teratur.
Di tengah malam Fara terbangun saat nafasnya beradu dengan nafas Ila. Posisi mereka berubah. Dari awal yang semula sama-sama berada di tepi dipan berjauhan, saat Fara terbangun, mereka sudah berbentur, beradu wajah di tengah-tengah dipan yang berkasur bagus dan berhias serasi dengan tataan ruangan yang tampak jelas mewahnya.
Fara mencoba melawan keinginannya untuk meneruskan syahwatnya. Dia pungkiri Ila dengan membelakangi Ila. Namun syahwatnya membuatnya gelisah.
Dihadapkannya lagi pandangannya pada wajah Ila dan seluruh lekuk tubuh Ila yang sedang tidur miring ke kiri. Ditahannya kembali syahwatnya itu. Fara menelentang untuk mengatur deguban jantungnya yang kuat mendorong seolah ingin membongkar dadanya. Hingga berulangkali Fara menoleh pada Ila yang tetap diam tak bergeming.
Dan keberanian Fara pun ada ketika Ila bernafas kuat seolah mendengar bisikan syahwat Fara yang menginginkannya.
Dengan perlahan Fara mendekatkan tubuhnya ke tubuh Ila. Dengan wajah saling berhadapan. Lantas disentuhkannya bibir di dahi Ila. Entah karena kelelahan yang teramat, ciuman itu tidak membuat Ila membuka mata. Fara tidak menyinggungkan bibirnya yang sudah dibasahinya dengan ludahnya ke bibir Ila yang tampak kering. Fara langsung mengarahkan keberanian ciumannya pada bagian atas dada Ila yang memang terbuka oleh lingkaran leher kaosnya yang tidak sempurna menutupi.
Dua keberanian Fara yang dia wujudkan dari bibirnya yang berupa ciuman dianggapnya telah memenangkan terhadap kekhawatirannya jika Ila sampai terbangun. Keberanian ketiganya pun Fara wujudkan berupa rabaan tangannya pada paha Ila hingga menelusuk di perut Ila dengan menyingkap kaos yang menutup. Di sanalah Fara berdebaran, ketika keberaniannya itu membuat Ila bergeliat merubah posisi tidurnya menjadi telentang. Diistirahatkannya sejenak keberaniannya untuk memenuhi syahwatnya yang semakin menjadi. Fara menyusun cara lagi untuk dapat menaklukkan Ila yang memang sedang tak memberikan perlawanan.
Dan keberanian keempat pun membulat yang lantas Fara gerakkan tangannya untuk menjatuhkannya di julangan dada Ila yang terpompa naik-turun oleh kembang-kempisnya paru-paru di kedua rongga dadanya. Di sanalah tangan Fara bak meteor yang jatuh di bukit pasir. Berdentum hingga membuat pasir berhambur-hambur. Dan getarannya membuat Ila tersentak bangun dari alam tidurnya.
"Ade ape, Far?!"
(Ada apa, Far?!) Tanya Ila kaget ketika mendapati tangan kanan Fara meremasi julangan dadanya. Dengan cepat Ila menggeser badannya untuk menghindar dari tangan Fara.
"Tak payah takot, La. Ai cume nak sampaiken rase sayang ai kat awak,"
(Jangan takut, La. Aku hanya ingin menyampaikan rasa sayangku padamu,) jawab Fara yang tidak ingin mematikan syahwatnya yang sudah menyebar di syaraf-syaraf keterangsangannya.
"Saye tak nak lakukan ape yang awak lakukan bersame pempoan kesayangan
awak tu, Far."
(Saya tidak mau melakukan apa yang kamu lakukan bersama wanita kesayanganmu itu, Far). Ila bangkit dari berbaringnya dengan duduk membelakangi Fara yang sepertinya ingin memaksakan kehendaknya.
"La, kasehkan ai penyegar kat panasnye ai ni. Ai sangak butohkan awak buat padamkan panasnye gejolak ni. Mari, La...."
(La, berilah aku penyegar pada kepanasanku ini. Aku sangat membutuhkanmu untuk memadamkan panas birahi ini. Ayolah, La....). Fara terus berusaha dengan mendekati Ila dan merayu Ila yang duduk mendiam oleh rangkulan tangannya.
"Tak nak, Far...."
(Jangan, Far....). Pinta Ila melarang Fara ketika tangan Fara menelusuk masuk ke dalam kaos Ila.
"La, ai mohon.... Tak payah pi turoti ape yang ai nak ni,"
(La, aku mohon.... Jangan tolak permintaanku ini,) Fara tidak memberi kesempatan pada Ila untuk menghindar lagi darinya.
Pada akhirnya Ila pun mengikuti kemauan Fara setelah mempertimbangkannya. Ila membiarkan Fara menguasai tubuhnya. Karena Ila tidak ingin membuat Fara kecewa, Ila pun melakukan seperti apa yang Fara lakukan padanya.
Sangat lama mereka melakukan percumbuan itu. Walau Ila terkadang merasa geli dengan apa yang dilakukannya pada Fara, Ila tetap memainkan perannya untuk bisa memberikan kepuasan pada Fara. Ternyata sesuatu yang tidak diinginkannya terjadi juga saat itu. Dia puas oleh Fara, dan Fara pun puas olehnya.
BERSAMBUNG....
KAMU SEDANG MEMBACA
Menara - Menara Cinta
RomanceCerita tentang percintaan yang kompleks dan jarang terjadi dalam kehidupan. Seorang wanita desa yang tangguh bersama lika-liku kehidupannya menjadikan cerita ini seru karena undakan-undakan ataupun tangga-tangga susah-senangnya mampu dia lewati deng...
