Shubuh, kala dingin embun merambah di kulit bumi, Ila terkejut ketika melihat neneknya bak kerangka layangan yang tak bersendi. Tubuh neneknya kaku. Tiada hembus nafas. Kedua matanya pun tertutup-terkatup.
"Mak," panggil Ila pada neneknya yang melentang kaku tetap dengan selimut menutup. "Mak...," Ila mengulang panggilannya ketika tangannya menyentuh salah satu tangan neneknya terasa anyep (dingin). "Mak, kenapa...?"
Karena tidak ada jawaban sama sekali dari neneknya dan juga merasa ketakutan, Ila pun menuju kamar bapaknya dan membangunkannya. Ila memberitahukan perihal tentang neneknya pada bapaknya yang masih menggeliatkan tubuh agar penat di uratnya tidak melekat.
Tanpa banyak tanya, Bapak Ila langsung bergegas menuju ke kamar ibunya berada ketika mendengar pemberitahuan Ila.
Setelah masuk kamar dan mengetahui keadaan ibunya, kemudian Bapak Ila melihat ke arah Ila yang duduk di samping neneknya.
"La, nenekmu sudah meninggal." Kata Bapak Ila dengan perlahan.
"Apa, Pak...?! Mak meninggal...?!" Tanya Ila dengan terperangah.
"Iya."
"Padahal tadi malam masih ngomong-ngomong kok, Pak." Seolah Ila tak percaya dengan pemberitahuan bapaknya.
Dengan tidak berjerit histeris ataupun tangis, Bapak Ila sebagai laki-laki terus menghela gemuruh rasa kehilangannya akan ibunya. Namun tidak pada Ila. Ila tidak sanggup menyumpat dengan kuat kelenjar airmatanya. Berjatuhan tetesnya, hangat. Bening ingus yang mengalir terkadang dihirupnya kuat. Terkadang pula disekanya kedua hangat cairan itu dengan kain baju di lengannya yang panjang. Berbercak, menyerap.
Rambahan embun kala pagi itu tidak mampu meremas tubuh Bapak Ila dan Ila untuk rasakan kedinginan karena batin, organ, serta sel-sel mereka sedang bergejolak, berdetak kuat dengan desiran darah yang santer (mengalir kuat/deras).
"La, sana kamu sholat dulu. Biar aku yang jaga di sini. Kalau sudah selesai, cepat kesini lagi. Aku akan mengabarkannya pada tetangga-tetangga dekat atas kematian nenekmu."
"Iya, Pak."
Setelah mendapat saran dari bapaknya, Ila pun mandi juga bersuci diri yang diteruskan sholat Shubuh yang hampir habis waktunya saat itu. Dengan menyegerakan apa yang sedang dikerjakannya, Ila ingin cepat-cepat menemui bapaknya yang duduk jagai jasad ibunya.
"Pak, sekarang biar Ila yang gantikan jaga. Bapak sholat dulu sebelum pergi." Kata Ila setelah menemui bapaknya yang membisu bersama jasad ibunya yang memang sudah dibisu-matikan.
"Iya, La. Jaga nenekmu dulu. Bapak mau mengabarkan ke tetangga-tetangga."
Bergegaslah Bapak Ila keluar kamar dan menunaikan apa yang ada dalam instruksi hatinya. Dia tidak mengikuti saran anaknya, melainkan langsung menuju rumah tetangga-tetangga untuk memberitahukan kematian ibunya.
Tak lama kemudian, rumah yang semula hanya dihuni oleh Nenek Ila, Bapak Ila, juga Ila, namun pagi kali ini ramai dikerumuni oleh warga yang ingin menyampaikan rasa belasungkawa.
Pagi itu juga, sebagian warga pun mempersiapkan sesuatu yang diperlukan dalam acara pemakaman jasad Nenek Ila.
Sekitar pukul sembilan pagi saat itu, jasad Nenek Ila pun sudah siap untuk dimakamkan setelah disholatkan di masjid terdekat.
Turut serta saat itu paman, bibi, juga saudara-saudara dari keluarga Paman dan Bibi Ila. Mereka juga menghadiri lawatan itu.
Di acara pemakaman neneknya, Ila berulang kali mendapatkan lirikan dari paman dan bibinya yang seoalah senyumkan kemenangan, karena dengan tiadanya neneknya, mereka akan lebih leluasa untuk menyakitinya dan mempermudah untuk mengusirnya dari rumah neneknya.
Acara pemakaman pun selesai. Dan acara selamatan yang diadakan pun berjalan dengan sederhana.
Setelah tujuh hari dari meninggalnya Nenek Ila, Paman dan Bibi Ila sering mengungkit masalah warisan. Sehingga membuat emosi Bapak Ila melonjak dari tempatnya disimpan. Bapak Ila dan kedua adiknya pun berselisih. Mereka
masing-masing mengutarakan apa yang ada dalam pemahamannya. Terus, hingga akhirnya Ila datang dengan memberikan solusi yang sangat diharapkan datangnya oleh paman dan bibinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Menara - Menara Cinta
RomanceCerita tentang percintaan yang kompleks dan jarang terjadi dalam kehidupan. Seorang wanita desa yang tangguh bersama lika-liku kehidupannya menjadikan cerita ini seru karena undakan-undakan ataupun tangga-tangga susah-senangnya mampu dia lewati deng...
