Setengah hari setelah perjumpaan dengan pemuda bernama Faruk, Ila sering mendapatkan pesan di handphonenya oleh pemuda itu. Dengan memberikan balasan sekedarnya, Ila tidak ingin menyakiti perasaan Faruk yang saat itu dia mengutarakan perasaan bahwasannya dia masih sangat mencintai Ila.
Sedangkan perasaan Fara setelah berjumpa dengan Faruk, dia sering gelisah. Pikirannya sering tertuju pada Faruk yang tidak begitu dia kenal. Entah perasaan apa yang ada dalam hati Fara sehingga terkadang Fara tersenyum sendiri dengan apa yang sedang ada dalam lamunannya.
“La, jom pi kat bukik kat sane tu…!”
(La, yuk jalan-jalan ke bukit di sana itu yuk…!) Ajak Fara yang sedang ingin jalan-jalan lebih jauh lagi dan ingin menikmati suguhan pemandangan alami di daerah Ila.
“Nak ape kat sane, Far?”
(Mau apa ke sana, Far?) Tanya Ila yang tampak tidak begitu setuju dengan ajakan Fara.
“Ai nak tengok cam mane huten yang ade kat sini. Ye sambek lalu berburu hewan yang dapek disantap dengan lezatlah, La. Kite bawe rempah penyedap kat rumah, sat jike dapek hewan buruan, kite bakar kat sane dan kite lahap kat sane juge. Tu mesti ingakkan mase lampau ai mase remaje, saat bermude ramai-ramai.”
(Aku ingin melihat keadaan hutan yang ada di sini. Ya sambil lalu berburu hewan yang enak di makan dong, La. Kita bawa bumbu penyedapnya dari rumah, nanti kalau dapat hewan buruan, kita bakar di sana dan kita makan di sana. Itu pasti akan menggugah kenanganku dulu sewaktu remaja, kemah bersama teman-teman). Jawab Fara panjang.
“Ye dahlah esok je. Namon saye takuk dan tak dapek berburu, Far.”
(Ya sudah besok saja. Tapi saya takut dan tidak bisa berburu, Far).
“Ape pasal ni awak takuk ke, La?”
(Masak kamu takut, La?)
“Ye takuklah. Dulu, kate opa, kat sane banyek hewan buasnye.”
(Ya takutlah. Dulu, kata nenek, di sana banyak hewan buasnya).
“Cam ni je, cam mane jike kawan awak yang kite jumpe sat pagi kite ajak bersame? Mongkin ia lebeh tau tempat kat bukik tu dan ia pandai berburu,”
(Begini saja, bagaimana kalau teman kamu yang bertemu tadi pagi kita ajak? Mungkin dia lebih tahu daerah di bukit itu dan pandai berburu,) Fara mengusulkan karena memang itu adalah rencana Fara untuk bisa bertemu lagi dengan Faruk.
“Si Faruk yang awak maksod ye, Far?”
(Si Faruk maksudmu ya, Far?) Tanya Ila untuk memastikan orang yang dimaksudkan dalam usulan Fara.
“Iye, La. Cam mane…? Awak tau tak nomor handphonenye? Jike tau telepon je saat ni. Supaye esok ia dapeklah siapkan segale yang nak dibawe buat berburu.”
(Iya, La. Bagaimana…? Kamu tahu tidak nomor handphonenya? Kalau tahu hubungi saja sekarang. Biar dia bisa persiapkan segala sesuatunya untuk berburu).
“Ade. Petang tadi ia dah telepon saye.”
(Ada. Tadi siang dia langsung hubungi saya).
Ila pun menghubungi Faruk sore itu juga. Dengan rasa malu dan sungkan, Ila langsung mengutarakan tujuannya menelepon saat teleponnya sudah diterima oleh Faruk. Dan ajakannya langsung mendapatkan sambutan baik dari Faruk. Faruk menyanggupi ajakan itu dengan gembira. Faruk merasa senang karena dia akan dapat merasa dekat dengan Ila.
Malam yang memberi jarak waktu jadwal penentuan berangkatnya perjalanan ke bukit yang tidak begitu jauh dari rumah Ila menjadikan ketiga insan itu masing-masing memiliki hayalan-hayalan yang berbeda tentang apa yang akan mereka lakukan. Namun Ila tidak begitu memperdulikan tentang rencana yang telah disepakati. Ila masih disibukkan dengan keinginannya untuk mencurahkan kasihsayangnya pada kedua anaknya yang sudah lama ia tinggalkan. Ila sering menghabiskan waktunya bersama kedua anaknya tersebut.
Fara yang sudah diberitahu nomor handphone Faruk oleh Ila, dia juga sibuk dengan keinginannya untuk menghilangkan rasa gelisahnya saat terbayang-bayang wajah Faruk. Tampaknya Fara menaruh simpati pada Faruk.
Dan waktu berangkat memburu pun tiba. Ila dan Fara sudah bersiap diri tinggal menunggu Faruk yang masih dalam perjalanan.
Wajah Faruk pun muncul. Dia mendapatkan sambutan langsung dari Fara yang sedang duduk-duduk di balai-balai depan rumah. Sedangkan Ila masih sibuk mengurus kedua anaknya untuk mandi dan sarapan pagi.
Dengan peralatan memburu berupa senapan laras panjang, Faruk ingin menjadikan perburuan dirasa memuaskan.
Sambil menunggu Ila keluar dari dalam rumah, Fara menyempatkan banyak mengobrol dengan Faruk yang dengan semangat menceritakan pengalamannya dalam berburu. Dengan senapan laras panjangnya itu Faruk sering mendapatkan hasil buruan yang cukup banyak. Dan karena keahliannya dalam menembak, Faruk kemudian mendapatkan kepercayaan di tempat kerjanya untuk menjaga kebun kelapa sawit milik salah satu orang yang dianggap kaya di daerahnya karena kebun kelapa sawitnya sering dirusak oleh kera-kera dan hewan perusak lainnya.
Meraka pun berangkat. Karena perjalanan akan menuju bukit yang berhutan, Ila tidak membawa kedua anaknya. Sehingga ibu tirinyalah yang menjaga mereka di rumah.
Dengan membawa motor laki engine, Ila dan Fara berdesakan diboncengan Faruk. Dengan roda motor yang bergigi besar, cocok untuk dikendarai ke daerah bukit yang menanjak.
Sekitar sepuluh menit mereka telah sampai di pinggir hutan. Distandarkanlah motor Faruk di bawah pohon yang kemudian ditinggalkannya. Berjalan perlahan dengan pandangan mata yang berpencar untuk mencari sasaran, mereka lakukan bersama. Seolah mereka membagi tugas dalam pencarian buruan.
Dengan tidak banyak bercakap, mereka menseriuskan perburuan. Tidak terlalu
dalam masuk ke hutan, Faruk telah mendapatkan buruannya berupa burung dan kelinci.
Di sanalah Fara memuaskan dirinya untuk bisa dekat dengan Faruk. Sedangkan Faruk sering mengarahkan perhatiannya pada Ila yang semenjak dulu ia cintai.
Mereka pun keluar hutan dan mencari sungai. Karena Faruk begitu kenal dengan daerah di sana, dia pun tanpa bertanya-tanya langsung membawa Ila dan Fara menuju sungai.
Di sungai yang dangkal dangan air yang jernih juga pemandangan batu-batu yang menambah keindahan alam, menjadikan Fara termanjakan dengan pemandunya yang tahu seleranya. Lain halnya dengan Ila. Dia sudah banyak menikmati keindahan pedesaan. Apalagi keindahan sungai. Jadi menurut Ila pemandangan saat itu dalam anggapannya hanya biasa-biasa saja.
Faruk yang tahu akan tujuannya mengajak Fara dan Ila menuju sungai langsung mengerjakan tugasnya. Faruk langsung mencari bahan bakar berupa ranting-ranting kering. Dia juga membersihkan burung dan kelinci hasil buruannya dengan air sungai setelah bersih dari bulu dan isi perutnya.
Ila lantas mengeluarkan bumbu siap pakai yang dibawanya. Setelah daging burung dan kelinci bersih dan dibaluri bumbu, Faruk memanggangnya di atas api yang sudah dinyalakannya di tumpukan ranting-ranting yang telah dikumpulkan. Kegembiraan dan kepuasaan mereka saat itu tampak terserap kuat dalam memori mereka sehingga tidak akan mudah terlupakan.
Fara yang telah terayu oleh kejernihan dan kesegaran air sungai yang memanggil-manggilnya dengan gemericiknya, ia lantas menyentuhkan kaki, tangan dan wajahnya pada aliran sungai. Yang kemudian diikuti Ila dan Faruk yang ingin membersihkan diri dari kotoran yang menempel di tangan dan wajahnya.
Puaslah hari itu Fara dengan sajian alam pedesaan. Begitu pula Ila dan Faruk yang merasa puas telah menjadi tuan rumah yang ingin memberikan sesuatu yang terbaik pada tamunya. Dan mereka pun pulang dengan canda tawa. Kasta tidak lagi mereka perdulikan. Yang ingin mereka capai saat itu adalah kegembiraan hati.
BERSAMBUNG....
KAMU SEDANG MEMBACA
Menara - Menara Cinta
RomanceCerita tentang percintaan yang kompleks dan jarang terjadi dalam kehidupan. Seorang wanita desa yang tangguh bersama lika-liku kehidupannya menjadikan cerita ini seru karena undakan-undakan ataupun tangga-tangga susah-senangnya mampu dia lewati deng...
