Malam sesuai dengan pemberitahuan Yusuf, Ila diberangkatkan ke Singapura.
Hanya setengah jam perjalanan udara dari Bandara Senai, Ila telah sampai di Bandara Internatioanal Changi Singapura.
Di Bandara Changi Singapura, Ila langsung mendapatkan jemputan dengan mobil super mewah untuk kemudian menuju rumah Fara.
Di rumah yang sangat megah dan sangat indah, Ila diturunkan. Ila kemudian mendapat sambutan dari Fara.
Di sana, Ila melihat banyak wanita yang mungkin memang ditugaskan untuk berjaga-jaga. Tidak ada laki-laki satu pun kecuali sopir yang menjemput Ila ke bandara.
Ruangan yang sangat luas dan banyak dihiasi accessories (hiasan) menjadikan ruangan semakin gagah menggelut penghuninya untuk menyatakan pengakuan 'Wah!' padanya. Tak luput pula Ila yang saat itu digelut oleh mewahnya tempat tinggal Fara. Dia terkagum-kagum dengan apa yang dilihat dan dirasakannya hingga senyum Fara menjadikannya malu untuk tatapkan matanya menyisiri ruangan itu.
"Ila, mulai saat ni awak dah jadi bodyguard ai. Letakkan barang awak tu kat bilek spesial awak. Jom, ai antar...!"
(Ila, mulai jam sekarang kamu menjadi bodyguardku. Taruhlah dulu barang bawaanmu itu ke kamar khususmu. Ayo, aku antar...!) Kata Fara setelah dirasa cukup mengajak Ila mengobrol di ruang tamu.
Dengan tidak menjawab, Ila mengikuti kemana arah Fara berjalan dan berhenti di kamar yang sudah terbuka pintunya dengan sendirinya ketika Fara menepukkan kedua tangannya dua kali.
"Cobelah masok! Awak kat sini boleh gunekan ape saje yang awak nak buat keperluan awak. Kat sane ade peti senjate yang dapek awak gunekan ketike awak butohkannye. Bilek ni adaleh bilek bodyguard ai dulu. Ia dah ai bunoh sebab ia dah khianat kat ai. Jadi ai nak, awak tak lakuken hal bodoh yang dapek rugiken nyawe awak sendiri. Yang penting awak turoti je perintah ai. Okey...?!"
(Silahkan masuk! Kamu di sini bisa pergunakan apa saja yang kamu mau untuk keperluanmu. Di sana ada peti senjata yang bisa kamu pergunakan saat kamu membutuhkannya. Kamar ini adalah kamar bodyguardku dulu. Dia sudah aku bunuh karena telah mengkhianatiku. Jadi aku harap, kamu tidak melakukan hal bodoh yang dapat mengancam nyawamu sendiri. Pokoknya kamu ikuti saja perintahku. Okey...?!)
Dengan hanya menganggukkan kepala, Ila memberikan isyarat bahwa dirinya siap menjalankan tugasnya.
"Sebelom awak ikot ai, sebaeknye awak tukar pakaien. Kat lemari tu dah siap pakaien yang akan buat awak lebeh seram. Jike pangkasan rambot awak tu, ai dah suke. Tinggak sikap dan care kenakan pakaien awak korang cocok buat ai, maseh tak sepadanlah."
(Sebelum kamu ikut denganku, sebaiknya kamu ganti pakaian dulu. Di lemari itu sudah disediakan pakaian yang akan membuatmu lebih tampak sangar. Kalau potongan rambutmu, aku sudah suka. Tinggal sikap dan caramu berpakaian masih kurang cocok menurutku, masih terlihat loyo).
Setelah Ila melihat pakaian-pakaian yang disediakan, semua tidak ada yang dia sukai, akhirnya Ila memutuskan untuk tidak berganti pakaian. Dengan berani dan dengan alasan yang tepat, Ila pun diijinkan mulai bertugas walau tanpa mengenakan pakaian yang ditekankan oleh Fara pada bodyguard-bodyguardnya.
Malam itu juga Ila sudah mendapat tugas untuk menjaga Fara di dalam kamarnya. Di dalam kamar itu, Ila tidak sebegitu tegang seperti wanita-wanita yang menjaga di luar rumah. Mereka terus berdiri, sedangkan Ila tidak. Ila bisa duduk-duduk santai di sofa pribadi Fara yang sangat nyaman diduduki. Sesekali Ila juga melihat acara televisi yang sedang ditonton Fara. Layar televisi yang begitu besar dengan suara soundnya yang begitu mantap, membuat suasana seperti di bioskop. Mungkin itulah yang dinamakan home theater menurut Ila.
Malam semakin mengajak mata untuk mengantuk. Tapi karena Ila sudah terbiasa membuka mata di malam hari bahkan hingga pagi hari, saat itu Ila tidak rasakan kantuk sama sekali. Hanya saja Ila mengalihkan perhatiannya dengan memakan
camilan dan meminum minuman yang ada di dekatnya karena Fara mengarahkan channel televisi yang dilihatnya ke channel yang berisi film-film sex. Itu pun film yang tidak wajar menurut Ila. Film sex yang ditonton oleh Fara adalah film sex lesbi, sesama wanita sedang saling memuaskan birahi yang mereka punya.
Dan yang membuat Ila bertambah heran ketika dia melihat Fara tanpa malu-malu meremasi buah dadanya sendiri yang masih rapi terbungkus kutang dan baju tidurnya yang berbahan kain sutra.
Lagi-lagi Ila mengalihkan perhatiannya dengan camilan yang masih banyak tersedia di meja yang sejajar dengan tinggi sofa yang didudukinya. Namun sesekali Ila masih saja penasaran dengan apa yang dilakukan Fara. Saat itu Ila mulai menyaksikan Fara menyingkapkan bagian bawah baju tidurnya sehingga pahanya ditebari cahaya televisi yang berhadapan dengannya. Tanpa menoleh dan tanpa takut ketahuan Ila, Fara mengusap-usap kemaluannya bahkan hingga dia memasukkan jari tangan kirinya. 'Masturbasi,' mungkin kata Ila begitu dalam batinnya.
Sekitar setengah jam Ila banyak melirik apa yang dilakukan Fara. Entah Fara sudah puas dengan masturbasinya atau entah sudah bosan dia dengan apa yang dilakukannya, tiba-tiba dia mematikan televisi dan langsung tidur tanpa berkata apa pun pada Ila yang tetap duduk di sofa dengan camilannya yang ia kunyah seredam mungkin. Bagai rayap yang berpesta kayu ataupun segala sesuatu yang ia gemari ketika malam hari. Untuk ke kamar mandi pun, Ila sangat berhati-hati dalam bergerak. Dia tidak ingin menimbulkan suara keras yang mungkin akan dapat mengganggu Fara yang saat itu sudah menjadi majikannya.
Ila yang berusaha kuat untuk menahan kantuk, di sepertiga malam terakhir, saat itu dia tertidur. Dia lupa akan tugasnya sebagai bodyguard. Tugas bodyguard tidak ada lagi dalam alam mimpi yang dia huni saat itu. Hingga pagi, barulah Ila tersentak bangun. Namun dia merasa beruntung karena Fara belum bergerak dari empuk springbed yang memanjakannya dalam tidur.
BERSAMBUNG....
KAMU SEDANG MEMBACA
Menara - Menara Cinta
RomanceCerita tentang percintaan yang kompleks dan jarang terjadi dalam kehidupan. Seorang wanita desa yang tangguh bersama lika-liku kehidupannya menjadikan cerita ini seru karena undakan-undakan ataupun tangga-tangga susah-senangnya mampu dia lewati deng...
